parenting

Pelatihan Menjadi Orangtua Cerdas (1) – Memahami Profesi Orang Tua – Komunitas Rumah Pencerah

Komunitas Rumah Pencerah adalah organisasi nirlaba yg terdiri dari individu-individu dengan berbagai latar belakang yg mempunyai kepedulian terhadap kebutuhan akan pelatihan orangtua dan peningkatan kualitas guru.

Visi : Terwujudnya guru, orangtua dan masyarakat yg berperan aktif meningkatkan kualitas pengasuhan dan pendidikan anak.

Salah satu kegiatannya adalah menyelenggarakan materi pelatihan & pengayaan bagi orangtua & guru PAUD.

Komunitas Rumah Pencerah mempersembahkan pelatihan dengan tema : Menjadi Orang Tua Cerdas

Materi 1 : Memahami Profesi Orang Tua
Pembicara :

  1. Ibu Fery Farhati, S.Psi, MS (Penanggung Jawab Komunitas Rumah Pencerah)–istri dari bapak Anies Baswedan
  2. Ibu Dra. Nurbaeti Rachman

Tanggal : 18 Agustus 2016
Tempat : Rumah Joglo, Jakarta Selatan.

  1. Bagi anak, orang tua adalah sekolah pertama. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam kehidupan anak. Tetapi di sisi lain orang tua pendidik yang paling tidak tersiapkan Menjadi orang tua adalah profesi sepanjang masa, dibandingkan dengan peran-peran lain dalam masyarakat. Tidak ada sekolah formal yang mengajarkan cara menjadi orang tua yang baik atau cara mengasuh dan mendidik anak yang benar.
  2. Kegagalan pengasuhan anak terjadi karena orang tua belum tahu bagaimana mendidik dan mengasuh dengan baik dan benar. Bukan karena kurangnya kasih sayang orang tua pada anak.
  3. Betapa pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Hal ini juga menyangkut kepada masa depan sebuah negara. Pada anak-anak kita titipkan masa depan negara ini. Orang tua harus memiliki ilmu mendidik anak agar mampu mencetak generasi yang kuat. Yang akan menentukan bagaimana Indonesia 20 atau 30 tahun yang akan datang.
  4. Orang tua harus mau belajar menjadi orang tua yang baik, agar anak-anak terhindar dari dahsyatnya era digital yang telah banyak memakan korban.
  5. Kunci pengasuhan yang benar adalah pengasuhan dengan cinta dan kasih sayang sejak usia dini hingga usia 8 tahun. Dimana pada masa ini anak patuh tanpa syarat kepada orang tuanya. Orang tua wajib hadir dalam fase kehidupan anak. Hadir dalam arti benar-benar ada untuk anak saat anak membutuhkan orang tua. Bukan hadir dalam arti fisik dekat tapi hati dan pikiran melayang-layang. Contoh ketika raga hadir dekat anak tapi sibuk dengan gadget. Hadir untuk mendengarkan, hadir untuk melihat sorot mata anak, hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak, hadir untuk memberikan pelukan dan ciuman hangat untuk anak.
  6. Memahami peran sebagai orang tua dan mengenal perkembangan anak dengan menyadari keunikan anak kita, yaitu : dilahirkan dalam keadaan fitrah kebaikan, dilahirkan cerdas, berbeda dan spesial (tidak ada anak yang sama bahkan anak kembar sekalipun. Jadi berhenti untuk selalu membanding-bandingkan), setiap anak membutuhkan orang tuanya.
  7. Mengenali potensi diri sebagai orang tua merupakan hal yang sangat penting. Selalu tanamkan pada diri bahwa kita adalah orang tua yang ahli mengenal anaknya, memiliki kelebihan, menginginkan yang terbaik untuk anaknya, memiliki perasaan yang naik turun, tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan tenang.
  8. Ketahui fakta tentang otak anak :
    • Saat dilahirkan bayi dianugerahi 1.000.000.000.000 sel otak masing-masing dengan 10.000 cabang.
    • Saat lahir hanya 17 persen dari otak bayi yang sudah saling terhubung. Sisanya terhubungkan melalui stimulasi yang diperoleh sang bayi.
    • Lebih dari 90 % perkembangan otak terjadi pada 4 tahun pertama kehidupan anak.
    • Kerja otak yang baik sangat tergantung pada hubungan yang sehat antara anak dan orang disekitarnya. Terutama orang tua dan keluarga dekat.
    • Otak harus digunakan dan dirangsang agar senantiasa tumbuh dan terhubungkan antar sel
    • Kurangnya rangsangan dan pemenuhan kebutuhan anak oleh orang tua dapat menyebabkan ketidakteraturan pada balita yang dapat menghambat perkembangan otak.
    • Dalam masa ini anak membutuhkan kasih sayang, gizi, dan stimulasi.
    • Otak bekerja dengan baik bila : cukup rangsangan, cukup nutrisi, cukup oksigen, cukup kasih sayang dengan penerimaan dan penghargaan.
  9. Stigma anak nakal atau banyak akal merupakan perbedaan kebutuhan antara kebutuhan anak dan kebutuhan orang tua. Kebutuhan anak adalah ingin tahu segala sesuatu, ingin mencoba, ingin menyentuh, ingin merasakan, ingin bergerak bebas. Ini adalah ciri khas anak sehat dan cerdas. Sementara disisi lain kebutuhan orang tua adalah ingin segalanya serba rapi, bersih, beres, teratur, berjalan baik, dan tepat waktu sesuai jadwal.
  10. Maka dari itu orang tua harus menyikapi perbedaan kebutuhan ini dengan bijak. Bila ada situasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita STOP dan tanyakan pada diri kita : apa yang ingin kita ajarkan pada anak kita? Pelajaran apa yang ingin diingat anak kita dari situasi saat ini? INGAT : dahulukan kepentingan anak, demi masa depan mereka. Bukan mendahulukan kepentingan keteraturan sesaat orang tua.
  11. Tanpa penanganan yang tepat, berbagai permasalahan anak akan berkembang menjadi perilaku buruk yang serius seperti : berbohong, bolos sekolah, narkoba, pergaulan bebas, tawuran, mencuri.
  12. Tantangan orang tua juga semakin berat di era informasi dan digital. Semua aspek kehidupan berubah. Termasuk perubahan dalam pola pendidikan dan pengasuhan anak.
  13. Membentuk tim kompak dalam pengasuhan anak. Pengasuhan dalam keluarga melibatkan keluarga besar, yaitu kakek, nenek, paman, bibi, yang juga berada di dekat anak. Anak membutuhkan PANUTAN. Semua kejadian akan menjadi proses belajar bagi anak. Sehingga harus dipastikan bahwa orang dewasa di sekitar anak harus bisa menjadi model, contoh dan panutan.
  14. Peran AYAH dalam pengasuhan anak SANGAT PENTING. Ayah yang ikut berperan dalam pengasuhan anak sejak usia dini memiliki pengaruh yang baik dalam pembentukan pribadi berkarakter. Karenanya dibangun kelekatan emosional yang baik antara anak dengan ayah. Selalu hadirkan sosok Ayah dalam kehidupan anak- anak.
  15. Perbedaan karakter anak dengan kehadiran dan ketidakhadiran ayah.
    Dengan kehadiran figur ayah :

    • lebih cerdas dengan prestasi akademik diatas rata-rata.
    • percaya diri.
    • pandai bergaul.
    • kemampuan sosial yang baik

    Tanpa kehadiran figur ayah :

    • lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal.
    • pergaulan sosial yang beresiko seperti gank.
    • kemampuan sosial yg kurang baik.
  16. Bagaimana membahagiakan anak :
    • membuat diri sendiri bahagia
    • menjadi orang tua bukan hakim yang tugasnya menghukum anak. Kesalahan bukan untuk dihukum tapi untuk dijadikan pelajaran berharga. Kesabaran orangtua dalam mendapingi anak akan menjadi pendorong sukses anak di masa depan.
    • menggunakan seluruh indera untuk mengungkapkan kasih sayang.

Dirangkum oleh : Anita Permata

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s