Banten_Hebat · parenting

Kulwap Banten Hebat Banyumas

Selasa malam ini, tanggal 25 oktober 2016, saatnya kulwap Hebat. Kita akan kulwap live dari Banyumas yang insyaallah akan di relay di kota kota lain juga…

Malam nanti kullwap :
🗓Selasa, 25 Oktober 2016

🙋🏻‍♂ kang Firman Muhammad

⏲ pukul 19.30

📃”Pola Mendidik: Ayah sebagai pencari nafkah dan Ibu sebagai pendidik anak itu ternyata SALAH!!”
JANGAN LEWATKAN !!!

[26/10 04.06] ‪+62 898-8571-375‬: *Muhammad Firman*

Usia 37 tahun, kelahiran Ciamis tahun 1979.

Ayah dari 4 orang putra (2 Perempuan, 2 Laki-laki). Istri : Elma Fitria.

Alamat tempat tinggal : Bukit Dago Utara II No. 36, Bandung.
Aktivitas profesional : Konsultan Organisasi dan Praktisi Talents Mapping. Latar belakang pendidikan di ITB Jurusan Biologi angkatan 1997. Sejak mahasiswa beraktivitas di pengembangan SDM di Karisma Salman ITB, Himpunan Mahasiswa Biologi ITB, dan Keluarga Mahasiswa ITB. Sejak lulus fokus berkarir di dunia Pengembangan SDM hingga saat ini.
Sejak tahun 2014 aktif di kegiatan komunitas parenting dengan mengelola komunitas SEMAI 2045 dan Fatherhood Forum.

[26/10 04.06] ‪+62 898-8571-375‬: *Mengapa Seorang Ayah Hanya Mencari Nafkah?*
Sudah jadi fenomena umum di masyarakat kita di mana dalam keluarga, Ayah hanya sibuk mencari nafkah dan hanya istrinyalah yang mengasuh dan mendidik anak. Ada keluarga yang seperti itu karena memang meyakini begitulah pembagian perannya. Ada juga yang meyakini bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama, namun pikiran dan waktu sang Ayah terlalu tersedot ke urusan mencari nafkah sehingga tugasnya tidak tersentuh.
Di dalam Islam telah jelas ditegaskan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab ayah sebagai pemimpin keluarga. Allah ta’ala berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
Seorang tabi’in, Qatadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502).
Selain firman Allah di atas, dalam sebuah hadits dari Ibnu radhiallahu ‘anhu, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).
Begitu juga nasehat seorang sahabat, Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).
Sampai di sini sudah sangat jelas bahwa Allah memerintahkan dan Rasulullah SAW mencontohkan bahwa memimpin dan mendidik seluruh anggota keluarga, istri dan anak, adalah tugas seorang suami/ayah. Maka jika ada yang menganggap bahwa kewajiban seorang ayah adalah sebatas mencari nafkah dan mendidik anak adalah tugas istri, anggapan itu jelas keliru dan tidak berdasar.

*Sadar Tugas tapi Tak Sempat Menunaikan*
Namun yang lebih sering kita jumpai di keluarga muslim adalah para ayah yang sadar akan kewajibannya mendidik anak namun tak sempat menunaikan kewajiban tersebut karena waktu dan pikirannya begitu tersita mengurus pekerjaan dan sumber nafkah. Mengapa mereka terlalu sibuk bekerja dan karenanya pendidikan anak terabaikan?
Sebabnya adalah karena mereka terjebak dalam dua situasi yang keliru :

*Pertama, merasa dituntut oleh keadaan dan khawatir akan kesejahteraan keluarga. Kedua, terlalu berambisi membangun karier dan meraih limpahan kekayaan.*
Bagi yang merasa dituntut oleh keadaan dan khawatir akan kesejahteraan keluarganya, ada beberapa hal yang harus diperjelas kembali di pikiran kita, khususnya para Ayah :

1. Amanah terbesar kita setelah menikah adalah menjadi pemimpin keluarga.

2. Mencari nafkah hanyalah salah satu tugas kita dalam memimpin keluarga.

3. Pada hakikatnya Allah menjamin nafkah kita selama hidup akan tercukupi.

4. Bahwa setiap keluarga akan diuji dengan kekurangan harta, makanan, kesehatan, dll.

5. Tantangan mencari nafkah adalah dalam hal kualitasnya, bukan kuantitasnya.
Mencari nafkah tujuannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau rasa khawatir akan kekurangan nafkah membuat kita terlalu sibuk bekerja dan abai akan pendidikan anak, justru kita akan mendatangkan masalah yang jauh lebih besar daripada sekedar kekurangan harta. Mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin oleh Allah sehingga mengabaikan apa yang Allah tetapkan sebagai tanggung jawab kita adalah kesalahan berganda.

Lalu bagaimana dengan mereka yang kurang memperhatikan keluarga karena merasa harus membangun kesuksesan hidup yang berupa karier yang tinggi dan harta yang melimpah?
Sadarilah bahwa yang dicari dari karier yang sukses, jabatan yang tinggi, dan harta yang banyak adalah kebanggaan dan kehormatan. Sesuatu yang memang sangat mendasar bagi laki-laki. Namun perlu kita pahami bahwa ternyata mencari kebanggaan dan kehormatan dari kesuksesan karier dan kelimpahan harta bukanlah fitrah laki-laki, bukan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Perhatikanlah, di jaman Rasulullah SAW dan para sahabat, laki-laki muslim dewasa di masa itu tidak mencari kehormatan dari jenis pekerjaannya dan jumlah kekayaannya. Kehormatan seorang laki-laki muslim dewasa berasal dari kemampuannya menjalankan perintah Allah, kesungguhannya mendukung perjuangan Rasulullah SAW, kebaikan akhlaknya kepada sesama muslim dan sesama manusia, serta dari kemampuannya memelihara keluarga agar senantiasa dalam kebenaran.
Persepsi bahwa kehormatan seorang laki-laki dilihat dari jenis pekerjaannya, tinggi jabatannya, dan jumlah hartanya adalah persepsi yang baru muncul di akhir zaman dan bersumber dari masyarakat di luar islam. Memang sejak kita lahir persepsi itu sudah menjadi pemikiran mayoritas manusia sehingga persepsi itu begitu merasuk di pikiran kita. Namun jelaslah itu persepsi yang keliru.

Oleh karena itu, solusi dari prioritas kita yang keliru (mengutamakan pekerjaan dan karier sehingga mengabaikan pemeliharaan dan pendidikan istri serta anak) adalah meninggalkan persepsi itu dan kembali kepada cara pandang yang benar sebagaimana Rasulullah SAW contohkan di atas. Kehormatan kita berasal dari seberapa baik kita dalam menjalankan perintah Allah, kesungguhannya mendukung perjuangan Rasulullah SAW, kebaikan akhlaknya kepada sesama muslim dan sesama manusia, serta dari kemampuannya memelihara keluarga agar senantiasa dalam kebenaran.
Lalu apa yang bisa dibantu oleh seorang istri agar suaminya terlepas dari dua persepsi yang keliru di atas? Berikut beberapa saran yang bisa diupayakan :

1. Selalu bersyukur dengan apa yang Allah anugrahkan.

2. Pandailah mengelola harta yang ada agar senantiasa cukup untuk kehidupan sehari-hari.

3. Berhentilah memberikan tuntutan yang tidak perlu terkait harta dan kehormatan.

4. Selama halal, hormati suami apapun pekerjaannya dan berapapun nafkah yang diberikan.

5. Bantulah suami menghadapi tuntutan yang tidak perlu dari orang-orang disekitarnya. Baik itu dari keluarga besar, dari mertua (orangtua anda sendiri), dari anak, dan dari lingkungan sekitar.

*Penutup*
Kerja keras mencari nafkah jadi tidak bermakna jika kehidupan keluarga malah tidak terperhatikan, dan pendidikan anak-anak terabaikan hingga masanya mereka tidak lagi mau mendengarkan dan dididik oleh Ayahnya. Oleh karena itu, kita para ayah harus lebih memikirkan bagaimana pengasuhan dan pendidikan anak di keluarga daripada memikirkan pekerjaan. Pikirkanlah pekerjaan secukupnya saja. Agenda utama kita adalah mengayomi, menaungi, dan membina keluarga.
Tugas kita mendidik anak adalah tugas yang tidak bisa dialihkan. Seperti apapun sikap kita di tengah keluarga akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang fisik, rasa, akal, dan ruhiyah anak. Anak-anak membutuhkan ayahnya menjadi contoh yang baik dalam beribadah dan berinteraksi di rumah. Anak membutuhkan ayahnya menjadi teman bermainnya, menjadi tempatnya bertanya, menjadi pelatih dan juga pelindungnya.
Dari bagaimana Ayahnya berinteraksi dengan lingkungan, anak mendapatkan persepsi yang benar akan dunia luar. Bagaimana ia bisa berinteraksi dengan baik dengan dunia luar, terbuka namun juga tetap punya identitas dan prinsip, semua itu adalah tugas pendidikan yang harus dipenuhi oleh seorang Ayah. Tugas Ayah dalam mendidik anak sangatlah banyak.
Sebagai penutup perenungan kita, mari perhatikan bagaimana Rasulllah SAW berpesan : Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).
Mari jernihkan lagi pemikiran kita, lalu luruskan kembali prioritas hidup kita.

Tanya Jawab :

[26/10 04.09] ‪+62 898-8571-375‬: Bismillahirrahmaanirrahiim.

[26/10 04.09] ‪+62 898-8571-375‬: Ayah bunda yang saya hormati, malam ini apa yang akan kita diskusikan bersama intinya sederhana : mengelola keluarga dan mendidik anak adalah salah satu tugas utama seorang ayah.

[26/10 04.09] ‪+62 898-8571-375‬: sebaik-baik seorang muslim yang sudah menikah adalah yang paling baik kepada keluarganya.

[26/10 04.10] ‪+62 898-8571-375‬: tujuan dari diskusi ini adalah kejelasan persepsi baik di pikiran para ayah maupun para bunda, bahwa tugas ini sangat penting, dan tidak boleh setengah-setengah dalam mengembannya. lebih penting dari komitmen seorang laki-laki terhadap pekerjaan atau bisnisnya.

[26/10 04.10] ‪+62 898-8571-375‬: komitmen terhadap keluarga adalah bagian dari komitmen kepada agama. Urusannya langsung sama Allah, role model acuannya langsung Rasulullah SAW.

[26/10 04.10] ‪+62 898-8571-375‬: Berhubung materi sudah disampaikan di awal, saya akan langsung menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang sudah masuk.

[26/10 04.10] ‪+62 898-8571-375‬: Saya akan menanggapi mulai dari pertanyaan yang pokok dan sederhana, kemudian ke pertanyaan yang lebih mendalam atau pertanyaan yang bersifat tambahan (tidak terlalu terkait erat dengan topik).

[26/10 04.10] ‪+62 898-8571-375‬: 1⃣ Bunda Latifah-Banyumas

Bagaimana cara menyeimbangkan peran ayah sbg pencari nafkah dg peran pendidik dlm keluarga. Karena yg mungkin byk terjadi memang waktu ayah di rumah sangat terbatas.

[26/10 04.10] ‪+62 898-8571-375‬: Ayah bunda yang saya hormati, seimbang di sini dapat diartikan keduanya berjalan dengan baik. Maka kita mesti tahu batasan masing-masing kewajiban dapat dikatakan baik. Mencari nafkah itu dapat dikatakan berjalan baik jika sang ayah memiliki sumber nafkah yang halal dan mencukupi kebutuhan pokok keluarga. Adapun mendidik keluarga dapat dikatakan baik jika Sang Ayah mampu menjadi teladan serta mampu memfasilitasi seluruh fitrah anak-anaknya bertumbuh dengan baik. Mulai dari fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah gender, fitrah perkembangan, hingga fitrah bakat.

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: 2⃣ Bu Indri – HEbAT Bandung

Kalau seorang suami pekerjaannya melayani orang banyak dan tugas itu sudah dilakukan sebelum menikah jadi secara langsung pendidikan anak 60% dilakukan istri sedang suami hanya 40% tapi visi dan misi serta kendali tetap dari suami dalam mangayomi keluarga dan untuk rizqi alhamdulillah istri dan suami selalu bersyukur kira-kira  itu bagaimana ya?

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: 3⃣ Pak Neka. Tangerang.

Kang Firman, seperti materi yang disampaikan bahwa ada pandangan sebagian orang bahwa tugas Ayah adalah mencari nafkah dan ibu mendidik anak. Bagaimana cara merubah mindset seperti ini?

Jika kondisinya seorang Ayah yang bekerja dari pagi sampai malam, bagaimana cara mensiasatinya agar masih bisa menjadi Ayah yang baik?

Jika seorang Ayah baru tersadarkan akan tugas mulia tersebut, apa2 saja yang harus dipersiapkan dan dipelajari? Adakan literatur2 yang bisa direkomendasikan sebagai pedoman menjadi seorang Ayah yang baik?

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: Cara mengubah mindset yang keliru tentang cara mengelola keluarga adalah *dengan menyadari bahwa menikah dan berkeluarga adalah ibadah yang besar, dan ibadah ini ada contohnya dari Rasulullah SAW*

Dengan begitu kita akan mau mengevaluasi apakah ibadah ini sudah kita laksanakan dengan benar atau tidak? apakah kita sudah sesuai dengan acuannya?
Untuk para ayah yang bekerja dari pagi sampai malam, mohon atur waktunya agar anak-anak bisa berinteraksi di awal hari sebelum anda berangkat kerja. Itu minimal sekali. Jadi kalau malam tidak sempat ketemu karena sudah tertidur saat anda pulang, minimal subuh masih ada interaksi.

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: Apa yang perlu anak-anak kita rasakan di subuh hari dari interaksi dengan orangtuanya? minimal interaksi yang menumbuhkan fitrah iman. Anak-anak melihat bahwa kita sekeluarga terbangun di awal hari untuk beribadah kepada Allah. Ibadahlah yang membuat kita bangun di pagi hari. Bukan karena mau kerja atau mau sekolah. ✅

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: Apa ada tanggapan ayah neka…

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: Bagi kita yang ingin memperkuat komitmen dan kesadaran kita akan amanah ini, mari pelajari lagi ayat-ayat AlQur’an yang terkait keluarga, contoh-contoh langsung dari Rasulullah SAW, serta belajar langsung kepada ulama yang ilmunya benar terkait keluarga.

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: Saya merasa dapat banyak manfaat bisa belajar dari Ustadz Adriano Rusfi, Ustadz Harry Santosa, dan Ustadz Fauzil Adhim.

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: Buku-buku terkait keluarga yang bagus juga saya rasa sudah banyak dan mudah didapat ✅

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: 4⃣Kang Eka Saripudin, bogor

Pendidikan yg seperti apa yg bisa di nilai sebagai menjalankan dr perintah Allah dr hadits di atas?

Ayah terlalu sibuk bekerja seolah2 meninggalkan tugasnya sebagai pendidik? Apa solusi dr ayah yg memang memiliki jabatan yg strategis sehingga waktunya habis di kantor? Pekerjaan strategis itu bisa sebagai pemangku kebijakan atau karena pegawai dasar yg tdk bs pulang sebelum bos pulang?

Keyakinan terhadap rizki telah di atur oleh-Nya, bagaimana cara memahaminya?

Apakah bs pendidikan ayah “amanahkan” ke istri? Dan tentunya sang ayah memberikan pengajaran ke istri ttg pentingnya pendidikan?

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: Alhamdulillah bagi kita di komunitas HEbAT ini, pertanyaan pertama mudah diketahui jawabannya. Pendidikan bisa dikatakan menjalankan perintah Allah jika kita telah mendidik anak sehingga selalu lurus di dalam fitrahnya. Seluruh fitrahnya berkembang dengan benar dan lurus. Mulai dari fitrah keimanan hingga fitrah gender dan fitrah bakat. Seluruhnya ✅

[26/10 04.11] ‪+62 898-8571-375‬: Terkait ayah yang sangat sibuk, sekali lagi kita harus menyadari bahwa semua kesibukan kita ada dalam kendali kita. Kita bisa memilih pekerjaan yang proporsional sesuai dengan kondisi kemampuan dan keluarga kita. Jika ditawari sebuah jabatan strategis, misalkan jadi walikota, perhatikan dulu kesiapan keluarga, apakah mereka sudah sangat kokoh? Kalau belum siap, tidak harus memaksakan diri. Seorang laki-laki baru dapat dikatakan KOMPETEN untuk menerima sebuah pekerjaan jika ia juga tahu dan mampu menyeimbangkan urusan pekerjaan dan keluarga. Kalau menerima pekerjaan bagus tapi keluarga terabaikan, berarti belum kompeten.✅

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: kalau ayah dan ibu berbeda seperti ini, apa anak tidak merasa bingung?perlukah kita terus2an mengingatkan suami atau berkomunikasi terlebih dahulu sebelum menerapkansesuatu?nuhun

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Terkait keyakinan bahwa rizki telah diatur oleh Allah, itu dibangun dengan ilmu yang benar. Jika kita sungguh-sungguh memahami AlQur’an, mendengarkan apa yang Rasulullah SAW sampaikan, menyimak pemahaman para Ulama yang mengkaji bab ini, Insya Allah kita akan punya pemahaman yang jelas dan kuat. Tentu pemahaman itu akan diuji dalam kehidupan sehari-hari. Bersabarlah. Dan pastikan suami juga mengajarkan kepada istrinya untuk bersabar soal rejeki/nafkah ✅

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Pelaksanaan pendidikan anak bisa dipercayakan kepada istri selama suami sudah memberikan arahan dan keteladanan✅

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Pelaksanaan pendidikan anak bisa dipercayakan kepada istri selama suami sudah memberikan arahan dan keteladanan✅

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: 5⃣Amel – HEbAT Bandung

Mana yg lbh penting dlm hal peran ayah mngasuh anak di rumah, Kualitas/kuantitas? Mohon contoh realnya. Msl : apakah sbaiknya ayah plg lbh cepat agar bisa memiliki bnyk waktu untuk bermain dgn anaknya. Dll. Mengingat sang ayah jg ingin bisa bermanfaat di ranah publik dan pekerjaannya brhubungan dgn bnyk org.

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Prinsip mendidik anak : hadir pada waktu yang tepat, kualitas yang memadai, serta jumlah waktu yang cukup.

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: ini berlaku baik untuk ayah maupun bunda.

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Kita mesti memahami proses tumbuh kembang anak. Kapan anak membutuhkan kehadiran ayah? dalam hal apa? seperti apa yang dikatakan kualitas memadai itu? dan seberapa waktu yang disebut cukup?

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Setiap fase usia anak punya kebutuhan yang berbeda. anak laki-laki dan perempuan juga punya kebutuhan yang berbeda.

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Tergantung konteks perbedaan dalam hal apa.d Namun secara garis besar jika perbedaan hanya karena perbedaan pola pikir atau situasi yang terpaksa suami istri tampak berbeda maka tetap obrolkan tanpa berdebat di depan anak2. Dengan begitu anak2 pun melihat bagaimana suatu perbedaan di rumahnya bisa saling tetap dihargai.  Dan poin penting bagi saya adalah bagaimana pasangan kita tidak jatuh kredibilitasnya di depan anak-anak.

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Jadi sekali lagi, para Ayah, pahamilah apa yang menjadi hak anak dari dirimu. Sebelum memberi manfaat bagi masyarakat di luar sana, tunaikan dulu hak anak dan istrimu. Karena sesungguhnya ada juga yang namanya orangtua durhaka itu ✅

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: 6⃣ Yardha – HEbAT Surabaya dan Fiena Rifanty – HEbAT Bandung

Bagaimana mensinergikan kerja sama antara suami dan istri dalam mendidik anak jika kondisi berjauhan (LDR)? Bagaimana apabila kondisinya mengharuskan LDR dengan porsi keterlibatan ayah yang terbatas terhadap pendidikan anak? Kiat apa yang bisa dilakukan agar keseimbangan peran ayah tetap terjaga dalam pendidikan anak-anaknya. Kemudian langkah konkrit apakah yang bisa dilakukan, mengingat tidak setiap waktu seorang Ayah bisa standby dengan kondisi anak-anak dan keluarganya?

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Sangat perlu… nanti di MIP ini juga akan dibahas bagaimana mengsinergikan kekuatan/potensi dari masing2 anggota keluarga.

Jika suami mau diajak untuk berubah dan bekerja sama, itu anugerah besar buat kita. Tapi jika belum mau… maka sudah jadi kewajiban.bagi seorang ibu untuk Act Now!

Karena Ibu memegang peran, agent of change…

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Bagi Ayah Bunda yang harus LDR karena tugas kerja sang ayah misalnya, pastikan syaratnya terpenuhi. Kalau syarat terpenuhi, Insya Allah semua akan tetap baik-baik saja. Nabi Ibrahim dan Hajar serta Ismail pun LDR.

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Jadi LDR ada syaratnya. Sebelum LDR, harus sudah selaras misi, visi, nilai dalam pernikahan dan dalam pengasuhan antara suami dan istri. Dan itu semua sudah berjalan dengan baik, bukan baru dikonsep di pikiran. Sudah harus berjalan dengan baik saat bersama, baru suami bisa berangkat karena tugas dan menitipkan pengasuhan dan pendidikan anak ke istri.

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Kalau seorang suami sudah mampu menjadi teladan dalam hal-hal yang mendasar hidup ini, istri akan mudah untuk mentranfer model tersebut dalam pendidikan anak. Istri akan mudah untuk menghadirkan sosok ayah ke hadapan anak meski fisik sang ayah di seberang pulau.

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: Jadi sebelum LDM, Ayah, jadilah sosok yang matang dan benar-benar layak diteladani

[26/10 04.12] ‪+62 898-8571-375‬: 🙏LDR diganti jadi LDM

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: 7⃣Bunda Yulianti-Bandung

Mengenai apa yg harus dilakukan oleh seorang istri untuk membantu suami terlepas dari dua persepsi salah tersebut, di poin 5 menyebutkan bahwa istri harus bisa menghadapi tuntutan dari orang-orang sekitar. Bagaimanakah bentuk dari tuntutan tersebut? Bagaimana cara yg seharusnya dilakukan oleh kami (para istri) untuk menghadapi tuntutan tersebut?

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Ayah Bunda, dari sekitar kita, banyak persepsi dan tuntutan yang keliru berdatangan dan bisa mempengaruhi pikiran ayah bunda. Misalkan : rumah kontrakan itu tidak cukup, tidak pantas. Harus segera punya rumah sendiri. Seorang ibu lulusan perguruan tinggi negeri jangan hanya di rumah saja, sayang ijazahnya, dan lain sebagainya.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Banyak persepsi di sekitar kita yang bisa membuat ketenangan keluarga terusik, keseimbangan bekerja dan mendidik anak jadi terganggu, karena apa yang sebenarnya sudah cukup dianggap tidak cukup.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Harus punya On Track Value…

Manajemen waktu itu bukan sekedar jadwal kegiatan, tapi juga mengurutkan dan memilah kegiatan sesuai priority check list..

Jadi ketika ada kegiatan yg off track.. maka jangan dilakukan.

Priority check list ini juga harus didiskusikan bersama seluruh anggota keluarga, agar kegiatannya seimbang..

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Saat refreshing bisa diisi dengan kegiatan yg sejalan dgn kegiatan rumah. Misal penanaman tauhid bisa sambil saat jalan-jalan..ekspolarasi intellectual curiosity dst. Yg lbh terlihat tentu saja menanamkan kedekatan. Jadi gunakan sebaik-baiknya kesempatan.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Seorang istri bisa mendukung suami dengan sama-sama memelihara persepsi yang benar, sama-sama pandai bersyukur, sama-sama fokus kepada apa yang pokok dari keluarga. Kalau misalnya orangtua sang istri mempertanyakan menantunya yang gajinya tidak seberapa, perusahaannya hanyalah perusahaan kecil, tegakkan kehormatan suami di mata orangtua anda.
Seorang suami akan mantap hidup seimbang antara keluarga dan pekerjaan jika istrinya pun mantap dengan keyakinan sang suami ✅

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Kalo menurut sy, kepulangan suami n refreshing jadikan prioritas utama keluarga krn kepulangannnya 2 minggu skali, jadikan waktu dgn suami sbg waktu ug berharga utk kita n anak2. Tidak apa2 jika baru bisa mengerjakan pekerjaan rumah stelah pergi jalan2 dgn suami n anak2.

Nggak pa2 anak belajar stelah pulang dari refreshing bersama ayahnya. Karena waktu kebersamaan bersama ayahnya lebih penting dari bagi pertumbuhan jiwa mereka. Ingat waktu tidak bisa diputar mundur. Nanti saat mereka mandiri dan dewasa, kenanganlah yg jadi memori yg paling berharga bagi kita orang tuanya terutama bagi ayahnya yg jarang dirumah.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: 9⃣ Bu Pipin, bogor

Bagaimana/upaya dr istri untuk menyadarkan suami akan tanggung jawabnya Mendidik keluarga?  Kalau saran 1-5 itu sy sbg istri tdk pernah menuntut hal2 materi. Hanya, krn terlalu sibuk dgn pekerjaan Kantor, sosok ayah sebagai pendidik sangat minim bahkan belum tergambar.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Bagi para Bunda yang saya hormati, jika seorang suami belum sadar akan tanggung jawabnya dalam mendidik keluarga, sekurangnya ada dua hal yang bisa dilakukan :

1. Selalu bertanya dan minta arahan suami terkait segala hal di rumah tangga, khususnya pendidikan anak.

2. Bantulah suami untuk menjaga ibadahnya dengan baik dan ada kemauan untuk berinteraksi dengan para ayah yang lain di lingkungan anda, dengan rutin shalat berjamaah di masjid. Insya Allah seorang laki-laki yang rutin shalat di masjid akan Allah mudahkan baginya untuk mendapatkan ilmu yang cukup untuk menunjang ibadahnya, termasuk ibadah mendidik keluarga.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Dengan senantiasa meminta arahan suami, maka sebenarnya suami sudah terlibat dalam pendidikan anak, meski memang belum banyak terlibat. Insya Allah seiring waktu akan membaik ✅

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: 9⃣Bu Ardiani, bogor

Assalamu’alaikum pak Firman, Anak saya sekarang 23 tahun, insya Allah suatu saat akan menjadi seorang ayah, Bagaimana mempersiapkan anak laki laki agar kelak dapat menjadi ayah yang baik sesuai pesan Rosulullah, tanpa mengenyampingkan kewajiban dia sebagai seorang yang harus memenuhi nafkah anak dan istrinya, jazakallah khoir.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Ayah Bunda, mempersiapkan seorang anak laki-laki untuk menjadi seorang ayah yang baik adalah dengan menghadirkan sosok teladan. Maka ayahnya harus memberikan contoh bagaimana ayah yang baik itu. Benar Aqidahnya, benar ibadahnya, baik akhlaknya, halal dan barokah nafkah yang dibawanya, luas ilmunya, dan matang karakternya. ✅

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: 1⃣0⃣Siti Aisah – HEbAT Bandung

Bagaimana menyiapkan anak laki2 remaja supaya nanti jika dewasa mereka menjadi sosok ayah yang penyayang, tangguh, rajin bekerja dan perhatian terhadap pendidikan keluarga nya, sedangkan anak laki2 saya kehilangan sosok ayah karena ayah dan kakek sudah tidak ada, keluarga pun jauh.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Bagi anak-anak yang kehilangan sosok ayah, disinilah menjadi penting arti Community Based Education (CBE). Dengan adanya komunitas maka sang anak akan mendapatkan sosok teladan, meski itu bukan ayah kandungnya sendiri. Maka ibu mesti mengupayakan agar ibu dan anak dapat menjadi bagian dari komunitas dan sering berinteraksi langsung. ✅

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: 1⃣1⃣ Bu Laila, Bogor

Si kakak (4,5y) belum saya sekolahkan, saya didik di rumah atas kesepakatan saya dan suami. Tapi kami agak sedikit berbeda keinginan. Saya menekankan pendidikan akhlak dan tauhid yg paling utama. Saya ingin lebih dulu menumbuhkan fitrah keimanan si kakak sedangkan ayahnya, ingin saya mengutamakan calistung. Padahal sampai sekarang saya juga mengajarkan calistung meski tidak secara langsung. Hanya lewat berbagai aktifitas. Mohon nasihatnya.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Menurut saya, perbedaan keinginan ini masih bisa dikompromikan dalam bentuk berjalan seiring. Yang penting sang ayah merasa melihat anaknya dikenalkan calistung (tentu mengingat faktor usia maka kenalkan seminimal mungkin sekedar untuk membuat suami merasa keinginannya terakomodasi). Selebihnya memang kita maksimalkan pendidikan fitrah keimanan. Sebisa mungkin hindari perdebatan dari perbedaan keinginan ini. Mudah-mudahan ibu bisa menemukan cara yang pas agar suami memahami bahwa untuk saat ini tidak perlu terlalu menuntut banyak dalam belajar calistung. ✅

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: 1⃣2⃣Bunda Sari, bogor

Saya mendapat pertanyaan dari seorang ibu ketika putrinya akan menikah, dia kebingungan siapa yang akan menjaga calon cucunya jika putrinya kembali bekerja setelah melahirkan. Beliau berdalih sayang jika putrinya meninggalkan karir, karena beliau menyayangkan pendidikan tinggi yang diperoleh putrinya. Bagaimana teknis praktikal mengubah paradigma-paradigma ini, dimulai dari lingkup sederhana/terkecil.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Bunda Sari, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang harus mampu dijawab oleh suaminya nanti. Suaminya yang harus bisa meyakinkan bahwa istrinya yang cerdas dan terpelajar itu akan dapat memanfaatkan hasil pendidikan tingginya serta mampu berkarir pada saat yang tepat. Jadi seorang suami harus mampu menyusun strategi agar setiap fase pernikahan dan keluarga berjalan optimal.
Banyak wanita bisa berkarir dengan baik setelah fase-fase pengasuhan dan pendidikan anak yang mendasar telah terlalui dengan baik ✅

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: yang bisa Ibu sampaikan kepada orangtua yang mengkhawatirkan karir anak putrinya adalah : mendeskripsikan bahwa fase hidup wanita itu banyak dan dinamis, tidak datar/linier seperti fase hidup laki-laki. Berikan contoh-contoh mereka yang sukses mengaktualisasikan diri setelah sebelumnya total mengasuh anak ✅

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: 1⃣3⃣ Umi Fatih-Banyumas

Jadi saya punya keponakan. orang tuanya dah g ad semua. keduany meninggal kecelakaan waktu lebaran kmr. jd anakny 5 yatim piatu skrg. nha yg bermasalah anak yg ke3. kls 6 sd tp g pnya semangat blajar. cuek bgt sma sekolah. apalagi buat  ulangan kadang ditanya seragam aj jwbny g thu. antusiasny sama game. klo g boleh ngegame dah jd sakit. mang kecanduan bgt. bagaimana solusinya.

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Umi Fatih yang saya hormati, mohon maaf lho ya, bagi 5 orang anak yang baru saja kehilangan orangtuanya karena kecelakaan, sekaligus kehilangan ayah bunda, maka yang penting bagi mereka adalah upaya pemulihan dan pendampingan agar bisa hidup dengan normal kembali. Tentunya musibah itu sangat memukul perasaan mereka. Jadi menurut saya, sekolah itu tidak penting. Yang penting adalah, mereka merasa kembali mendapatkan orangtua dan kembali berkeluarga secara utuh. Misalnya dengan menjadi anak angkat dari paman atau bibinya. Lalu beradaptasi agar bisa berinteraksi sehari-hari di rumah dengan tenang.
Kalau ada yang kemudian kecanduan game, sangat mungkin itu adalah caranya meredam trauma atau kesedihan. Mohon beri perhatian khusus kepadanya agar ia dapat hidup dengan tenang dan bahagia secara normal.  Menurut hemat saya, sang anak membutuhkan pendampingan psychoterapist. ✅

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: 1⃣4⃣ Muh. Masbuchin-Jogja

pertama apa batasan antara anak smp antara laki dan perempuan yang saling suka…kemudian bagaimana cara menyampaikannya kpd anak kita yg terbuka ungkapkan rasa sukanya pada temennya…dan si anak bertanya bagaimana kalau hubungannya minta lebih daripada sahabat?

[26/10 04.13] ‪+62 898-8571-375‬: Pak Masbuchin yang saya hormati, batasan antara anak laki dan perempuan usia SMP yang sudah saling suka adalah tidak ada interaksi berdua baik secara fisik maupun komunikasi intens di handphone misalnya. Saya asumsikan keduanya sudah baligh. Interaksi berdua akan sangat beresiko karena akan ada syahwat di sana.
Ayah harus menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dalam interaksi dengan lawan jenis. Jelaskan dengan lugas apa adanya. Jika ingin lebih dari sekedar sahabat, pilihannya adalah menikah. hanya itu.
Yang terpenting, khususnya untuk Ayah yang anaknya perempuan, situasi tersebut adalah tanda bahwa kedekatan antara anda dengan anak perempuan anda perlu benar-benar diperkuat. Tegaskan dengan cara yang halus dan baik bahwa anak perempuan anda belum membutuhkan sosok laki-laki selain Ayahnya. Maka pastikan anda hadir dalam hidup putri anda. Jika tidak, akan akan laki-laki lain yang diijinkan masuk oleh putri anda ke dalam hidupnya, padahal belum saatnya ✅

[26/10 03.48] +62 898-8571-375: 1⃣5⃣ Yuni. Tangerang

Bila kondisi sudah ideal semisal ayah dan bunda full dirumah dan anak terintegrasi kondusif dirumah. Siapakah yg hrs lebih dominan didalam mendidik secara teknis kpd anak2. Dan brp besar porsinya antara ayah dan bunda. Apakah ayah sebagai konseptor saja dan teknis diserahkan ke bunda. Atau berperan selaras dan penguatannya seperti apa?

[26/10 03.48] ‪+62 898-8571-375: Dalam kondisi yang ideal sebenarnya tidak ada patokan yang baku tentang besar porsi peran pengasuhan, karena masing-masing punya peran yang berbeda. Meskipun tentu bisa juga mengambil peran yang sama dalam hal-hal tertentu.

[26/10 03.48] ‪+62 898-8571-375: Misalkan : memasak tidak harus diajarkan oleh ibu ke anak-anaknya. Bisa juga ayahnya yang mangajarkan hal itu.

[26/10 03.48] ‪+62 898-8571-375: Namun yang paling sederhana : Ayah harus jadi teladan bagi anak laki-laki, Ibu jadi teladan bagi anak perempuan.

[26/10 03.48] ‪+62 898-8571-375: Kalau sudah benar-benar sinergis, pasangan suami-istri bisa mengambil peran sesuai dengan kepribadian unik masing-masing. Pada kenyataannya, tidak setiap ayah adalah seorang pemikir konseptual. Jadi tidak harus bahwa konsep-konsep pengasuhan selalu merupakan hasil pemikiran sang ayah. ✅

[26/10 03.48] ‪+62 898-8571-375: 1⃣6⃣ Fitri Tangerang

Td dikatakan bg yg sdh tdk memiliki ayah, aktif dlm CBE itu sangat membantu, tp bagaimana menghilangkan perasaan minder utk gabung (ikut kegiatan off line) krn pastinya yg lain akan hadir dg pasangan mrk, begitu jg dg anak2 yg akan sedih melihat yg lain bsama ayah mrk.

[26/10 03.48] ‪+62 898-8571-375: Bawalah anak-anak aktif di CBE dengan niat sebagai ibadah. Sehingga dengan begitu tidak terlalu dibebani pikiran “apa pandangan orang kepada kami”. Karena niatnya Ibadah, pikiran kita fokus kepada Allah. Seiring dengan itu, saya sangat menganjurkan untuk selalu terbuka atas pilihan untuk menikah lagi. Agar anak-anak memiliki ayah, dan bunda memiliki suami yang menjadi wali, menafkahi, dan menaungi bunda.

[26/10 03.48] ‪+62 898-8571-375: Sejauh pemahaman saya, di masa Rasulullah SAW dan para sahabat, setiap wanita yang memiliki anak namun sudah tidak bersuami, akan dicarikan suami. Insya Allah dengan hadirnya sosok suami dan ayah kebutuhan pendidikan dan naungan dalam rumah tangga akan terpenuhi dengan baik ✅

[26/10 03.48] ‪+62 898-8571-375: Ayah Bunda yang saya hormati, khususnya para Ayah, mari kita tenangkan pikiran dan perasaan kita sejenak dari urusan-urusan yang memenuhi pikiran kita. Dalam ketenangan itu, mari kita bersyukur atas semua yang Allah anugrahkan kepada kita. Istri sholehah dan anak-anak yang memperkaya hidup kita.
Dalam perasaan syukur itu, lalu pikirkanlah apa sebenarnya yang mereka butuhkan dari kita, apa hak mereka atas kita, dan apa yang memang menjadi kewajiban kita kepada mereka. Allah sudah menjelaskan. Rasulullah SAW sudah mencontohkan.
Dengan gambaran yang jelas itu, mari jalani hidup kita dengan tenang. Yang penting kita pentingkan. Yang tidak penting tidak perlu diambil pusing. Kepemimpinan seorang ayah dimulai dari kesadaraan dan kejelasan akan apa sebenarnya yang menjadi tanggung jawab kita, dan karenanya menjadi prioritas hidup. Jangan sampai yang penting terabaikan, yang tidak penting justru dikejar-kejar.
Kejelasan pemikiran kita Insya Allah akan memberikan arahan untuk kehidupan keluarga. Istri pun akan dengan tenang dan penuh semangat mengikuti panduan kita dalam hidup bersama ✅

[26/10 03.49] ‪+62 898-8571-375: Boleh share sedikit yaa ayah bunda… Dan punten kang Firman… Mohon dikoreksi kalo ada kesalahan dan kekurangan….

Kemarin bikin “Master Mind”… Teringat dalam hal ‘hikmah apa yang ingin di bagi’… dan ini mungkin  berkaitan dengan pertanyaan bun Pipin dari bogor… (sekali lagi mohon dikoreksi bila salah persepsi) dalam perenungan2 untuk memperbaiki diri… saya copas MM saya pada bagian terakhir…

(🆗Hikmah apa yang ingin dibagi?

Hikmah yang ingin saya bagi adalah bahwa setiap pribadi khususnya perempuan hendaknya belajar betul-betul memahami posisi dirinya sebagai pribadi, keluarga, dan anggota masyarakat. Dengan memahami posisi diri kita sendiri maka kita sebagai perempuan/ibu akan mudah melaksanakan tugas sebagai anggota keluarga dan masyarakat dengan baik dan benar serta bisa menempatkan diri dengan tepat sekalipun di saat kondisi yang TIDAK IDEAL. Baru kemudian kita bisa membantu anggota keluarga dan masyarakat lain melakukan tugasnya dengan benar serta dengan kesadaran penuh menempatkan diri sesuai perannya dalam lingkup keluarga dan masyarakat.

Saya pribadi melihat ke diri saya sendiri memang belum banyak bisa memberikan manfaat dan kebaikan2, juga belum berkorban sebagai balasan jasa atas kebaikan dari orang2 sekeliling saya yang sudah mereka berikan untuk saya.

Di sini saya semakin bersyukur dan merasa beruntung dikelilingi oleh orang2 yang mengasihi dan mencintai saya tulus apa adanya. Dan ini menguatkan tali kasih sayang saya terhadap keluarga.

Saya jadi semakin yakin bahwa keberhasilan sebuah keluarga adalah karena mereka fokus dan sangat kuat MENAJAMKAN Visi Misi KELUARGANYA. Karna dari situlah sebuah keluarga dapat menjadi PENYEBAR KEBAIKAN ke dunia ini…

Dann…dalam proses menuju cita2, dalam beberapa hal ternyata (diperlukannya juga) betapa besarnya peran seorang istri dan ibu yang berVisi kuat dalam membentuk sebuah keluarga. Karna dengan ini — istri dan ibu yang kuat Visinya akan sekuat tenaga mengeluarkan daya dan upayanya untuk mengarahkan semua anggota keluarganya mendukung tercapainya mimpi semua keluarganya itu… Termasuk mempersiapkan Suaminya.

Sekali lagi ini membuat diri saya tersadar bahwa saya masih fakir ilmu… masih miskin ilmu…

Betapa kita sebagai seorang istri dan ibu tidak bisa maju sendirian… Membutuhkan suami/ayah yang harus maju juga. Sebagai istri saya berusaha dan masih mencoba untuk menguatkan Suami mengeluarkan potensi-potensi yang dimilikinya agar sejatinya menjadi Qowwam bagi saya, anak2nya kelak, dan keluarga besarnya. Karna sebagai kepala rumah tangga fokus akhiratnya adalah membawa istri dan anak2nya…tidak bisa sendirian.

Namun dibalik itu semua… Apapun kondisi saat ini yang saya miliki adalah yang terbaik bagi saya pribadi dan patut saya syukuri.

Apapun yang saya lakukan semua dengan KESADARAN dan KESABARAN yang dilandasi dengan KEYAKINAN diberi jalan dan diRidhoinya langkah kecil saya dan suami menjalankan semua amanahNya..semoga kami dapat menjalankan amanah2 ini sebagai Khalifatul fil’ ardh – pemimpin di muka bumi – dan memimpin dimuka bumi sebagai tanda syukur dan ibadah kepada Allah SWT. In sya Allah… Aamiin…

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s