Home Edu · parenting

Peran Orang Tua Dalam Menemukan Passion Anak

Hasil gambar untuk passion

Sharing cerita Rahmaida Simbolon mengenai peran orang tua dalam menemukan passion anak di grup Home Education.

Suatu hari, si kecil kami Radho, duduk jongkok berlama-lama di depan pohon jeruk kecil yang ada di halaman rumah kami. Rupanya ia tengah memperhatikan kehidupan laba-laba yang tak lebih besar dari jempol kakinya tengah membangun sarang di pohon jeruk itu. Dari pengamatanya, ia mendapati bahwa seekor laba-laba membangun sarang dengan mengeluarkan benang dari pantatnya.  Selanjutnya ia menangkap kejadian seekor nyamuk yang tiba-tiba terperangkap di jaring laba-laba dan sang laba-laba yang tadinya berada di ujung jaring, bergerak cepat mendekati nyamuk dan menggulungnya dengan benang lalu laba-laba itu akan kembali ke pinggir. Melihat kejadian tersebut, Radho berinisiatif mencarikan makanan untuk si laba-laba, ia mencari sapu lidi untuk menepas lalat, setelah kena tepas dan mati, kemudian Radho melemparkan lalat  ke dalam jaring laba-laba. Dengan cepat laba-laba itu mendekat dan kemudian menggulung lalat itu, beberapa saat kemudian, laba-laba mengisap cairan lalat, kemudian berpindah ke nyamuk dan mengisap cairan nyamuk. Dengan antusias, Radho menceritakan pengalamannya itu melalui gambar, ia menggambar jaring laba-laba, laba-laba, mangsa dan pohon. Mendengar pengalamannya itu, Saya mengajukan tantangan pada Radho untuk mendokumentasikan peristiwa tersebut dengan kamera video dan dijawabnya apabila bisa mendokumentasikan persitiwa semacam itu apakah akan laku untuk dijual atau masuk ke TV?

Sebagai orang tua, tentunya menjadi pertanyaan menarik bagaimana seorang anak belajar dan mencari tahu dari pengalaman yang diperolehnya. Cara dan minat Radho dalam memperhatikan kehidupan serangga barangkali bukan menjadi fokus yang menarik bagi anak yang lain. Dan minat semacam itu juga barangkali tidak teraktualisasi di sekolah yang menganut sistem pendidikan berbasis kurikulum (yang padat dengan bermacam mata pelajaran). Artinya, berbicara tentang pengasuhan dan pendidikan, maka kita tidak bisa hanya menyerahkan sepenuhnya pada institusi sekolah, justru peran keluarga sebagai lingkungan yang pertama lebih diutamakan. Tentunya orang tua selalu berupaya untuk mencari informasi dan belajar sebanyak mungkin untuk bisa memberikan pendidikan dan pengasuhan yang terbaik bagi anak.

Salah satu sumber yang saya anggap cukup menarik dalam membantu saya memahami pola pengasuhan anak adalah kecerdasan majemuk yang ditulis oleh Howard Gardner. Selain itu, memahami gaya belajar anak yang ditulis oleh Deporter dan Hernaki dan pola kepribadian anak yang dicetuskan oleh Florence Littauer dalam bukunya Personality Plus, Saya percaya ketika orang tua paham tentang semua itu, maka pola pengasuhan dan pendidikan akan lebih mudah dijalankan, ibarat ketika kita mengerjakan sesuatu, ketika sudah paham teorinya, maka aplikasinya akan lebih mudah.

Kecerdasan majemuk

Ada  8 tipe kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu        :

  1. Kecerdasan Bahasa
    Ciri utama dari kecerdasan bahasa adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif dalam membaca, menulis, dan berbicara, kemampuan dalam bersyair, atau gaya menulis yang kaya ekspresi adalah bentuk kecerdasan bahasa.
  2. Kecerdasan Musik
    Kecerdasan musikal meliputi kepekaan terhadap tangga nada, irama, dan warna bunyi, serta aspek emosional akan bunyi yang berhubungan dengan bagian fungsional dari apresiasi musik, bernyanyi, dan memainkan alat musik
  3. Kecerdasan Logika-Matematika
    Kecerdasan logika-matematika meliputi keterampilan berhitung juga berpikir logis dan keterampilan pemecahan masalah”. Siapapun yang dapat menunjukkan kemampuan berhitung dengan cepat, menaksir, melengkapi permasalahan aritmetika, memahami atau membuat alasan tentang hubungan-hubungan antar angka merupakan ciri dari kecerdasan logika-matematika.
  4. Kecerdasan Visual-Spasial.
    Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan untuk merepresentasikan dunia melalui gambaran-gambaran mental dan ungkapan artistik. Pusat bagi kecerdasan ruang adalah kapasitas untuk merasakan dunia visual secara akurat, untuk melakukan transformasi dan modifikasi terhadap persepsi awal atas pengelihatan, dan mampu menciptakan kembali aspek dari pengalaman visual.
  5. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh.
    Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh badan atau bagian dari badan dalam membedakan berbagai cara sebagai ekspresi gerak.
  6. Kecerdasan Intrapersonal
    Fungsi penting dari kecerdasan intrapersonal ialah meliputi penilaian-diri yang akurat, penentuan tujuan, memahami-diri atau instropeksi, dan mengatur emosi diri sendiri.
  7. Kecerdasan Interpesonal.
    sangat berhubungan dengan kemampuan untuk memahami orang lain dan mampu mengatur hubungan antar individu.
  8. Kecerdasan Naturalis.
    Orang yang menonjol dalam kecerdasan naturalis adalah orang yang menunjukkan rasa empati, pengenalan, dan pemahaman tentang kehidupan dan alam meliputi tanaman, hewan, geologi.

Pemikiran Howard Gardner membuat kita menyadari bahwa setiap anak pastilah cerdas, namun kecerdasannya sangat bervariasi. Pemberian stimulasi di usia dini dapat mencakup semua kecerdasan, tidak hanya salah satunya saja, sebab semua kecerdasan yang mereka miliki harus dibiarkan tumbuh dan berkembang optimal. Seiring bertambahnya usia biasanya jenis kecerdasan menonjol sudah mulai terlihat. Pada kasus Radho, ia memiliki kecerdasan naturalis yang menonjol, hal itu bisa dilihat bagaimana ia melakukan kegiatan belajar secara antusias dengan melibatkan unsur alam, yang pada contoh di atas, meliputi hewan dan tanaman. Ia betah berlama-lama memperhatikan apa yang dilakukan laba-laba saat memangsa hewan buruannya.
Bukan hal yang mudah untuk mengetahui potensi kecerdasan anak. Ada beberapa metode yang banyak ditawarkan, misalnya dengan tes sidik jari. Atau kita dapat melakukan observasi sendiri dengan menstimulasi beberapa kecerdasan dan melihat mana yang lebih menonjol. Setelah memahami potensi kecerdasan anak, barulah orang tua dapat menentukan potensi yang akan diberikan stimulasi lebih banyak. Namun tidak cukup hanya dengan memahami potensi kecerdasan anak, penting juga bagi orang tua untuk mengetahui gaya belajar anak.

Gaya belajar

Menurut Deporter dan Hernacki, gaya belajar adalah merupakan kombinasi bagaimana seseorang menyerap informasi kemudian mengatur dan mengolah informasi tersebut. Gaya belajar adalah variasi cara yang dimiliki seseorang untuk mengakumulasi informasi, dimana gaya belajar bisa menjadi methode terbaik dalam mengumpulkanberbagai sumber informasi agar memperoleh pengetahuan yang spesifik        

Deporter dan Hernacki membagi ke dalam tiga tipe gaya belajar anak, yaitu:

  1. Visual, adalah gaya belajar yang menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham.
  2. Auditori, adalah gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.
  3. Kinestetik, adalah gaya belajar yang mengharuskan individu bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Gaya belajar ini menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya.

Manfaat dari memahami gaya belajar pada anak adalah agar kita sebagai orang tua lebih mudah dalam menentukan strategi belajar yang sesuai dengan kemampuan anak. Gaya belajar yang sesuai akan mendorong proses pengolahan  informasi yang lebih efisien, utamanya membantu anak dalam menikmati proses pembelajaran. Pada kenyataannya banyak anak yang tidak cocok dengan gaya belajar di kelas. Hal ini banyak dialami oleh anak dengan tipe visual atau kinestetik yang tersesat di dalam kelas yang diajar dengan metode auditori. Salah satunya terjadi pada Radho.

Dari pengalamannya dalam memperhatikan laba-laba, ia memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik. Tidak cukup dengan memperhatikan secara pasif, Radho juga coba melakukan eksperimen dengan mematahkan sarang laba-laba menggunakan lidi untuk mengetahui ketahanan jaring laba-laba, serta menjatuhkan lalat di sarang untuk mengetahui apa yang akan dilakukan laba-laba pada  lalat. Tipe anak seperti Radho akan mudah memahami sesuatu dengan cara menyentuh. Oleh karenanya, saya memberikan kebebasan kepadanya untuk bereksperimen dengan laba-laba, dengan begitu syaraf-syaraf otaknya akan aktif. Ia akan lebih bisa berpikir ketika kita tidak membatasi geraknya.

 

Kepribadian

Selain potensi kecerdasan dan gaya belajar, yang tidak kalah pentingnya juga untuk dipahami adalah kepribadian, karena inilah dasar dari pembentukan karakter seorang anak. Mengapa kita perlu membahas tentang kepribadian, kepribadian adalah bagian dari diri manusia yang sangat unik dimana kita memiliki kecenderungan yang cukup besar untuk merespon segala sesuatu. Dengan memahami kepribadian anak berarti kita telah menyingkat waktu kita untuk menebak-nebak, berusaha mengerti dan memahami anak kita, kita bisa jauh lebih mudah untuk memahami seseorang anak dengan memperhatikan tipologi kepribadiannya.

Menurut Florence Littauer, kepribadian ini membagi manusia menjadi empat golongan besar yaitu korelis, sanguin, plegmatis dan melankolis.

  1. Sanguin, dijuluki si populer karena tipe sanguin pandai berbicara, persuasif dan riang.
  2. Koleris, dijuluki juga sebagai si kuat karena tipe ini adalah tipe dominan dan kompetitif, berkemauan kuat, dan berorientasi hasil.
  3. Melankolis, dijuluki juga si sempurna karena tipe ini sangat perfeksionis dan mencintai keteraturan.
  4. Plegmatis, dijuluki juga si cinta damai, karena kesetiaannya dan menghindari konflik.

Radho memiliki kecenderungan berkepribadian koleris, sebab ketika diberi tantangan untuk mendokumentasikan dengan kamera video, ia akan menanyakan “aku dapat apa” anak-anak tipe koleris selalu berorientasi pada hasil dan lebih suka dengan reward.

Setiap anak bisa jadi memiliki tipe koleris-melankolis, koleris sanguin, atau melankolis-plegmatis. Dengan mengenali perangai anak, kita akan mudah membaca karakternya, orang-orang dengan kepribadian koleris misalnya, koleris yang berorientasi hasil, akan mudah dibentuk dengan reward dan funishmen, orang-orang melankolis akan merasa dihargai ketika tidak di desak untuk menyelesaikan, sebab baginya yang terpenting adalah hasil yang sempurna. Kepribadian ini juga akan mempengaruhi pilihan profesi, seorang koleris misalnya akan lebih cocok sebagai leader, seorang melankolis akan lebih cocok sebagai ilmuwan dan seniman, dan seorang sanguin akan lebih cocok sebagai artis atau penghibur, seorang plegmatis akan lebih cocok sebagai pemuka agama.

Satu hal yang perlu kita ketahui adalah tidak ada satupun tipologi kepribadian ini yang lebih baik daripada lainnya. Artinya semua anak mempunyai kadar dari keempat tipologi kepribadian ini. Di dalam diri kita ada unsur melankolis, ada unsur plegmatis, ada unsur koleris dan ada unsur sanguin-nya. Hanya saja di bagian mana kita dominan dan itu yang membentuk kita, itu yang membedakan kita dari yang lainnya. Dan satu hal yang paling penting, adalah seperti yang tadi saya katakan bahwa tidak ada yang baik, tidak ada yang buruk disini. Yang ada adalah pada saat kita tidak menyadari berhadapan dengan anak kita dan kemudian kita tidak bisa menjalin suatu komunikasi dengannya, itu karena kita tidak bisa memahami persepsinya.

Penutup

Dari berbagai tipe yang Saya uraikan di atas, maka penting bagi orang tua agar mampu mengenali atau mengidentifikasi kecerdasan majemuk anak sebab setiap anak adalah unik, tak pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Tugas orang tua adalah melihat potensi itu, mengasahnya hingga kemudian mampu melihat kecerdasan yang paling dominan pada anak, diharapkan orang tua dapat menyesuaikan kecerdasaan anak dengan gaya belajar dan kepribadian anak. Sebagai contoh ketika anak memiliki kecerdasan logis matematis dengan gaya belajar visual, maka orang tua harus mampu memberikan stimulasi konkrit seperti menyediakan batu sebagai alat dalam menghitug. Nah kemudian bisa disesuaikan dengan karakter anak, misal dengan karakter anak yang koleris, maka pelajaran menghitung bisa diaplikasikan lewat tantangan, seperti pada hitungan ke sepuluh harus selesai mengerjakannya.

Gabungan berbagai pemahaman dan metode di atas akan mampu membuat anak selalu bergairah belajar dan mencintai prosesnya, sebab cara belajar yang demikian sangat menyenangkan. Bagi saya, ketika anak berbahagia maka belajar menjadi lebih mudah. Ketika orang tua mampu memformulasikan semua pemahaman di atas, maka akan semakin mudah dalam menemukan passion anak. Sebagai seorang praktisi homeschooling, saya telah menguji coba pemahaman-pemahan di atas dan mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar kami. (Rahmaida “bua” Simbolon)

Advertisements

One thought on “Peran Orang Tua Dalam Menemukan Passion Anak

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s