MIP Batch#2 week-5

NHW Week-5 Matrikulasi IIP Batch #2

NHW minggu ini mengenai” BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR” (Learning How to Learn).

Setelah senin malam seluruh peserta matrikulasi mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini peserta akan praktek membuat Design Pembelajaran ala “saya”.

Sayangnya para fasilitator tidak akan memandu banyak nih, tetapi peserta di minta  untuk mulai mempraktekkan “learning how to learn” dalam membuat NHW #5.

Hal yang pertama kali harus dimunculkan adalah rasa ingin tahu tentang apa itu design pembelajaran. Kemudian, perlu diingat bahwa bukan hasil sempurna yg di harapkan, melainkan “proses” anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu di share ke teman-teman yang lain.

Ok, saatnya mengerjakan.. Bismillah….

Sepengetahuan saya, desain itu dapat diartikan model, perencanaan, dan mungkin juga rancangan. Sedangkan pembelajaran ya, proses belajar mengajar.. Desain pembelajaran, menurut wikipedia di artikan sebagai  praktik penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik.  Kalau menurut Reigeluth, seorang tokoh pendidikan penemu konsep teori belajar, desain pembelajaran merupakan proses untuk menentukan metode pembelajaran apa yang paling baik dilaksanakan agar timbul perubahan pengetahuan dan keterampilan pada diri pembelajar ke arah yang dikehendaki Jadi dapat di simpulkan bahwa desain pembelajaran adalah  rancangan kegiatan atau metode  yang terbaik untuk di gunakan dalam proses belajar mengajar. Atau bisa di katakan jika desain pembelajaran “ala saya” adalah cara kita  yang paling nyaman dalam belajar itu bagaimana, kita paling mudah belajar dengan metode apa dan sebagainya.

Kenangan Belajar Masa Kecil-SMA

Sejak kecil, saya terbiasa membaca. Walaupun saya tidak sekolah di taman kanak-kanak, tapi sebelum masuk sekolah dasar saya sudah dapat membaca. Semua bacaan saya baca, baik itu buku, komik, majalah anak-anak, bahkan surat kabar saya lahap semua. Selain membaca, saya juga senang menceritakan hasil bacaan saya ke orang lain. Dengan cara itu, saya merasa lebih paham tentang apa yang telah saya baca, di tambah lagi saya juga bisa merangkai hasil bacaan itu dengan kata-kata saya sendiri. Apalagi kalau menceritakan tentang komik atau bacaan majalah ke adik-adik, wah paling seru itu…hehehe..

Seiring bertambahnya usia, dan memahami diri saya yang intovert, akhirnya kegiatan menceritakan hasil bacaan secara langsung saya ubah dengan menuangkan hasil bacaan dalam sebuah tulisan yang saya ringkas. Ringkasan yang saya buat serasa makin kaya dengan menghubungkannya dengan pengetahuan lain yang saya tahu. Misalnya, saya membaca “Dunia Sophie”- nya Joestin Gardner, sebuah novel filsafat di mata si-Sophie, di sana terdapat penuturan tentang konsep berbagai ahli filsafat seperti Galileo, Hegel, Rosseau, Plato, Descart, dll. Saya buat ringkasannya dalam bentuk resensi di tambah keterangan mengenai peristiwa apa yang terjadi di masa tersebut diberbagai belahan dunia, kondisi ekonominya bagaimana, geografisnya bagaimana, di tambah komentar saya tentang buku tersebut. Dengan membuat ringkasan, informasi atau pelajaran yang saya terima terasa lebih nempel di kepala rasanya.. Tidak gampang lupa, hehehe.. Ternyata, menurut Kandel, seorang ilmuwan neuron pemenang penghargaan Nobel dalam bukunya In Search of Memory, belajar itu merupakan serangkaian perubahan di dalam sel-sel syaraf individu yang membentuk otak. Nah, sel syaraf ini akan selalu berkembang jika di latih dan informasi akan di kumpulkan atau di simpan di dalam otak. Pemahaman yang lebih mendalam dan memori yang lebih tahan lama dapat diraih jika kita mengaitkan hal yang baru di pelajari dengan sesuatu yang telah di ketahui. Tambahnya lagi, meringkas dan mengaitkan informasi merupakan cara terbaik untuk bisa mempertahankan pengetahuan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Satu hal yang tidak saya sukai dalam belajar adalah menghafal. Setelah bersekolah di SMP, saya melanjutkan ke pesantren. Disana banyak materi yang saya pelajari karena pesantren yang saya ikuti adalah pesantren modern. Untuk pelajaran umum sih tidak masalah, tapi untuk pelajaran agama, saya merasa lambat. Banyak pertanyaan di benak saya, tetapi tidak bisa di jawab karena di kejar setoran hafalan. Misalnya saja pelajaran hadis, dalam satu minggu di targetkan hafal 20 hadis. Saya tidak bisa langsung menghafal begitu saja, karena saya lebih nyaman dengan asosiasi, yaitu belajar hadist dengan cara tahu dulu sejarah perawi nya, sanad nya, tahun berapa, di masa apa, periode siapa, apa arti hadis tersebut, sejarahnya apa, dll. Alhasil, lambatlah saya menghafal.. Hal tersebut sekaligus mematikan fitrah belajar saya. Hiks…

Belajar Saat Ini dan Desaign Pembelajaran ala “saya”

Bagaimanapun, kekurangan yang terjadi di masa lalu harus di perbaiki dan kekuatan yang sudah ada harus di tingkatkan. Kali ini saya akan mencoba menyusun desain pembelajaran ala “saya”.

Saat ini, ilmu yang ingin saya tekuni adalah sbb:

  1. Tahfidz dan Tafsir Qur’an

Walaupun menghafal adalah kelemahan saya, tapi banyak keutamaan yang bisa di peroleh bagi seorang penghafal Al Qur’an. Diantaranya adalah dipakaikannya mahkota dari cahaya di hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari, kemudian kedua orang tuanya akan  dipakaikan jubah kemuliaan yang tak dapat ditukarkan dengan dunia dan seisinya. Nah, untuk itu saya bersemangat sekali melakukannya. Kali ini metode yang saya gunakan tidak menghafal tok. Tapi menghafal menggunakan otak kanan, yaitu dengan mengasosiasikan seluruh anggota tubuh dalam menghafal sehingga hafalan dapat lebih cepat nempel. Contohnya menghafal surat Al insyiqoq. Saya sosiasikan dengan artinya, yaitu langit terbelah. saya baca tafsiran dan asbabun nuzulnya. saya mulai ayat pertama yang artinya “apabila lngit terbelah”. dari arti langit terbelah tersebut, saya gunakan otak kanan saya untuk mencari narasi dan gerakan yang cocok yang bisa menggambarkan langit terbelah. Dari sana saya dapat gerakan tangan kiri saya membuka dan tangan kanan saya memukulnya yang menggambarkan langit terbelah. Selain itu, untuk membantu penghafalan ayat suci ini, saya menggunakan metode utsmani. Untuk tafsir, saya menggunakan tafsir Ibnu Katsir sebagai panduan. Dalam mempelajarinya, tak lupa pula saya menggunakan metode 5w 1h seperti yang tercantum dalam materi matrikulasi week 5. Dengan menanyakan kepada diri sendiri tentang yang saya pelajari, yaitu what (apa yang sedang di pelajari), where (kapan tafsir ibnu katsir serta ayat-ayat tersebut turun), why (kenapa ayat tersebut turun), who (siapa saja yang terlibat saat turunnya ayat), dan how (bagaimana turunnya ayat).

Durasi yang saya targerkan sesuai NHW #4 lalu adalah untuk tahfidz 6 tahun dan tafsir 3 tahun.

Untuk evaluasi, saya melakukan murojaah sebulan sekali setengah juz dan dua bulan sekali di pandu oleh seorang ustadz.

2. Ilmu Parenting

Dalam mempelajari ilmu parenting saya mencoba menggunakan teori EMISOL nya ust. Harry Santosa. Yang pertama di lakukan adalah ber-Empati dengan semua permasalahan yang ada di masyarakat.

BerEMPATI adalah melihat dengan mata, dengan telinga, dengan hati, dengan kaki sehingga mampu menyerap lebih dalam dan lebih bermakna apa sesungguhnya yang terjadi. Tahan untuk tidak “ghurur” atau tergesa menilai, berbicara dan merespon. Apalagi jika kelak malu mengakui kesalahan. Turunkan lah ego serendah rendahnya agar Allah bukakan dan curahkan hikmah yang banyak.

Setelah berEMPATI menyerap dengan baik, lalu cobalah DEFINISIkan dengan baik atau buat “point of view” . Tuliskan apa sesungguhnya yang terjadi tanpa pretensi, nafsu, obsesi. Kita akan melihat kebutuhan atau arah kemauan sesungguhnya dari peristiwa ini, mana sasaran antara dan mana sasaran inti.

Petakan masalahnya dengan presisi, lihat yang tak mampu terlihat, temukan apa yang ada di belakang ini semua, temukan aktor aktor yang berperan, temukan inti kebutuhan sesungguhnya dan tuliskan. Gali dan temukan hal hal lain yang bisa jadi inti masalah yang mengejutkan. Tanyalah terus menerus “bagaimana jika” begini dan begitu untuk menemukannya.

Jika sudah jelas definisi masalah dan potensinya, lalu IMAJINASIKAN idea idea hebat atau idea berani untuk mengembangkan solusi dan potensinya. Tuangkan dalam bentuk “coretan” idea, diagram atau sketch yang menjelaskan kebutuhan dan idea hebat. Mulailah menulis solusi sederhana namun feasible atau layak.

Akhirnya tuliskan SOLUSI final yang kita anggap paling baik. Jalankan solusi itu kepada siapa yang membutuhkannya. Sajikanlah juga solusi kita kepada PUBLIK dengan sebaik baiknya agar dunia semakin indah dan inspiratif.

Sebagai contoh:

1. Empati : kita melihat, merasakan, mendengar apa yang terjadi di masyarakat sekarang mengenai banyaknya kasus pelecehan yang di sebabkan oleh anak di bawah umur. Kemudian kita definisikan masalah utama dan masalah tambahan yang memicu hal tersebut terjadi, misalnya adanya tontonan yang tidak mendidik, peran orangtua yang kurang maksimal di keluarga, peran pendidik, peran gadget, dll
2. Imajinasi: sekarang kita buat salah satu solusinya, misalnya orang tua harus lebih memperhatikan anak, tontonan televisi di kurangi, dll, jangan lupa ambil dari berbagai teori dan sumber ilmiah.
3. Solusi : pada tahap ini solusi final yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang di hadapi, misalnya tidak memberikan gadget pada anak usia di bawah 12 tahun dan selalu dampingi mereka.
Dalam mempelajari ilmu parenting ini, saya lebih menyukai untuk belajar bersama-sama atau berkelompok dalam sebuah wadah agar bisa saling sharing ilmu, permasalahan, semangat, juga mendapatkan umpan balik dari para anggota.
3. Ilmu Memasak dan Kerajinan Tangan
Untuk mempelajari ilmu ini, saya lebih suka memperhatikan secara visual, melalui demo, menonton youtube, melihat gambar step-step memasak dan kerajinan tangan. Selain itu, Ilmu memasak dan Handcraft lebih nyaman saya pelajari ketika saya praktek langsung. Saya pun ikut komunitas memasak NCC (Natural Cooking Club)  dan BCC (Banten Cooking Club), juga komunitas handicraft seperti Crafter Nusantara dan Tailor Indonesia di facebook. Setiap sebulan sekali kami mengadakan kopdar sambil hands-on membuat karya. Dengan memanfaatkan internet dan gadget, belajar jadi lebih mudah, di mana saja dan kapan saja.
Untuk memilih materi pembelajaran, saya mencoba mempraktekkan 5w1h nya bu septi. What: trend kuliner apa saat ini? where: di mana saya bisa belajar? who: siapa yang bisa mengajari saya? why: kenapa saya mempelajari hal itu? when:kapan saya bisa belajar? how: bagaimana cara belajarnya?
Siapa yang mengevaluasi? anak-anak dan suami tentunya..”masakan dan kue buatan ibu, enak!”……
Demikianlah desain pembelajaran ala “saya”, mudah-mudahan bisa menjalankannya dengan konsisten, tidak lupa ilmu saat harus praktek….
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s