Uncategorized

Resume Diskusi Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #3

MEMBANGUN PERDABAN DARI DALAM RUMAH
Tanggal : 1 Nopember 2016
Waktu : Pkl. 19.30 – 20.30 WIB
Fasilitator : Ibu Dzikra Ihdaiyatul ‘Ulya (Ibu Chika), Ibu Maria Ulfah (Ibu Ulfah) Ibu Rizki Fajriyani Jurnaliska (Ibu Rizqie)
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

1. Ibu Asti Susanti – Rangkasbitung
Saat ini saya sudah menemukan potensi yg dimiliki saya dan suami. Saya pun sadar dengan keunikan keluarga saya. Saya sedang terus menerus memberikan pengalaman yg berharga untuk anak saya sebagai ikhtiar menemani fitrah belajarnya. Namun, saya dan suami masih belum bisa menerima lingkungan sekitar yang menurut kami bertolak belakang dengan pendidikan di keluarga kecil kami. Misalnya, saya mengajari anak untuk bilang baik2 saat menginginkan sesuatu. Tetapi ada anak tetangga yang selalu merengek dan berteriak saat minta sesuatu. Anak saya yang masih 3 tahun malah mengikuti temannya. Bagaimana agar bisa berdamai dengan lingkungan sekitar?

Menurut saya anak usia 3th tidak usah terlalu banyak berinteraksi dengan anak tetangga yang didikannya tidak bagus. Perbanyak interaksi dengan kita saja sbg orang tuanya. Sesekali main dgn anak tsb tentu boleh tapi sambil didampingi. Hanya saja tidak terus menerus. Krn anak belum bisa memfilter itu.

2. Ibu Rahma – Serang
Bagaimana caranya agar kita benar2 ikhlas berdamai dgn masa lalu, dgn orang yg berulang kali meninggalkan luka di hati kita. Sudah berusaha tidak ambil pusing, bersikap baik terhadap orang bersangkutan, bahkan berusaha “merangkul”, tapi setiap ingat hal2 yg pernah diperbuatnya kpd kita,luka itu muncul lagi dan saya seringkali menjadi buruk sangka terhadap nya. Jika ini tdk segera diselesaikan, saya khawatir akan melakukan hal yg sama kepada anak2 / lingkungan saya nantinya, dan saya tdk mau seperti itu.
Terima Kasih

Jika luka itu cukup dalam, bahkan memicu ketidak stabilan emosi hingga traumatis, maka diperlukan penanganan khusus. Diperlukan adanya latihan untuk menangani inner child dan luka traumatis. Perlu ada pendampingan profesional agar benar-benar sembuh.
Namun untuk langkah awal adalah dengan metode quantum ikhlas:
– Tuliskan segala kekesalan ketidakpuasan, sedih amarah dsb.
– Tuliskan mengapa Bunda seperti itu, Apa dampaknya pada diri, keluarga dan kehidupan Bunda.
– Lalu Tuliskan apa yang Bunda inginkan, dan apa yang Bunda anggap “ideal”
– Istighfar, dan tuliskan bahwa anda ikhlas dengan segala kondisi saat ini dan berkomitmen untuk berubah.
Setelah itu, fokus pada NHW#2.
Wallahu ‘alam Semoga Dibukakan jalannya yaa…

3. Ibu Heni – Majalengka
Assalamualaikum.wrwb. Kita tau bahwa tujuan berumah tangga selain untuk melanjutkan keturunan dan menggenapkan separuh dien. Juga Ada lagi tujuan lain yaitu membangun peradaban dari dalam rumah. Seperti tema yg ada di sesi 3 ini. Yg ingin saya tanyakan bagaimana kalo kondisi pekerjaan suami di luar kota dan kadang harus berpindah-pindah kota. Dan terpaksa harus menjalani LDR. Misal hanya 2 minggu sekali pulang. Jadi otomatis peran istri lebih dominan di rumah. Nah bagaimana agar suami istri bisa bersinergi tetap bisa mewujudkan misi atau tujuan tersebut? terimakasih.

Idealnya suami istri tidak LDR Tetapi Jika memang kondisi terpaksa demikian, gunakan teknologi komunikasi dengan maksimal agar tetap terjalin komunikasi yg lancar. Saat ini ada fasilitas Line dst. Meski ini tidak ideal tetapi minimal msh lebih baik.

4. Ibu Novita – Serang
Banyak kejadian dimasa lalu sebelum menikah yang belum aq selesaikan dan bahkan blm bisa aq maafkan.
Berpengaruh sebesar apa terhadap cara kita mendidik anak?

Sangat berpengaruh. Karena itu mengendap dalam alam bawah sadar.

Ketika seorang wanita (berlaku juga bagi pria) mendapatkan pengabaian dan perlakuan2 yang membuat trauma di masa kecilnya dari orang tua atau pengasuh lainnya, ia menjalani kehidupan dengan pondasi yang lemah. Ia akan membawa perasaan tidak berdaya, perasaan sebagai korban, depresi, rasa malu beracun, kritik diri negatif, kepercayaan diri yang rendah, harga diri yang rendah, dan tidak punya keterampilan mengasuh dirinya sendiri.

Dengan pondasi yang lemah ini, bisa mengakibatkan wanita tidak mampu mencintai dirinya sendiri dalam perannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak2.

Jika mencintai, meyayangi atau memaafkan diri sendiri saja tidak bisa, bagaimana pada anak/pasangan/orang lain?

5. Ibu Marini – Serang
Assalamu’alaikum, mau tanya Bun gimana bisa membangun peradaban dari dalam rumah klo kita masih tinggal satu atap dengan mertua dimana pola asuh yg kita ingin kan tidak selaras, berhubung suami anak laki2 paling tua.

Husnudzhon, bahwa Nenek anak-anak pasti menginginkan yang terbaik juga untuk anak-anak kita. Bicara dari hati ke.hati dan fokus pada 1 perubahan.
Misalnya ingin anak bangun subuh dan shalat berjamaah, padahal seumpanya anak balita bangun agak siang, Kita.bisa “agak” santai melakukan aktivitas pagi. Maka paparkan alasannya secara logis menggunakan referensi yang tepat, jadi seperti sharing, bukan menggurui. Lalu buat komitmen, seandainya anak rewel di pagi hari, pekerjaan RT bagaimana, persiapan pagi hari bagaimana, dsb.
Fokus pada 1 kebiasaan dulu.

6. Ibu Tyas – Serang
‘Perlu satu kampung untuk mendidik satu orang anak’
Pernyataan dia atas berarti kita butuh lingkungan rumah utk sama2 belajar. Bagaimana cara mengajak mereka untuk sama2 belajar?? Dengan latar belakang pendidikan dan budaya yg berbeda2 kadang mereka sudah anti duluan. Dikasih masukan sedikit bisa marah atau ga terima.

Ajak anak-anak tetangga untuk main di rumah, lalu kita dampingi dan awasi. Mulai dari mengambil hati anak-anak tetangga dulu, ajak mereka bermain atau membuat project bersama. Selama interaksi tersebut, kita bisa mengorek hal negatif dan memberitahu mereka bagaimana seharusnya.
Saya aktif sebagai relawan perpustakaan gratis. Anak-anaknya beragam, ada yg suka berkata kasar, bahkan terpapar konten pornografi. Namun anak saya ada di sana dg adanya bimbingan dan.pengawasan. Dampaknya, sekarang anak-anak di sana mulai membaca apa yang anak saya baca. Dan mereka ketagihan untuk beraktivitas bersama saya dan relawan lainnya.

7. Ibu Vina M – Serang
Pertanyaan saya bunda… bagaimana menguatkan hati untuk membangun peradaban dr dalam rumah dengan kondisi memiliki suami namun cuek menyerahkan sepenuhnya pada istri. Karena rasanya sy tidak mungkin menuntut terlalu jauh kpd suami jika komunikasi dengan suami sudah intens dilakukan namun suami saya ini pasif sekali..saya bingung terkadang merasa lelah..apa yg harus dilakukan.

▶ ada beberapa kemungkinan suami ibu bersikap seperti itu.
1. Krn suami ibu bertipe introvet, atau
2. Krn pola asuh yang suami terima dahulu dari orang tuanya, atau
3. Krn gaya komunikasi yang beliau pakai lbh banyak menggunakan komunikasi nonverbal dst.

Tetaplah fokus pada kelebihan dan kebaikan suami.

Adapun untuk kebutuhan ibu, maka tetaplah mencurahkan perasaan dan pikiran ibu pada suami, tanpa memasang target terlalu tinggi akan respon yg ibu dapatkan dari beliau. Yang penting tersalurkan dulu kebutuhan ibu untuk bicara. Karena wanita lebih butuh banyak bicara

8. Ibu Lusi – Pandeglang
A. Saya punya banyak rencana untuk mendidik anak dg fitrah keimanan. Tapi ketika suami kurang antusias jika diajak berdiskusi seperti apa pola didik yang akan diterapkan pada anak dan tahapan apa yang harus dilakukan untuk mendidik anak dengan fitrah keimanan, bahkan terkadang apa yang sudah coba diterapkan pada anak, menjadi mentah kembali karena pola suami yg berbeda, bagaimana seharusnya menyikapi ini?

* Jawab: Bu Lusi, upayakan membenahi komunikasi dulu dgn suami. Ada tipe suami yg Konseptor, maka istrinya harus bisa menerjemahkan konsepnya sampai detail praktis pengaturan dirumah.
Sebaliknya ada tipe suami yg Praktisi n detail pada tindakan, maka istrinya harus menjadi konseptor. Cermati suami ibu termasuk yg mana, kemudian sepakati masing2 pihak mau mengambil peran yg bagaimana.
Jika komunikasi n pembagian peran sdh dilakukan, tapi tetap belum berhasil. Maka tetap konsistenlah bu lusi dgn rencana n niat baik semula krn banyak ibu2 yg berhasil mendidik n mengasuh anaknya “sendirian”.
Jangan lupa mendoakan suami n anak ya bu, smoga hati suami bu lusi terketuk krn melihat kesungguhan bu lusi dlm mendidik anak.

B. Saya tinggal di perkampungan dengan tetangga di sekitar menerapkan pola didik yang keras pada anak2 mereka. Kekerasan fisik dan bahasa-bahasa yg kasar, juga nuansa keislaman yg kurang, sehingga melahirkan anak2 menjadi pribadi yg suka kekerasan fisik, bahasa kasar dan bahkan ada yg masih di bawah umur melakukan penyimpangan seksual.
Jika kondisi lingkungan seperti ini, apa yg harus saya kuatkan dan lakukan agar saya bisa menjaga anak dari kontaminasi akhlak? Padahal seperti yg disebutkan “it takes a village to raise a child”.

Jawab: it takes a village to raise a child, maksudnya carilah komunitas yg sevisi utk membantu mendidik n mengasuh anak2 dgn bersama2. Sehingga akan terbentuk komunitas yg berbasis nilai pendidikan n pengasuhan yg baik. Istilahnya Community Based Education.

Menurut Sarra Risman, kita boleh membatasi pergaulan anak kita dari lingkungan sekitar yg buruk, apalagi anak dibawah 12 tahun yg masih pada tahap penanaman nilai. Nilai kehidupan dari keluarga sdh bagus, tapi terkontaminasi nilai buruk dari luar rumah. Akibatnya akan mempengaruhi anak, jadi sebaiknya batasi pergaulan anak.

9. Ibu Fitriyani Ginawati – Sukabumi
Bagaimana langkah yg harus diambil jika kita sudah menemukan pola mendidik anak kita, namun belum menemukan/ belum ada komunitas d sekitar yang sesuai dengan visi misi kita. Apakah anak kita masukkan ke sistem pendidikan yg sudah ada ( notebene tidak sejalan dengan visi misi kita) sambil kita jalankan metode kita atau kita bergerak/berjalan sendiri saja?

* Jawab: bu Fitriyani, tanggung jawab pendidikan & pengasuhan anak yg Utama itu tetap pada orang tuanya. Baik dia di sekolah formal yg “baik & berkualitas” menurut kita, atau sekolah biasa2 sj atau memilih utk Home Schooling prinsipnya tetap orang tua sbg pendidik utama di rumah, konsep ini disebut Home Education (HE).
Didik n asuhlah anak dirumah dgn nilai2 kehidupan yg baik yg dianut di keluarga sambil mencari orangtua2 lain yg mempunyai visi pendidikan yg baik yg sesuai dgn ayah bunda kemudian bersinergi dlm komunitas tsb utk mendidik anak, salah satunya IIP ini atau grup HEbat.

Jazakillah ibu2 fasil atas jawaban dari pertanyaan saya diatas..
Namun ada yg ingin sya tanyakan dari jwaban yg lain;
Selama ini saya merasa ada di posisi konseptor u/ perncanaan pola mendidik& mengasuh anak, dan suami di posisi teknisi. Bagaimana pola keseharian yg harus djalankan, sedangkan suami lebih bnyak waktu di luar?

Karena ibu yang lebih banyak menemani anak di rumah, otomatis tidak cukup peran ibu menjadi konseptor saja. Asah kemampuan ibu dalam ranah teknis. Berkolaborasilah dengan suami. Rumuskan bersama.

10. Ibu Nurrita Dewi – Serang
A. Sebagai orang yang telab berkeluarga, saya punya luka masa lalu dimana saya terlahir dari keluarga broken home. Ortu saya bercerai ketika umur saya 1 tahun. Stlh itu saya tnggal dgn kakek nenek
Akibatnya hingga saat ini, entah knp saya jadi susah dekat dgn kedua ortu, baik mamah maupun bapak. Mereka kini sudah memiliki keluarga masing2. Dari pengalaman itu saya bertekad untuk tidak akan mengulang kesalahan ortu terhadap saya, karena betapa tidak enaknya jadi anak broken home. Apakah tekad saya tersebut msuk dalam katagori luka masa lalu? Gimana ya biar bisa mmbuka hati agar bisa dekat dgn ortu, rasanya sulit sekali

*Jawab: bu Nurrita, luka masalalu ini telah menjadi trauma ya bu. Padahal utk menjalani masa depan, kita perlu memaafkan masa lalu n membuangnya.
Kalo di konsep HE, memakai istilah Tazkiyatun Nafsi atau penyucian jiwa, caranya dengan memohon ampunan atas dosa kita, ayah n ibu kita, menerima kondisi kita sbg anak broken home, ayah & ibu yg bercerai dahulu, kemudian memaafkan kesalahan mereka n berjanji utk bersikap yg baik kpd mereka, krn lantaran keberadaan merekalah kita ditakdirkan hadir dimuka bumi ini.
Dengan maaf n penerimaan maka hati akan lapang menjalin hubungan baik dgn ayah n ibu.
Sungguh tidak ada yg sia2 dari penciptaan kita dimuka bumi ini, Pasti Allah telah menyiapkan Peran Spesifik bagi kita yg sesuai dgn jalan hidup yg kita lalui.

B. Terkait komunitas, gimana bila tmpat tnggal msh blum ttap (pindah2 karena masih ngontrak), cara mmbangun jejaringnya hrus gimana?

* Jawab: Di era yg serba canggih ini bu, mencari info apapun bisa didapat dengan mudah.
Ingin bertemu dgn orang2 n komunitas2 yg sevisi pasti mudah, asalkan kita melek teknologi, menjalin komunikasi dgn Adab yg baik serta mau men Sahabatkan diri. Pasti akan diterima dimanapun kita berada. Buktinya bu nurrita stelah pindah dari Jakarta ke Serang, tetap ketemu kan dgn IIP & HEbat Banten😉

11. Ibu Rima – Cianjur
Makna membangun peradaban itu seperti apa? apa yg menjadi tolak ukurnya?
Bagaimana sebuah keluarga bisa dikatakan sudah berhasil atau tidaknya menemukan peran spesifiknya di muka bumi ini? faktor-faktor apa saja yang menjadi tolak ukurnya? apakah dilihat dari seberapa besar kebermanfaatan keluarga tsb bagi masyarakat? atau ada poin-poin penilaian yg lain?

* Jawab: Bu Rima, makna membangun peradaban dari dalam rumah maksudnya kita memberikan peran & kemanfaatan bagi masyarakat skitar kita dgn peran yg kita lakukan & sesuai dgn potensi & keunikan yg kita miliki.
Sebuah keluarga dikatakan telah menemukan peran spesifiknya jika sudah menemukan potensi & kekhasan nya serta punya komitmen utk berbagi kpd orang2 di sekitarnya.
Contoh: keluarga Halilintar, dgn Gen Halilintar nya, punya ciri nilai traveling, kebersamaan & berbagi.
Keluarga pak dodik mariyanto n bu septi, dgn Padepokan Margosari & IIP, punya ciri sbg educator, fasilitator & berbagi.
Kalo di Serang, ada keluarga pak Gola gong & bu Tias Tatanka dgn “Rumah Dunia” nya dgn ciri berbagi & membangun Literasi.

Temukan keunikan masing2 keluarga, kembangkan potensinya & bersemangat utk membagikan kebaikan yg kita punya.

12. Ibu Siti Mutoharoh – Serang
Kira-kira jika diantara suami istri masih ada rasa canggung bertanya atau mengobrol dan tidak saling terbuka mulai dari kisah masa lalu sampai dengan saat ini, bisa berbahaya kah untuk kedepannya? Walaupun rasa saling percaya yang kuat antar pasangan?

Tentu saja berpengaruh, kalau memang saling percaya, kenapa masih canggung. Berarti komunikasinya belum terbuka sepenuhnya. Nanti akan dibahas.lagi di sesi kuliah komunikasi produktif.

13. Ibu Ika Mustaqiroh –
Bagaimana caranya agar bisa mengajak suami tertarik mendalami dunia parenting. Sejauh ini, kelihatannya dia cuek saja. Tidak sekhawatir istri nya takut gagal mendidik, mencari Info sebanyak-banyaknya ttg dunia anak. Apakah ini hal yang wajar?

* Jawab: bu ika pertanyaannya hampir sama dgn pertanyaan dari bu Vina & bu Lusi ya.
Saran sy, bangun komunikasi dgn suami. Amati suami ibu termasuk tipe konseptor atau praktisi, bu ika yg menyesuaikan perannya.
Ajak suami utk berperan sesuai keinginannya sehingga dia bisa legowo berperan dlm mendidik anak.
Oh iya, biasanya bapak2 saat sudah dirumah cenderung pendiam krn sdh menghabiskan jatah 7000 kata nya diluar rumah, ditempat kerja, dsb.
Jadi bukan berarti suami bu ika nggak care ya, tapi mempercayakan penuh pendidikan anaknya pada bu ika. Jadi jalin komunikasi dgn baik, kalo beliau lebih nyaman jadi konseptor, maka bu ika jadi praktisi pendidikan n pengasuhan dirumah.

14. Ibu Alin Rosalina – Majalengka
Bu bagaimana cara mengatur waktu kita supaya kita semaksimal mungkin memegang peran sebagai ummun warobbatul bait dengan bisnis rumahan?
Ukuran sukses dlm Islam dlm menjalankn peran sebagai ummun warobbatul bait seperti apa?mohon penjelasan nya

▶ Ibu alin terus terang saya tidak menjalankan bisnis rumahan seperti yang ibu tanyakan. Tetapi saya pernah mendengar dari ibu septi bahwa pekerjaan yg dijalani oleh kita di rumah sebisa mungkin melibatkan pula anak-anak. Misal kita punya passion dalam memasak, lalu membuka bisnis katering. Maka libatkan anak utk ikut berperan serta dalam bidang tsb sehingga anak ikut belajar seusia porsinya.

Ukuran sukses dalam menjalankan peran sebagai ummun warabbatul bait adalah ketika kita tidak berhenti berproses dalam belajar dan meningkatkan kapasitas sebagai ibu. Menjaga amanah anak yang dipercayakan pada rahim kita dengan sebaik-baiknya sehingga anak-anak kita di masa depannya siap menjadi Khalifah di muka bumi ini.

15. Ibu Sri Prihatiningsih – Majalengka
Assalaamu’alaikum…
Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan

A. Sehubungan dengan luka masa lalu yg benar2 mempengaruhi sikap dalam memperlakukan pasangan, bagaimana Sikap pasangannya bila yang punya luka masa lalu ini tidak mau atau tidak sanggup berubah (karena sudah terlalu lama menjadi karakter)
Harus dipecah dulu kebekuannya, perbaiki komunikasi, dan menjalin kembali intimacy. Jika komunikasi tidak terbuka juga, coba untuk berkonsultasi dan melakukan terapi.

B. Bila ketidakharmonisan ikatan ayah dan ibu ini kemudian membuat ibu tertekan dan tidak nyaman menjalani hidupnya, Sebenarnya,mana yang lebih baik untuk perkembangan anak, ibu yang tetap bertahan hidup dalam ketertekanan Atau melepaskan diri dan berusaha menjadi single parent…?
Yang terbaik adalah Seluruh anggota keluarga membuka hati dan komunikasi. Bunda sebaiknya segera berkonsultasi dengan pakar trauma/inner child untuk mengatasinya.

16. Ibu Anis – Garut
Bagaimana hubungan langsung antara 4 pertanyaan tsb dg kurikulum pendidikan?
Mohon contohnya, spy bs lebih mudah dipahami? Karena perlu pemikiran yang mendalam buat menjawab 4 pertanyaan dlm membuat misi pernikahan. Wajib berkontemplasi dan brainstorming lagi dan lagi 😄

*Jawab: Dengan 4 pertanyaan diatas, Bu Septi sedang meminta kita, para ibu utk menggali kembali Strength pada diri kita, suami, anak & lingkungan kita.
Sebab boleh jadi kita lupa semua itu, karena mereka terlalu dekat dgn kita atau krn kita terlalu sibuk dgn rutinitas.
Atau kita memandang terlalu tinggi pada kelebihan orang2 yg ada diluar diri kita, suami kita, anak2 kita & lingkungan kita.
Sikap seperti itu negatif jika membuat kita lemah, pasif, baper.
Jadi kurikulum pendidikan keluarga dibangun berdasarkan himpunan semua kekuatan itu.
Kurrikulum pendidikan keluarga secara umum mensinergikan kelebihan masing2 individu.

Contoh: seorang ibu yg menikahi suaminya krn suaminya dulu dia pandang lebih mengerti agama dari dirinya & suka mengajar, maka istrinya harus bisa menempatkan diri benar2 mendukung suami agar bisa mengabdikan potensinya itu utk umat.

Akar dari kurikulum pendidikan keluarga inilah yang akan menjadi misi pernikahan.
Yaitu menikah utk memberikan kemanfaatan, sumbangsih & wujud rasa syukur atas kehidupan yg dikaruniakan Allah kpd kita, serta menjaga n melindungi diri kita n keluarga dari siksa api neraka.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s