Home Edu · parenting

Diskusi Buku Bakat Bukan Takdir

Hasil gambar untuk bakat bukan takdir

Catatan : Diskusi ini dilaksanakan di grup WhatsApp “Home Education” pada 11 Agustus 2016 pukul 19.30 – 21.30 WIB

Narasumber  : Bukik Setiawan, penulis  Anak bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir

Referensi artikel :

  1. http://buku.enggar.net/non-fiksi/bakat-bukan-takdir/
  2. https://ridhoadhie.wordpress.com/2016/03/27/review-buku-bakat-bukan-takdir/

Bukik Setiawan.

Setelah menyelesaikan pendidikan S2 Psikologi, ia memutuskan menjadi dosen fakultas psikologi Universitas Airlangga. Setelah menjadi Ketua Lembaga Pengkajian & Pengembangan Psikologi Tetapan & Ketua Program Magister Perubahan & Pengembangan Organisasi, ia mengundurkan diri sebagai dosen PNS. Setelah mundur, ia menjadi fasilitator lepas, pengembang aplikasi bakat anak Takita, pengelola portal bakat anak TemanTakita.com & manajer pengembangan kampus Guru Cikal.

Kegelisahan terhadap dunia pendidikan mendorongnya menulis buku Anak Bukan Kertas Kosong yg memperkenalkan konsep pendidikan menumbuhkan & siklus pengembangan bakat anak. Keinginan membantu orangtua dalam mengembangkan bakat anak berdasar pendidikan menumbuhkan mendorongnya berkolaborasi dgn Andrie Firdaus untuk menulis buku Bakat Bukan Takdir.

“Anak dapat benang merah dari sekolah, benang biru dari tempat les, benang kuning dari teman, benang hijau dari buku, media & internet. Peran orangtua adalah membantu anak merajut semua benang pengetahuan itu menjadi kain kearifan yang indah.” -Bukik Setiawan-

Kata Pengantar

Tantangan Zaman Kreatif

  1. Bukan lagi Seberapa Banyak pengetahuan, tapi seberapa BESAR KEMAMPUAN untuk belajar.
  2. Proses Belajar bukan lagi mengunduh Pengetahuan, tapi MENGUNGGAH KARYA.
  3. Bukan saatnya lagi MEMILIH SATU PROFESI, tapi juga FOKUS MENGEMBANGKAN KEKUATAN DIRI.
  4. Tak lagi hanya kemampuan berproduksi, tapi juga KEMAMPUAN BERKREASI.
  5. Zaman kreatif, bukan lagi memaksakan keseragaman, tapi HIDUP DI TENGAH KERAGAMAN.
  6. Bukan lagi kemampuan berkompetisi yang utama, tapi yang utama adalah KEMAMPUAN BERKOLABORASI.

Pentingnya Orangtua sebagai Pendidik

Anak belajar dari banyak sumber, mulai dari orangtua, buku, sekolah, tempat les, teman, orang dewasa lain, media, internet, dan banyak lain. Belajar dari banyak sumber secara terpisah cenderung membuat anak bertanya-tanya & sering merasa bingung.

Apa hubungan antara matematika dengan bermain piano? Apa hubungan antara membaca Mallory Towers & Lima Sekawan di rumah dgn pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahku? Bagaimana hubungannya aku les fotografi dengan temanku di sekolah yg suka fotografi? Apa sih gunanya aku belajar banyak?

Pada titik itu, peran orangtua menjadi sangat penting. Meski anak bersekolah di sekolah keren, les di tempat seru, punya gawai canggih untuk mengakses internet, punya koleksi buku yg banyak & bagus, punya banyak teman yg unik & pintar, semua itu tdk dapat menggantikan peran orangtua. Mengapa?

Karena orangtualah yg dapat membantu anak merajut semua pengetahuan itu menjadi kearifan yg mengarah pada tujuan hidup anak. Karena orangtualah yg dapat memfasilitasi anak untuk menerapkan pengetahuan menjadi keterampilan & kebiasaan hidup. Karena orangtualah yg mendampingi tumbuh kembang anal dari setiap tahap perkembangannya, dari setiap jenjang pendidikannya. Sederhananya, guru TK berganti guru SD, SMP, SMA, bahkan berganti dosen, tapi orangtua tetaplah setia di sisi anaknya.

Orangtua adalah fasilitator pengembangan bakat anak. Orangtua memfasilitasi proses belajar anak yg mengubah kecerdasan majemuk & minat anak menjadi bakat sebagai modal menuju karier yg cemerlang di masa mendatang.

Tanya Jawab

  1. Bagaimana cara mengetahui minat n bakat seorang anak dan dukungan seperti apa yg dpt dilakukan untuk mendapatkan lingkungan yang baik untuk perkembangan anak?

Dalam psikologi, cara terbaik dalam mengenali seseorang adalah observasi dan wawancara. Cara-cara yang lain adalah pendukung dari observasi dan wawancara. Tapi observasi dan wawancara butuh dipelajari secara khusus. Obrolan buat orang awam mungkin hanya bersifat sosial, tapi buat yang terlatih, obrolan sangat powerfull.Langkah awal untuk mengenali bakat anak adalah mengenali kecerdasan majemuk yaitu pada anak usia 0-7 tahun.

Siklus pengenalan kecerdasan majemuk: stimulasi – kenali – refleksi. Mengapa stimulasi dulu? Karena kecerdasan majemuk sifatnya potensi, hanya bila ada kesempatan maka kecerdasan akan muncul dan digunakan anak. Penting bagi anak mendapat stimulasi yang beragam, setidaknya bisa menggunakan kerangka 8 kecerdasan majemuk dari Gardner. Anak akan memberikan respon terhadap stimulasi tersebut. Respon tersebut yang diingat untuk mengenali kecerdasan majemuk anak. Prosesnya mungkin lebih lama dibandingkan tes kecerdasan tertulis atau finger print, tapi orang tua akan jauh lebih paham dinamika kecerdasan anaknya. Tidak hanya terpaku pada 1 – 2 kecerdasan majemuk semata.

Respon tertentu bermakna, respon yang lain tidak ada artinya. Respon bermakna itu kami sebut sebagai perilaku seru yang ditandai oleh: cepat belajar, asyik mengalami, puas terhadap hasilnya dan ingin mengulang.Semakin banyak perilaku seru berarti semakin kuat suatu kecerdasan majemuk anak. Perilaku seru ini yang kemudian dikomunikasikan dan direfleksikan kepada anak, sehingga yang menyadari kecerdasan majemuk bukan hanya ortu tapi juga anak.

  1. Gimana caranya untuk mengubah mindset orang tua dan keluarga besar mengenai kesuksesan tiap anak berbeda? Sedangkan si anak ini juga tidak mau melawan orang tuanya. Si anak yg diharuskan masuk ke jurusan kuliah tertentu dan anak ini merasa bukan dia, bukan passionnya, merasa tertekan dan hampir bunuh diri. Anak ini sdh punya visi besar yg akan dicapai 2036 tapi orang tuanya adalah tembok besar untuk mencapai mimpi ini.

Ini sangat spesifik ya, apalagi hampir bunuh diri. Perlu sesi khusus. Intinya: yakinkan anak bahwa ada banyak jalan untuk mencapai impian. Berikan contoh kisah nyata berbagai cara tersebut. Apabila anak sudah stabil, baru berpikir tentang cara meyakinkan keluarga/orangtua.

  1. Di jaman yang semakin berkembang seperti sekarang, dimana teknologi canggih bisa diakses dimanapun dan kapanpun…tantangan juga semakin banyak…Hal apa yang paling penting bapak tekankan untuk ananda (agar bisa survive mengikuti jamannya namun tidak terbawa arus)? Di sisi lain mampu menumbuhkan dan mengembangkan bakat minatnya..terima kasih pak..
  1. Kemampuan belajar, dalam artian umum, bukan akademis. Kemampuan mengenali tantangan, merespon secara efektif, merefleksikan dan memperbaiki responnya tersebut.Tips: sering2 tawarkan pilihan pada anak, minta anak memilih, tanyakan alasannya, lakukan dan konsekuen dengan konsekuensinya.
  2. Kemampuan mengelola diri. Zaman berkembang semakin banyak dan beragam stimulasi dari lingkungan. Meski ada yang positif, tapi banyak yang negatif atau gak cocok. Banyak godaan yang menggoda anak kita dari tujuannya. Kemampuan mengelola diri sebenarnya mirip kemampuan belajar tapi sifatnya lebih internal, belajar diri sendiri.Tips: kurangi melarang anak agar anak menghadapi stimulasi dari lingkungan. Perbanyak ajak ngobrol dan mendengarkan bagaimana anak menghadapi tantangan yang dihadapi sehari-hari.
  1. Pada buku BBT, pihak yg paling penting untuk tahu bakat anak adalah anak itu sendiri. Nah, kapan saat yang tepat kita memberitahukannya? Kemudian, bagaimana langkah kita selanjutnya agar ‘pencarian bakat’  tidak selesai sehingga anak terus belajar dan bisa menemukan potensi yg lain, jika ada

Bakat bukan takdir berarti bakat bukan bawaan dari lahir. Bakat bukan apa yang ada dalam diri anak, tapi apa karya yang dihasilkan anak.

kecerdasan majemuk + minat proses belajar bakat.

Bukan anak diberitahu bakatnya, tapi diajak merefleksikan perilaku serunya (seperti saya jelaskan di no 1) agar orangtua dan anak sama-sama menyadari potensi / profil kecerdasan majemuk anak. Mengapa penting anak tahu? Karena anak yang menggunakan kecerdasan majemuk itu.

Bagaimana jadinya bila pemilik kecerdasan tidak menyadari kecerdasannya?

Proses itu dilakukan pada anak pada saat usia 6 – 8 tahun. Setelah itu, masuk ke fase belajar mendalam (7 – 13 tahun). Tugas orangtua memandu anak menemukan fokus belajar (bidang bakat yang akan ditekuni) serta kesepatan mengenai sasaran belajar yang akan dicapai. Setelah menemukan fokus belajar, tugas orangtua memfasilitasi kegemaran belajar, ketekunan belajar, hingga belajar mendalam. Prosesnya tidak linier, tapi dinamis dan kompleks.

Contoh: presentan suara anak ketujuh. Awalnya suka menggambar, kemudian menulis, tapi pada akhirnya berkarya membuat prakarya yang memadukan kecerdasan imaji, bahasa dan tubuh. Pengembangan bakat anak adalah proses sepanjang hayat. Tidak ada kata selesai.

  1. Apakah potensi itu otomatis akan memunculkan minat? Jika punya potensi, maka pasti muncul minat? Artinya, minat anak terhadap sesuatu belum tentu potensi anak itu, dan tidak adanya minat terhadap sesuatu itu bukan berarti tidak punya potensi ya? Apakah potensi dapat diubah?

Ibaratnya ya. Potensi/kecerdasan majemuk adalah mesin pengelola informasi. Minat adalah kesukaan anak terhadap obyek/aktivitas tertentu. Kecerdasan majemuk tidak menentukan, tapi mempengaruhi minat anak. Misal: kecerdasan tubuh akan membatasi minat pada obyek/aktivitas yang melibatkan pergerakan/pengelolaan tubuh

Potensi manusia itu tidak terbatas atau menjadi misteri sepanjang manusia itu hidup. Pengenalan potensi manusia bisa terus menerus dilakukan sepanjang manusia itu hidup. Contoh yang sering saya pakai adalah pendiri KFC, yang kariernya cemerlang ketika usianya suda menjelang senja. Potensi tidak berubah, pemahaman terhadap potensi diri kita yang terus berkembang, atau berubah.

  1. Bagaimana jika stimulus yang anak terima itu dapat dikatakan terlambat. Di atas usia 7 tahun, apakah stimulasi ini bisa optimal dan bagaimana caranya?

Saya menyusun siklus perkembangan bakat yang terdiri dari 4 fase. Setiap fase memang ada batasan usia yang disarankan. Tapi penyebutan siklus berarti proses itu bisa dilakukan berulang kali sepanjang hayat. Jadi sebenarnya tidak ada kata terlambat. Kapanpun, anak tetap bisa berkembang optimal.

  1. 7.Mungkinkah “ada minat tapi tidak berbakat” atau “bakat tapi tidak berminat”? Jika ada, bagaimana jika anak berbakat sesuatu tapi tidak berminat?

Saya ubah kata-katanya ya. Ada minat tapi tidak ada kecerdasan atau ada kecerdasan tapi tidak berminat.

Saya jawab, tidak ada. Pada dasarnya anak (dan manusia) mudah teralihkan fokusnya (mudah tergoda) oleh stimulus dari lingkungan. Jadi ada kesan, minat pada sesuatu tapi tidak ada kecerdasan atau sebaliknya. Ini prosesnya memang berat, karena itu saya membuat satu tugas perkembangan bakat yaitu ketekunan belajar (fase belajar mendalam). Tantangannya bagaimana anak tetap mempertahankan konsentrasinya pada fokus belajar yang telah ditetapkannya (kesepakatan anak dan ortu).

        1. Saya ingin bertanya… Orangtua sebagai coaching sekaligus sebagai fasilitator berarti ada kegiatan menstimulus… Adakah batasan2 orangtua menstimulus anak2nya dalam menggunakan metode2 tertentu,, yang dalam banyak penelitian di anggap kurang tepat tetapi berhasil bagi kita… Bagaimana saran pak Bukik dalam hal ini…

Dalam buku BBT saya menuliskan 6 prinsip stimulasi yaitu :

  1. Kesesuaian.
    Stimulasi harus sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangan anak.
  2. Beragam.
    Semakin beragam stimulasi, semakin anak mendapatkan banyak pilihan dan kaya pengalaman.
  3. Butuh waktu.
    Stimulasi tidak langsung mendapat respons anak, apalagi membuahkan hasil.
  4. Berkelanjutan.
    Stimulasi harus dilakukan berkelanjutan untuk mendapatkan manfaat yang optimal.
  5. Berjenjang.
    Stimulasi diberikan berjenjang kesulitannya sehingga kemampuan anak terus berkembang.
  6. Pilihan pada anak.
    Stimulasi tetap memberikan pilihan pada anak untuk merespons atau tidak merespons stimulasi itu.

Saya bahas khusus ini ya “menstimulus anak2nya dalam menggunakan metode2 tertentu,, yang dalam banyak penelitian di anggap kurang tepat tetapi berhasil bagi kita”. Tidak ada faktor tunggal yang menentukan suatu keberhasilan, sekecil apapun keberhasilan itu. Keberhasilan mensyaratkan kombinasi sejumlah faktor. Seringkali kita sebagai individu mendapatkan kesimpulan secara subyektif.

Contohnya: penggunaan kekerasan. Kita bisa dengan mudah terjatuh pada kesimpulan: kekerasan membuat kita jadi lebih baik sambil melupakan berbagai faktor lain yang mendukung pada saat kita berubah jadi lebih baik. Jadi, saran saya, hati-hati dengan kesimpulan pribadi.

  1. Jika sudah ketemu beberapa kecerdasan majemuknya, kemudian anak setelah beberapa tahun menunjukkan kebosanannya atas kecerdasan tsb, bagaimana saya tahu bahwa itu anak tersebut hanya bosan atau kesalahan kami menyimpulkan kecerdasan majemuk anak tsb?

Setiap kesempatan adalah kesempatan belajar, begitu juga kekeliruan. Jadi jangan khawatir keliru, tapi khawatirlah kita (ortu dan anak) tidak belajar.Karena itu kalau di BBT, saya mendorong orangtua untuk menjadikan anak sebagai mitra belajar, bukan sebagai kertas kosong yang diisi. Pengenalan kecerdasan majemuk semisal, bukan hanya dilakukan orangtua, tapi ortu bersama anak. Bila prosesnya dilakukan dengan benar, maka ortu dan anak akan belajar dari kekeliruan2 yang terjadi. Toh lebih baik segera keliru, karena bisa segera diperbaiki.

  1. Mohon kami diberi contoh stimulasi 8 kecerdasan untuk usia 0-7thn dan adakah tips khusus untuk mencatat semua perkembangan anak?

Ada di buku BBT lengkapnya. Contoh: mengajak anak membaca buku itu bentuk stimulasi kecerdasan aksara dan logika. Mengajak anak bermain balok/lego adalah bentuk stimulasi kecerdasan tubuh, logika dan imaji. Bermain rumah-rumahan menggunakan sprei adalah bentuk stimulasi kecerdasan imaji dan tubuh. Seringkali hal-hal sederhana itu diremehkan orang dewasa, padahal sangat penting buat anak usia dini. Penjelasan asyiknya ada di film The Begining of Life. Sudah nonton? 🙂

  1. Membaca jawaban no 7 , saya memahaminya bahwa kita bisa mengesampingkan bakat/kecerdasan bawaan lahir untuk menekuni minat secara kuat? (reaksi seru dari sebuah stimulus/lingkungan) Jadi kecerdasan (yg bukan bawaan lahir) bisa  muncul dan bisa maestro pd suatu bidang, penekanannya ada pada ketekunan terhadap minat tersebut, Pak?

Satu kecerdasan majemuk itu bisa menghasilkan berbagai bakat. Jadi kecerdasan majemuk semacam rentang yang luas. Misal, kecerdasan aksara bisa menghasilkan bakat penulis buku, editor, pembaca pertama, sastrawan, ahli mengaji, orator, wartawan, dll

Sebaliknya, sebuah bakat tidak cukup dengan 1 kecerdasan. Misal: wartawan adalah kombinasi kecerdasan aksara, kecerdasan logika, dan kecerdasan sosial.Kecerdasan majemuk adalah bawaan lahir. Bakat yang bukan bawaan lahir. Untuk pengembangan bakat, butuh kombinasi kecerdasan majemuk, minat, dan proses belajar (kegemaran belajar, ketekunan belajar dan belajar mendalam).

  1. 12.Bagaimana membedakan mana yang benar2 bakat anak, dan mana yang cuma sekedar ikut2an atau karena pengaruh lingkungan? Atau di biarkan saja, sampai anaknya menyadari bahwa ternyata dia tidak suka?

Dibiarkan memang bisa saja tapi tentu lebih optimal bisa dipandu. Bagaimana membedakan bakat dan sekedar ikut2an? Saya percaya pada usaha dan bukti nyata. Seberapa besar usaha anak dalam menekuni suatu bidang?

Besar kecilnya usaha anak bisa dipandu orangtua selama fase belajar mendalam. Bagaimana orangtua bersama anak membuat tantangan belajar, melakukan, dan merefleksikannya. Jadi misal ya anak saya les piano, meski kami tidak bisa piano tapi kami bisa merawat kegemaran dan ketekunan belajar anak.

Caranya?

  1. Menanyakan dan bila perlu memberi tantangan (bukan perintah, tapi lebih bersifat stimulasi) pada anak.
  2. Meminta dan mendengarkan anak tentang tantangan dan proses belajar yang dialaminya.
  3. Memberi umpan balik terhadap proses belajarnya. Itulah mengapa sebodoh apapun dalam suatu bidang, peran orangtua tidak tergantikan. Karena untuk menjalankan 3 hal itu tidak butuh menjadi maestro piano.
  1. Pak bukik, kalau ternyata minat anak banyak bagaimana cara mengarahkannya untuk bisa fokus, atau malah biarkan dikembangkan semua?

Hehe ini memang tantangan. Jebakannya: fokus pada satu hal atau melakukan semua hal. Saya tidak menyarankan kedua2nya. Jadi setelah ngobrol untuk menemukan fokus belajar (dan sasarannya), anak harus konsekuen dengan kesepakatan itu. Tapi bukan berarti anak tidak boleh melakukan hal yang lain. Anak boleh melakukan hal yang lain selama kesepakatan fokus belajarnya dilakukan.

Saya hanyalah seorang anak yang mempunyai aktivitas dan hobi sama seperti anak-anak pada umumnya. Saya suka mainan seperti Action figures super heroes dan juga suka nonton film. Seperti baru-baru ini saya nonton film Kungfu Panda di mana alur ceritanya menarik dan juga banyak actionnya.” Joey Alexander. (VOAIndonesia.com). Sumber: http://temantakita.com/joey-alexander/

Penutup

Saya hanya ingin menegaskan dan meneguhkan bahwa peran orangtua tidak tergantikan dalam perkembangan bakat anak. Kalau pun kita sebagai orangtua tidak menjalankan peran, anak akan menemukan “orangtua” lain yang akan membantunya mengembangkan bakat. Ambil dan jalankan peran kita. Pahami dan bantu anak untuk berkembang optimal potensinya. Antarkan anak ke pintu gerbang keberhasilan bakatnya, bukan keberhasilan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s