parenting

Uget-Uget Jadi Nyamuk

Malam itu bulan bersinar terang ketika beberapa uget-uget tertua dalam tong hujan menetapkan hati untuk meninggalkan air. Sejak awal mereka adalah anak-anak yang tak bisa diam dan selalu gelisah, tapi itu bukan salah mereka. Sebagai serangga bernama uget-uget, mana bisa mereka mengapung tenang? Saat Mama Nyamuk meninggalkan telur-telurnya yang panjang-langsing dalam tong hujan, dia telah mengikat semua telur itu jadi satu gumpalan berbentuk kapal. Telur-telur itu terus mengapung di sana sampai beberapa hari kemudian para uget-uget di dalamnya cukup kuat dan siap untuk menerobos bagian bawah telur menuju ke air.

Petang dan pagi, petang dan pagi, selama beberapa hari para uget-uget kecil berenang menggantung, kepala di bawah, yang terlihat dari atas tong hanyalah ujung pipa nafas mereka. Kadang kala, kalau ketakutan, uget-uget muda akan lupa cara berenang, lalu membalik badan, berenang dengan kepala di atas, tapi paling lama satu menit. Sesudahnya dia selalu malu mengakui bahwa dia takut, lalu mencari-cari alasan untuk memaafkan dirinya karena berenang seperti itu. Uget-uget muda yang sopan semustinya harus selalu menundukkan kepala dan nyamuk-nyamuk dewasa yang singgah berkunjung tak pernah lupa menasihati mereka: “Uget-uget kecil sombong yang suka mengangkat kepalanya naik bakal tak punya sayap,” dan “Naikkan ekormu, tundukkan matamu, kalau kau ingin tetap beradab, sehat, dan bijaksana.”

 

Saat masih kecil sekali, uget-uget terus berenang dengan kepala di bawah dan bernafas lewat suatu pipa yang berujung di dekat ujung ekor mereka. Pipa ini punya seperti sejumput sayap kecil di pucuknya, yang menjaga uget-uget bisa terus mengapung di permukaan air. Karena tak punya pekerjaan lain, mereka sehari-harian cuma makan apa yang tersedia di air itu, dan menggeliat-geliut, serta bermain kejar-kejaran. Dan kapan pun mereka takut, mereka akan menyelam ke dasar air dan diam di situ sampai kehabisan nafas. Tak pernah bisa lama.

 

Banyak hal yang membuat mereka takut. Kadang ada kuda yang mampir ke tong dan meminum airnya, kadang seekor burung Robin hinggap di mulut tong untuk menghirup beberapa teguk air, dan sesekali seekor capung dari kolam di dekat situ datang singgah. Tamu yang besar justru bukan yang paling seram. Kuda-kuda biasanya berusaha tidak mengganggu para uget-uget, sementara seekor Robin akan senang jika kebetulan ada seekor yang masuk ke paruhnya bersama air. Para capunglah yang paling berbahaya, karena mereka yang paling lapar, dan karena jauh lebih kecil dibanding kuda atau burung, uget-uget kerap tak sadar akan kehadiran mereka. Kadang ketika berpikir si Capung hinggap agak jauh, beberapa uget-uget berenang ke permukaan air, sampai akhirnya terlambat menyadari bahwa seekor capung bisa bergerak mundur atau menyamping tanpa balik badan.

Saat usianya beberapa hari, uget-uget mulai berganti kulit. Mereka bergoyang-goyang melepaskan kulit lama, diganti dengan kulit baru yang sudah tumbuh di bawahnya. Ini membuat mereka merasa jadi hebat, bahkan beberapa ekor mulai menyombong. Ada seekor uget-uget yang tak mau menyelam supaya si Robin melihat baju barunya. Namun justru karena kesombongan ini, hidupnya berakhir, dan dia tak pernah menjadi nyamuk dewasa.

Setelah berganti kulit beberapa kali, mereka lantas punya dua pipa nafas, bukan lagi satu. Dua-duanya tumbuh di dekat kepala mereka. Dan kepala mereka jadi jauh lebih besar. Di ujung ekor tubuhnya, setiap uget-uget sekarang punya sesuatu seperti dua lembar daun, yang dia pakai untuk berenang melintasi air. Karena letak pipa-pipa nafasnya sudah berbeda, para uget-uget yang telah beberapa kali berganti kulit ini sekarang mengapung dengan kepala di atas, sedikit di bawah permukaan air, dan ekor mereka ke arah bawah. Uget-uget seumuran ini akan disebut Pupa, atau si setengah dewasa.

 

Seringnya dalam satu tong ada banyak anak nyamuk dengan umur berbeda-beda – telur, uget-uget muda (namanya larva), dan pupa sekaligus. Cukup banyak tempat dan makanan buat semua, namun karena menganggur tak punya pekerjaan, mereka jadi banyak waktu untuk bertengkar dan merecoki satu sama lain.

Tahun ini, Kakak Tertuanya begitu congkak sehingga tak ada yang menyukai dia. Beberapa uget-uget muda bilang mereka tak tahan melihatnya. Dia suka bergaya menasihati seperti ini, “Waktu aku masih muda dulu dan harus menundukkan kepala …” atau berulang-ulang mengingatkan, “Naikkan ekormu, tundukkan matamu, supaya kamu jadi nyamuk sopan, sehat, dan bijaksana.” Sampai-sampai seekor uget muda menyilangkan antenanya ke arah si Kakak yang sombong itu – sama seperti kamu menjulurkan lidahmu atau membuat wajah jelek untuk mengejek orang yang tidak kamu suka.

Nah, si Kakak Tertua dan beberapa pupa yang menetas dari kawanan telur yang sama dengannya mulai membahas rencana pergi dari tong hujan itu selama-lamanya. Waktu itu bulan bersinar terang dan mereka ingin sayap mereka segera mengembang dan kering, karena itu berarti mereka akan jadi nyamuk dewasa. Kalau sudah dewasa, mereka bisa tiduran sepanjang hari lalu berpesta sepanjang malam.

Kakak Tertua menghentak-hentak ke sana kemari secepat-cepatnya, menekuk badannya yang bersegmen-segmen, tiba-tiba ke sini, tiba-tiba ke sana. Dan tiap kali bertemu pupa yang sepantaran dengannya dia berkata, “Ayo ikut aku dan lepas kulitmu. Ini malam yang indah untuk berganti kulit.”

Kadang mereka menjawab, “Oke!” lalu menghentak-hentak atau bergoyang-goyang atau berenang membarenginya. Tapi kadang ada pupa yang menjawab, “Aku ragu apa aku sudah cukup umur untuk melepaskan kulitku dengan mudah.”

Maka Kakak Tertua akan menjawab, “Janganlah keraguan membuatmu berhenti. Giliranmu akan segera datang begitu kami mulai.” Tentu saja itu benar. Semua anggota keluarga Nyamuk tumbuh dewasa sangat cepat. Maka terjadilah, ketika bulan mengintip dar atas lumbung, menyinarkan wajah cerahnya di antara dua cerobong asap, dua puluh tiga Pupæ mengapung berdekatan satu sama lain dan bersiap-siap mengganti kulit mereka untuk terakhir kalinya.

Sangat mendebarkan. Semua uget-uget muda berkerumun untuk menyaksikan apa yang terjadi, dorong-mendorong untuk mendapatkan tempat menonton terbaik. Kakak Tertua sangat kuatir ada pupa lain yang lebih dulu berganti kulit mendahuluinya. Pupa-pupa jantan mengingatkan saudara-saudara betina mereka agar hati-hati menyobek kulit dengan benar dari punggung. Pupa-pupa betina ketus menjawab bahwa mereka sama tahunya soal berganti kulit seperti pupa jantan. Bolak-balik Kakak Tertua akan berseru, “Tunggu ya! Jangan ada satu pun yang melepas kulit lama sampai aku beri aba-aba.”

Kemudian dua atau tiga saudaranya jadi tak sabar, karena kulit luar mereka terasa makin sesak setiap menit, lalu membalas berseru, “Kenapa tidak boleh?” sambil menggerutu karena disuruh menunggu. Padahal sebenarnya, Kakak Tertua belum berhasil membuat kulitnya merekah, walau dia telah menghentak dan bergoyang dan menghirup nafas dalam-dalam. Dan dia tak mau ada yang mendahuluinya. Akhirnya, kulit itu mulai terbuka, dan dia baru saja memberi aba-aba pada yang lain untuk mulai melepas kulit, waktu seekor Nyamuk Betina besar hinggap untuk meletakkan sejumlah telur di tong itu.

“Ya ampun!” serunya. “Kalian tidak bermaksud ganti kulit malam ini, kan?”

“Ya, memang kami sedang ganti kulit,” jawab Kakak Tertua, bergoyang lagi sehingga kulitnya makin terbuka, “Kami akan menggigit manusia sebelum pagi tiba.”

“Sungguh?” jawab si Nyamuk Betina dengan senyum simpul geli. “Aku tak akan berharap tentang itu. Kalian anak muda bakal dapat masalah kalau melepas kulit malam ini, karena sepertinya hujan akan turun.”

Dia melambaikan antenanya ke atas sambil bicara, dan pupa-pupa itu baru memperhatikan bahwa awam hitam tebal sedang bergulung-gulung di langit. Bahkan saat itu juga, bulan menghilang dan angin mulai mengayun-ayun cabang-cabang pepohonan. “Mau hujan,” katanya. “Air akan mengucur dari atap ke dalam tong ini, dan kalau kalian baru saja lepas kulit dan belum bisa terbang, kalian akan tenggelam.”

“Bleh!” jawab Kakak Tertua. “Kami bisa mengurus diri sendiri. Aku tak takut pada sedikit air.” Lalu dia berusaha merangkak keluar dari kulit lamanya.

Nyamuk Betina tinggal di tong sampai dia telah menaruh semua telurnya, kemudian terbang pergi. Tak satupun dari Pupæ itu mau mendengar nasihatnya. Sebetulnya semula ada beberapa pupa betina yang ingin menuruti nasihat itu, kalau saja saudara-saudara jantannya tidak mengejek dan menertawakan mereka.

Akhirnya, dua puluh tiga nyamuk muda yang masih lembut berdiri di atas kulit pupa yang telah terlepas, menanti sayap mereka mengeras. Merangkak keluar agar lepas dari kulit tak pernah mudah, dan ganti kulit yang terakhir itulah yang terberat. Sekarang mereka tak bisa melakukan apa-apa selain menunggu, sehingga nyamuk-nyamuk muda ini mulai ketakutan. Malam sekarang gelap dan berangin. Terkadang angin kencang tiba-tiba meniup kulit pupa mereka yang terapung ke pinggir tong. Mereka harus berpegangan erat-erat karena kalau sampai terjatuh ke air, mereka akan tenggelam. Kakak Tertua tiba-tiba berharap bisa menjadi uget-uget lagi. “Uget-uget tak akan pernah tenggelam,” kenangnya.

 

“Siapa yang mau duluan menggigit?” tanya salah satu saudaranya.

Kakak Tertua menjawab sangat judes, “Aku tak tahu dan aku tak peduli. Aku tidak lapar. Apa kau tak bisa memikirkan hal lain kecuali makan?”

“Kenapa? Memangnya ada hal lain yang perlu dipikirkan?” balas nyamuk-nyamuk lain yang sedang mengapung.
“Ada. Terbang, misalnya!” jawab si Kakak.

“Hu-uh! Aku tak melihat gunanya terbang kecuali untuk membawa kita mendekati makanan,” jawab seekor saudara betina. Dia nantinya akan mendapati bahwa terbang memang punya manfaat lain.

Setelah itu, mereka tidak ingin bercakap-cakap lagi dengan Kakak Tertua. Mereka mengobrol sendiri sambil coba-coba menggerakkan kaki. Seandainya hari cukup terang sehingga mereka bisa melihat sayap-sayap baru itu! Kau tahu, sayap nyamuk itu menarik sekali, tipis dan ringan, dengan jumbai halus di tepiannya dan di sepanjang tiap pembuluh darah. Nyamuk-nyamuk betina juga bangga pada kantong-kantong di bawah sayap mereka, dan ingin segera sayap itu mengeras supaya mereka bisa menggetarkan kantong-kantong itu lalu mendengar suara mendenging indah ketika udara melewati kantong-kantong ini. Mereka tahu saudara-saudara mereka yang jantan tak pernah bisa menyanyi seperti itu, dan merasa senang akhirnya ada kelebihan yang bisa mereka banggakan. Bukan salah mereka kalau merasa seperti itu, karena para jantan itu terlalu sering mengejek dan menertawakan mereka.

Lalu menyambarlah kilat dan menggelegarlah guntur panjang. Pohon-pohon menghempas-hempaskan cabang-cabang ke kanan dan ke kiri, sementara tetes-tetes besar hujan berjatuhan ke atap di atas mereka, lalu turun deras, berkumpul, dan mengucur ke arah saluran air yang di bawahnya tong terletak.

“Terbang!” teriak Kakak Tertua, mengepakkan sayap sebisa-bisanya.

“Kami belum bisa. Ke mana?” teriak yang lain.

“Terbang, dengan cara apapun, ke mana pun!” jerit Kakak Tertua, dan ajaib, kedua puluh tiga nyamuk itu berhasil mengepakkan sayap dan merangkak dan terpencar ke sisi bangunan itu. Tetes air hujan jatuh dekat tapi tak mengenai mereka. Mereka berjumpa dengan nyamuk-nyamuk lebih tua yang sedang menunggu curahan hujan itu berhenti. Bahkan si Kakak Tertua begitu ketakutan sampai gemetar. Saat melihat Nyamuk Betina yang tadi menasihatinya untuk menunda berganti kulit, dia sembunyi ke balik dua saudaranya dan diam tak bersuara. Sepertinya Nyamuk Betina itu melihatnya, karena di tempat itu lumayan terang. Nyamuk Betina itu tak mengajaknya bicara, namun Kakak Tertua mendengarnya bicara pada teman-temannya, “Aku sudah beritahu dia,” katanya, “lebih baik dia menunda ganti kulit, tapi dia bilang dia bisa mengurus diri sendiri dan akan menggigit manusia pertama sebelum pagi.”

“Dia bilang begitu?” seru nyamuk-nyamuk tua lain.

“Iya!” jawab si Nyamuk Betina.

Lalu semua nyamuk itu tertawa dan tertawa dan tertawa, dan Kakak Tertua yang sekarang jadi nyamuk muda itu jadi tahu kenapa dia ditertawakan begitu keras. Ternyata dia tak akan pernah menggigit manusia karena dia nyamuk jantan. Nyamuk jantan harus minum madu. Hanya nyamuk betina yang menggigit manusia dan menghisap darah. Duh! Padahal dia sudah sering sekali membayangkan bagaimana dia akan mendenging sekeliling manusia sampai menemukan bagian yang paling manis dan segar, lalu hinggap pelan-pelan dan menusuk serta menghisap sampai badan langsingnya gendut, bulat, dan merah dengan perut penuh darah. Dan ternyata itu mustahil! Tak akan pernah terjadi! Sebagai nyamuk jantan dia tak bisa mendenging. Dia nanti harus duduk-duduk saja dengan perut penuh madu, sambil menonton sebelas saudara betinanya melembung oleh darah dan mendengar mereka mendenging lembut saat terbang. Andai saja ada nyamuk jantan yang pernah mengunjungi mereka di tong, dia mungkin akan tahu lebih cepat tentang ini. Dengan malu, Kakak Tertua mengendap-endap pergi sendiri. Namun malang dia bertemu seekor burung yang bangun pagi dan – ya, kau tahu, burung juga perlu makan, dan kebetulan dia bertemu nyamuk. Sementara itu, saudara-saudara jantan dan betinanya hidup sendiri-sendiri, mengerjakan apa yang mereka suka. Dan sebelas nyamuk betina saudaranya menggigit tiga belas manusia pada malam berikutnya dan menikmati hari-hari indah menjadi nyamuk.

 

(Diterjemahkan bebas oleh Ellen Kristi dari Among the Night People bab 2 “The Wigglers Become Mosquitoes” karya Clara Dillingham Pierson, 1902.)

#ODOP99days#days66#ClaraDillingham#uget-uget#rendahhati#

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s