MIP Batch#2 week-5

Resume Review NHW dan Diskusi Week-5

Resume Diskusi
Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #5
BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR
Tanggal : 15 Nopember 2016
Waktu : Pkl. 19.30 – 20.45 WIB
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

1.Ibu Yuyun – Serang
A. Anak sulung saya perempuan, senang dengan membaca cerpen atau buku KKPK usianya 9 tahun harapan saya agar dia bs lbh terarah, saya memasukan dia ke kelas menulis setiap hari ahad, apakah sikap saya tersebut terlampau memaksa atau terlalu dini?
Saya merasa tdk mumpuni mengajarkan dunia tulis menulis jd saya ikutkan kls tersebut dgn ahlinya,

B. Saya selalu menyampaikan dr sekarang , ke anak perempuan yg ke 1 usia 9 tahun yang ke 2, 7 tahun tentang profesi yg sebaiknya di pilih oleh anak perempuan yg sesuai dgn kodrat dan fitrahnya, apakah sikap saya tsb membatasinya atau gimana sebaiknya, krn sy tdk ingin kelak apa yg ia pelajari tdk di amalkan ketika berumah tangga atau masa depannya,
Sehingga saya membatasi seperti ini,
Wajib:
hafal quran,
menguasa bahasa arab dan inggris
keterampilan perempuan
Untuk pilihannya saya menekankan yg sesuai dgn kodrat dan fitrah perempuan, dan bs maksimalkan waktu dgn anak anakny nanti
Apakah cara saya tsb terlalu dini atau tdk tepat?
Mhn masukan dan koreksinya
Syukron🙏🙏

Jawab :
A. Bu Yuyun, jika Ananda sudah terlihat senang membaca buku dan senang juga menulis, maka cara ibu memasukkan ke kelas menulis sudah tepat. Tinggal ditemani saja prosesnya. Banyak dipertemukan dengan penulis-penulis dst.

B. Tepat sekali Bu Yuyun, tanamkan dalam pikiran Putri ibu dari sekarang profesi2 yg cocok untuknya kelak yang tidak membuat ia terlalu banyak meninggalkan keluarga dan anak2. Sehingga ia bisa maksimal mendidik anak2nya kelak. Fitrahnya ibu memang berperan dominan di ranah domestik KECUALI jika kehidupan ‘mengharuskannya’ berperan juga di ranah publik. Tapi kita sudah menanamkan jauh2 hari bahwa baginya anak dan keluarga adalah amanah utama.

2.Ibu Nurrita Dewi – Serang
A. Saya masih bingung tentang membuat kurikulum unik untuk anak, mohon penjelasannya
B. Contoh mengembangkan struktur berpikir itu kayak gimana ya
C. Untuk anak usia 0-8 tahun gimana caranya mengetahui apa yang mereka minati karena sepertinya masih berubah-rubah

Jawab :
A. Kuncinya ada di 3 tahap Bu Nurrita; banyak mengamati, banyak terlibat dan banyak melihat dan mendengarkan anak.
Jika ketiga hal tadi sudah dijalani insya Allah ketemu kurikulum unik in side out anak. Anak sebagai pembelajarnya dan kita menjadi fasilitatornya. Memfasilitasi keingintahuan anak. Memfasilitasi rasa penasaran anak.

B. Contoh mengembangkan struktur berpikir anak: saat di jalan bertemu poster rokok. Jika anak tidak bertanya saya yg membuka pertanyaan. Wah ada gambar besar sekali. Rokok! Aa tau ga rokok? (What) lalu dijawab. Kalai sudah besar aa mau merokok? Kenapa? (Why), rokok bahaya memangnya dibikin dari apa sih?(how)…dan seterusnya Bu. Dari pertanyaan2 ini struktur berpikir (akal) anak sangat dilatih untuk kritis. Bukan hanya menerima apa yg ia dengar. Yang kelak rentan menjadikan ia hanya pengekor saja. Bukan orang yang bertindak secara pertimbangan akal yang matang.

C. Perbanyak jalan2 Bu. Ajak bertemu dengan ragam aktivitas dan profesi plus orang yg bahagia dengan profesinya. Sehingga anak punya banyak referensi untuk hidupnya kelak.

3. Ibu Deasy M – Serang
saya lagi kebingungan dg anak pertama saya…dulu saya tahu dia suka sekali menggambar dan mewarnai…dua tahun sebelum dia smp dia senang menulis…cuman dulu saya kurang “ngeh” dg suka menulisnya ini ketika sekarang di pesantren saya banyak nemu file buku hasil karyanya si kakak (laki-laki usia 13 th) yg menurut saya “layak terbit” (muji anak sendiri) tapi sekarang masalaahnya saya komunikasi seminggu sekali dg si kakak…dia banyak diam…saya bingung bgmn cara memancing dia bercerita……

Jawab :
3. Ibu Deasy M – Serang
saya lagi kebingungan dg anak pertama saya…dulu saya tahu dia suka sekali menggambar dan mewarnai…dua tahun sebelum dia smp dia senang menulis…cuman dulu saya kurang “ngeh” dg suka menulisnya ini ketika sekarang di pesantren saya banyak nemu file buku hasil karyanya si kakak (laki-laki usia 13 th) yg menurut saya “layak terbit” (muji anak sendiri) tapi sekarang masalaahnya saya komunikasi seminggu sekali dg si kakak…dia banyak diam…saya bingung bgmn cara memancing dia bercerita……

* Jawab: Bu Deasy mohon maaf sblmnya, smoga bu deasy berkenan menerima saran sy.
Tolong bu deasy minta maaf setulusnya pada ananda krn byk kekurangan sbg ibu, belum bisa melihat kelebihan & bakat2nya. Beritahu dia bahwa belajarnya ananda di pesantren bukanlah upaya membuangnya dari rumah & segala kenyamanannya, tapi utk kebaikan & masa depannya kelak.
Utk masalah bakat, umur 7 sd 15 tahun adl masa emas penggalian bakat, dengan cara Tour the talent & belajar pada maestro.
Saat liburan, rancang kegiatan tour the talent & belajar pada maestro menulis. Insya Allah di Serang ini ada maestro menulis.
Oh iya, dipesantren biasanya ada ekskul menulis & klub majalah/buletin pesantren, sarankan ananda utk bergabung & seringlah berkomunikasi dgn pengelola pesantren akan bakat ananda.

4. Ibu Siti Mutoharoh – Serang
A.Berdampak buruk kah jika anak sering di beri uang dalam jumlah lumayan besar oleh nenek/kakeknya di usia balita? Saya pernah larang agar anak saya ga ambil, tapi ortu saya sepertinya tersinggung. Baiknya bagaimana ya?
B.Yang pernah saya baca dari artikel2 pengasuhan anak, yang demikian nantinya akan membiasakan anak dengan mudah menerima “suap” saat besar nanti, benarkan dampaknya seperti itu?

Jawab :
Tentang uang, yang pernah saya dapatkan dari pelatihan parenting, sebaiknya anak baru diberi uang saku (bukan uang jajan) pada usia 7 th ke atas. Di bawah 7th tidak diberikan fisik uangnya. Jadi kalau mau jajan kita yg membelikan apa yg ia butuhkan/inginkan itu. Tidak sendirian ke warung dengan membelanjakan sendiri uangnya. Hal ini dikarenakan anak di bawah 7th ke bawah otaknya masih abstrak, yang menjadi pertimbangan hanya senang-tdk senang, bukan pertimbangan baik-tidak baik, perlu-tidak perlu. Sehingga jika anak sudah ketagihan uang dari usia 7th ke bawah akan membuatnya tergoda mengambil uang yang tergeletak di mana saja, entah milik siapa saja. Bagaimana jika diberi oleh nenek/kakeknya? Beri pengertian pd anak bahwa uang tersebut uang anak tetapi dipegang dan dibelikan bersama ibu.

5. Ibu Anis-Garut
Bagaimana mengetahui gaya belajar batita yg baru menginjak 25bln?
Kebanyakan anak usia ini sedang masanya bergerak aktif, apakah bisa dikatakan gaya belajar tsb adalah kinestetik? Atau gaya belajar itu bisa dibentuk dari stimulus yg kita berikan?
Lalu stimulus apa yang tepat untuk mengetahui gaya belajar yang lain (visual dan audio)? Sebenarnya penyesuaian gaya belajar anak bisa diketahui dari usia brp?
(Karena ketika kita sudah tau gaya belajar anak, maka kita bisa menentukan metode yang cocok lebih mudah 😄)

Jawab :
Bu Anis, sebelum usia 7 tahun biasanya gaya belajar yg dominan pada anak cenderung pada auditory & kinestetik. Apa sebabnya? Krn otak mereka belum bersambungan & masih ditahap pre operasional kompleks, pengetahuan yg direspon oleh otak adalah dgn cara hafalan & gerakan. Utk menghafal, yg dibutuhkan adl suara/auditory.
Maka cara belajar yg paling tepat utk anak 25 bln adl membacakan cerita, memperdengarkan suara dlm bentuk murottal atau yg lain2, menyanyikan lagu & beraktivitas diluar dgn permainan2 fisik.
Seiring dgn bertambahnya usia, otak sdh bersambungan, berkembangnya kemampuan membaca, biasanya gaya belajar yg dominan muncul adl visual, meskipun gaya belajar lain masih berperan.

6. Ibu Tyas – Serang
Di umur berapa anak bisa diketahui minatnya? Cita-citanya dan passionnya?

Jawab :
Jika anak sdh melalui proses penggalian fitrah bakat dengan benar, biasanya umur 15 tahun anak sudah mantap dgn Passion nya. Kedepan mau concern dibidang apa, mau usaha apa, mau berkiprah & unggul dibidang apa.
Tentu saja sejak kecil fitrah belajarnya terfasilitasi & intelectual curtiosity nya dikembangkan.
Tapi jika sejak kecil fitarah belajarnya dihambat, intelektual curriosity nya dimatikan, fitrah bakatnya tidak difasilitasi maka akan ditemukan orang2 dewasa yg galau mau apa, mau jadi apa, tidak punya peran apapun dimasyarakat, tidak mandiri secara finansial bahkan tergantung pada orang tua, naudzubillahi mindzalik.
Smoga kita mjd ortu yg sholeh yg mampu mendidik & membersamai anak2 kita dan tidak menghambat fitrah2 n potensi mereka. Aamiin

7. Ibu Uun – Kuningan
Anak perempuan sy(5th)
Suka bgt niru tmn ny entah tu hal yg baik taupun buruk,dia jg suka bgt maen misal seneng ma tmn yg A,maen ny ma yg A aja ga mau ma yg laen,klu ma tmn ny tu ampe seharian,lupa makan,mandi dan ga mau pulang,gmn ya solusinya?

Jawab :
Bu Uun anak usia 5th memang sedang masanya modeling (meniru). Pak Dodik pernah mengatakan, anak mungkin salah memahami ucapan orang tua tetapi tidak pernah salah meniru. Pun meniru lingkungannya. otaknya masih abstrak sehingga pertimbangannya bukan baik-tidak baik, melainkan senang-tidak senang. Jadi installing program otak anak ada di orang tua, baik pembiasaan hal-hal yang baik maupun peraturan2 dalam keluarga. Misal, teman-temannya berkata kasar/jorok, tanamkan identitas pada diri anak bahwa kelurga ibu tidak mengatakan perkataan yang kasar/jorok.
Atau tentang main seharian sama teman, sampaikan pada anak bahwa ada aturan keluarga. Misal boleh main jam sekian sampai sekian, tidak di dalam kamar teman, dst. Utk anak usia 5th bisa disampaikan melalui media dongeng dan hal2 yg menyenangkan lainnya. Temani anak saat main bersama temannya.
Pernah coba main petak umpet bersama anak beserta seluruh teman2 anak? Semuanya usia 5th nan dan hanya saya sendiri yang orang dewasa. Saya suka melakukannya dengan anak2. Hasilnya? Tetangga bengong. Mungkin seperti kurang kerjaan ibu2 main petak umpet sama anak2 komplek. Tetapi hasilnya luar biasa; berkeringat bersama, tertawa bersama, selonjoran kaki bersama. Ini yang dinamakan waktu “bersama” anak. Bukan hanya waktu “dengan” anak

8. Ibu Amel – Serang
Bagaimana cara kita mengetahui passion anak jika kita sudah menenelusuri pengamatan dan terlibat tp kita msh ragu sbgi orang tua, apakah diarahkan atau dibiarkan mengalir dulu…?
sejak usia brp kita mengajarkan kecerdasan finansial ke anak kita?

Jawab :
Bu Amel, sperti jawaban no 3 diatas. Masa emas penelusuran fitrah bakat umur 7 sd 15 tahun. Kalau menurut sy, didampingi, diarahkan & difasilitasi semampu kita. Yg dicontohkan bu septi dlm mengembangkan fitrah bakat anak2nya adl menemani & memfasilitasi sebaik2nya dgn tour the talent & belajar pada maestro.
Mengajarkan kecerdasan finansial pada anak, kalo di buku bunda sayang sejak umur 8 tahun.
Tapi membiasakan hidup hemat, cermat dlm membelanjakan uang & hidup sederhana, menghargai nilai uang, bekerja keras utk mendapatkan uang & barang/jasa yg dibutuhkan oleh anak, itu diajarkan sejak dini (umur 3 atau 4 tahunan).
Kecerdasan finansial meliputi perencanaan keuangan, pencatatan, pelaporan, mengelola uang n sumber daya serta menghasilkan uang.

9. Ibu Vina – Serang
Sya kebetulan kan sdng merancang hs bagi anak sy…dan sejauh ini sy merancang kurikulum anak tidak sesuai dngn kurikulum diknas…sy buat kurikulum yg anak sy butuhkan…lantas sy menjadi galau saat dihadapkan pada saat anak sy akan mengikuti ujian paket misalnya krn ujian paket brdasarkn kurikulum yg diknas buat..langkah apa yg sebaikny sy lakukan?

Jawab :
Bu vina, terus terang sy bukan Home schooler. Sy akan coba jawab semampu sy ya.
Utk masalah kurrikulum:
1. Buatlah kurrikulum scr personal khusus sesuai kebutuhan & keunikan anak.
2. Ikut & berkolaborasi dgn komunitas HS dlm hal sharing pengetahuan & sinergi pembelajaran
3. Sy sarankan gabung dgn grup di FB Sabumi Home schooling muslim, sebulan sekali biasanya dishare kurikulum utk HS
Menurut sy, bu vina jangan galau dgn masalah ujian penyetaraan fokus sj dgn kurikulum yg dibuat oleh bu vina & komunitas HS. Jalani dgn senang supaya anak mampu mengaktualkan potensinya.
Bu Vina, terus terang saya juga bukan yang meng HS kan anak. Tetapi saya pernah ngobrol dengan yang meng HS kan anaknya bahwa dalam keseharian yang dipakai tetap kurikulum mrk sendiri. Hanya saja jika anak ingin penyetaraan (baik ikut penyetaraan dari dinas maupun dari luar negri) anaknya belajar mata pelajaran yg akan diujiankan saja, bbrp bulan sebelum waktu ujian. Jika anak memilih untuk tidak ikut penyetaraan ya hanya belajar sesuai kurikulum mrk saja.

Resume Review NHW week 5

Senin, 21 November 2016
Pkl. 19.51 – 22.07
Fasilitator : Ibu Maria Ulfah, Ibu Rizqie F. Jurnaliska, Ibu Dzikra I ‘Ulya
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

1. Ibu Asti – Rangkasbitung
A. Apa batasan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh anak, krn kita sering khawatir anak sakit, bahaya. Namun tetap menjadikan anak bebas beraktivitas.
B. Saya amati anak saya suka melirik seperti ketakutan setiap melakukan sesuatu yang sering saya larang (misalnya main komputer lebih dr 30 menit). Apakah ada komunikasi yang salah?

Jawab :
1. A. Kekhawatiran ibu selalu ada karena fitrah ibu adalah selalu ingin melindungi. Itu wajar selama tidak berlebihan. Patokannya, khawatirlah secara wajar dan rasional. Jika anak sehat, sudah makan, lalu ingin bermain hujan-hujanan ya tidak masalah, hujan-hujanannya masih rasional. Tdk usah terlalu dikhawatirkan sakit dst. Kecuali jika anak sedang sakit, terlihat lemas dst maka tidak masuk akal jika ibu membiarkannya hujan-hujanan. Begitu juga misalnya ttg makan. Jika anak tidak mau makan sekali saja kita panik khawatir anak sakit, ini tidak rasional. Nanti pasti ada waktunya anak lapar. Asal kondisinya sehat, kita tidak perlu terlalu khawatir. Biarkan anak beraktivitas dengan leluasa. Dengan catatan kita jangan malas untuk mengawasi. Naik2 tangga utk anak umur 2 th itu baik, asal kita ikuti, awasi, pegangi. Belajar memotong2 sayuran dengan pisau utk anak umur 4th itu baik, asal tuntun dan awasi. Pegang tangannya, ajarkan cara aman menggunakan pisau, dan ajarkan pula problem solving jika terkena pisau, hrs pakai obat apa, bagaimana pakainya, dimana obat itu disimpan dst. So dampingi anak ya.
B. Ada aturan itu penting. namun jika respon yang ia berikan adalah ketakutan, maka perbaiki cara komunikasinya. Selain itu, tunjukkan sikap dengan dimatikan tv ibu bermain lbh asyik dengannya. Jadi anak lbh tertarik dengan ibunya daripada dengan tv.

2. Ibu Sofi – Garut
Ketika proses perjalan kita dalam menjalani road map, kemungkinan kn kita akan mengalami kebosanan atau naik turunnya motivasi. Atau bahkan merasa bukan passion kita lagi misalnya.

Nah bagaimana caranya kita menetukan apakah kita harus exit procedure atau struggle dg apa yg telah dimulai sebelumnya?

3. Ibu Eneng – Serang
Mohon dijelaskan gambaran tentang *roadmap keluarga* (harus dibuat seberapa rinci kah ?), *support system* (bagaimana memaksimalkannya?), dan *exit procedure* (bagaimana prosedur efektif yg harus dijalankan apabila di tengah perjalanan kita mengalami hal tersebut?)

Jawaban no. 2 dan 3 :
Roadmap keluarga, minimal dibuat setahun sekali. Mendetail itu bagus. Tapi utamanya adalah seluruh anggota keluarga turut mendokumentasikan dan merencanakan roadmap bersama.
Mendetail itu bagus, tapi fokuskan pada sesuatu yang inside out dan didukung oleh anggota keluarga. Keluarga Saya baru mulai merancang roadmap tahun 2015. Fokus 2015 adalah kemandirian belajar si sulung. Fokus 2016 adalah meningkatkan tindakan/aktivitas penuh kasih sayang dan rasa syukur. 2017 adalah FamilyPreneur.

Support system, memaksimalkan yang terjangkau dan bisa “diandalkan”. Bagi Saya, support system Homeschooling anak2 adalah Kegiatan dan komunitas HS. Support system saya sebagai Ibu adalah IIP, support system passion saya adalah kegiatan bersama pelukis profesional, support system spiritual saya adalah kulwap dari ustadzah dan pengajian bulanan. Dst…
Exit procedure, Selesaikan sampai level terdekat, tuntaskan semua amanah, bila amanah tersebut memerlukan pengganti, maka harus diinformasikan jauh-jauh hari seraya kita ikhtiar mencari pengganti. Evaluasi lagi, apa dg berhentinya akan jadi lebih baik atau tidak.

4. Ibu Sri – Majalengka
● Dari penjelasan ttg support system, sy ingin tanya, kira2 adakah batasan maksimal support system yg harus ada utk mendukung road map kita…?

Jawab :
Nggak ada batasan bu Sri
Support system bisa juga tidak hanya suami & anak2, tapi bisa keluarga besar(ortu & mertua, ipar2), dll

● Bunda fasil, sepertinya utk road map ini benar2 keluarga sbg team, ya… bisa tolong dikasih tip dong, utk memfasilitasi keluarga menjadi team yg kompak…

Jawab :
Bisa dibilang seperti itu.
Jelasnya, Exit Procedure adl proses/prosedure berhenti, sebelum berganti ke aktivitas yg lain.
Terkadang bu, bapak2 ada yg tidak terlalu suka atau fokus pada hal2 yg detail. Maka itu bagian kerjaan kita ibu2.

Tanyalah/diskusi/ngobrol dulu bersama suami sbg imam keluarga, maunya apa target tahun ini? Apa prioritas kebutuhan keluarga kita?
Setelah itu ngobrol dengan anak2, apa keinginan & kebutuhan mereka?
Setelah itu semua dilakukan, ibu bisa menuliskannya sbg rancangan road map.
Rancangan yg sdh dibuat, diskusikan lagi dengan suami & anak agar dikoreksi jika ada yg kurang atau tidak cocok.
Setelah itu baru benar2 dibuat Road map yg sesuai & siap dijalankan oleh semua anggota keluarga.
Intinya komunikasi

5. Ibu Lusi – Pandeglang
● Exit procedure itu terkait hal apa yang ingin kita tahu dan gali atau terkait langkah2 yang dilakukan untuk mencapainya?

Jawab :
Exit procedure itu Terjadi Jika ditengah jalan kita melangkah utk mencapai target/tujuan yg telah dibuat diawal, kemudian kita sadari bahwa “Oh kayaknya sy nggak cocok deh menekuni bidang ini”
Padahal sdh membuat road map pembelajaran & dituangkan dalam Milestone juga.
Maka lakukanlah Exit procedure, Selesaikanlah tahapan2 belajar yg sudah dibuat sampai selesai atau sampai tahap tertentu, (walaupun mungkin hasilnya kurang maksimal)
Agar kita mendapatkan manfaat dari proses pembelajarannya.
Barulah beralih pada apa yg benar2 menjadi Passion & target kehidupan kita.

● Setiap rencana yang kita susun dalam road map, selalu dibarengi dengan exit procedurenya bu?

Jawab :
Exit procedure terjadi jika ditengah jalan, ternyata program/kegiatan yg kita lakukan ternyata nggak sesuai dengan passion & harapan diri kita.
Kalo program yg kita buat sudah sesuai dengan passion atau keinginan kita, maka Tidak Diperlukan exit procedure

Advertisements