all about translation

Diksi in Translation

Belajar, belajar dan terus belajar..Hari ini saya mengutip beberapa hasil translet-an mba Nurbad sebagai bahan acuan menerapkan diksi dalam penyuntingan sebuah novel.   Mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran. Aamiin..

buried myself under my covers

by Rini Nurul Badariah

A: I buried myself under my covers to die. 

T: Aku mengubur diriku di bawah selimutku untuk mati.

E: Kubenamkan diri di bawah selimut menanti maut.

Catatan: Kadang, diksi perlu lebih dipertajam untuk memperkuat suasana emosional dalam cerita.

I should have killed you

by Rini Nurul Badariah

A: “I should have killed you when I saw the midwife open your hand.”

T: “Aku seharusnya membunuhmu saat aku melihat dukun beranak itu membuka tanganmu.”

E: ”Seharusnya kau kubunuh waktu kulihat dukun beranak itu membuka tanganmu.”

a communion of the wrongs

by Rini Nurul Badariah

A: As I laid each one on my tongue it was like a communion of the wrongs I felt were done against me. Never smart enough, never pretty enough, never athletic enough—never, ever enough.

T: Saat aku meletakkan setiap pil di lidahku, itu seperti komuni dari kejahatan yang kurasa dilakukan padaku. Tak pernah cukup pandai, tak pernah cukup cantik, tak pernah cukup atletis—tak pernah, tak akan pernah cukup.

E: Tiap kutaruh satu pil di lidah, seperti simbol ketidakadilan yang kujalani. Kurang pandai, kurang cantik, kurang atletis—selalu, selalu kurang.

dissolved

by Rini Nurul Badariah

A: My pleasure at having a nice evening with my parents dissolved. 

T: Kebahagiaanku karena telah menjalani petang yang menyenangkan bersama orang tuaku larut.

E: Kebahagiaanku karena telah menjalani petang yang menyenangkan bersama orangtuaku buyar.

it was that there are some

by Rini Nurul Badariah

A: If he had learned anything in his life, it was that there are some who thrive on loneliness and take strength from it.

T: Jika ia belajar sesuatu dari hidupnya, hal itu adalah, ada beberapa orang yang tumbuh dalam kesendirian dan mengambil kekuatan darinya.

E: Yang dia pelajari dari hidupnya, ada orang tertentu yang tumbuh dalam kesendirian dan menjadi kuat karenanya. 

It might be missed

by Rini Nurul Badariah

A: I took this one when they rode behind a hill. It might be missed, I do not know.

T: Aku mencuri seekor saat mereka berkuda ke belakang bukit. Mungkin mereka sudah menyadari kehilangannya, aku tak bisa memastikan.

E: Aku mencuri seekor saat mereka berkuda ke belakang bukit. Mungkin mereka sadar ada yang hilang, aku tak bisa memastikan.

I had been so hopeful

by Rini Nurul Badariah

A: I had been so hopeful the day I turned eighteen. 

T: Aku begitu berharap di hari aku berulang tahun ke-18.

E: Ulang tahun kedelapan belas sangat kunantikan.

clucking her tongue and snapping her fingers

by Rini Nurul

A: While she was very good at explaining things so I could understand them, she was impatient, clucking her tongue and snapping her fingers at me when my mind wandered.

T: Meski ia sangat baik dalam menjelaskan semuanya agar aku bisa mengerti, ia tak sabaran, mengetukkan lidahnya dan menjentikkan jarinya padaku saat pikiranku berkelana.

E:

Meski sangat mampu menjelaskan semuanya agar aku bisa mengerti, ia tak sabaran, berdecak dan menjentikkan jari bila aku tidak berkonsentrasi.

outside resource

by Rini Nurul

Kalimat sumber:

“Sometimes,” Mrs. Black began carefully, “having an outside resource to help work—”

       “We don’t need an outside resource,” my mother said sharply, standing.

Terjemahan:

“Kadang,” mulai Mrs. Black dengan hati-hati, “memiliki sumber luar untuk membantu—”

“Kami tak butuh sumber luar,” kata ibuku tajam sambil berdiri.

Suntingan:

“Kadang,” Mrs. Buckley memulai hati-hati, “dibantu orang luar—”

“Kami tak butuh orang luar,” tukas Mom tajam sambil berdiri.

I didn’t see any letters

by Rini Nurul Badariah

A: “I didn’t see any letters. I didn’t get any phone calls. Did you?” she asked my father, and he shook his head wearily.

T:  “Saya tak melihat ada surat. Saya tak mendapatkan panggilan telepon. Apakah kau menerimanya?” tanyanya pada ayahku, dan ia menggeleng dengan lelah.

E:  “Saya tidak terima surat. Saya tidak terima telepon. Kau?” tanyanya pada Dad, dan dia menggeleng lelah.

a searing look

by Rini Nurul Badariah

A: My mother sent me a searing look.

T: Ibuku mengirimkan pandangan panas membara ke arahku.

E: Mom melotot padaku.

Catatan: bisa juga “melirikku tajam”.

married to her job

by Rini Nurul Badariah

A: She was married to her job, staying at school late into the night and arriving early in the morning.

T: Ia menikah dengan pekerjaannya, tinggal di sekolah hingga larut malam dan tiba pagi-pagi sekali.

E: . Ia pekerja keras, berada di sekolah hingga larut malam dan tiba pagi-pagi sekali.

Catatan: Bisa juga menggunakan “gila kerja”.

didn’t even find me worthy enough

by Rini Nurul Badariah

A: My parents didn’t even find me worthy enough to sit among my sister’s things.

T: Orangtuaku bahkan tak merasa aku cukup berharga untuk duduk di antara barang-barang kakakku.

Kata “orangtuaku” sudah disebut di kalimat sebelumnya sehingga konteks cerita jelas. Untuk meminimalkan pengulangan “ku”, saya sunting sbb:

Aku bahkan kurang pantas duduk di antara barang-barang kakakku.

h

ow I was there

by Rini Nurul Badariah

A: I wanted to tell him how I was there

T: Aku ingin memberitahunya bagaimana aku ada di sana

E: Aku ingin menceritakan kehadiranku

breathe in the imprint of her scent

by Rini Nurul Badariah

A: I made the mistake of going into her bedroom and lying on her bed, wrapping myself in her comforter and pressing her pillow against my face so I could breathe in the imprint of her scent.

T: Aku berbuat salah dengan pergi ke kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya, menyelubungi diri dengan selimutnya, lalu menekan bantalnya di wajah agar bisa mencium jejak baunya.

E: Aku berbuat salah dengan pergi ke kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya, menyelubungi diri dengan selimutnya, lalu menekan bantalnya di wajah untuk mencium jejak aromanya.

anything could be worse

by Rini Nurul Badariah

A: At first I didn’t think anything could be worse than not having Grace at home anymore. 

T: Pertamanya aku tak berpikir semuanya bisa lebih buruk daripada ketiadaan Grace di rumah.

E: Semula kupikir tak ada Allison di rumah saja sudah paling buruk.

Catatan: Untuk mempermudah pemahaman pembaca, hindari bentuk negatif (“tidak” dan sejenisnya) lebih dari satu dalam satu kalimat.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s