translated work

The Widow Fiona Barton

I can hear the sound of her crunching up the path. Heavy-footed in high heels. She’s almost at the door, hesitating and smoothing her hair out of her face. Nice outfit: jacket with big buttons, decent dress underneath, and glasses perched on her head. Not a Jehovah’s Witness or from the Labour party. Must be a reporter, but not the usual. She’s my second one today—fourth this week, and it’s only Wednesday. I bet she says, “I’m sorry to bother you at such a difficult time.” They all say that and put on that stupid face. Like they care.

I’m going to wait to see if she rings twice. The man this morning didn’t. Some are obviously bored to death with trying. They leave as soon as they take their finger off the bell, marching back down the path as fast as they can, into their cars and away. They can tell their bosses they knocked on the door but I wasn’t there. Pathetic.

She rings twice. Then knocks loudly in that rap-rap-rappity-rap way. Like a policeman. She sees me looking through the gap at the side of my sheer curtains and smiles this big smile. A Hollywood smile, my mum used to say. Then she knocks again.

When I open the door, she hands me the bottle of milk from the doorstep and says, “You don’t want to leave that out. It’ll spoil. Shall I come in? Have you got the kettle on?”

I can’t breathe, let alone speak. She smiles again, head on one side. “I’m Kate,” she says. “Kate Waters, a reporter from the Daily Post.”

270 kata, diambil dari The Widow karya Fiona Barton

Saya dapat mendengar derap langkahnya melewati jalan setapak. Langkah yang berat memakai sepatu tinggi.

Dia hampir sampai di pintu, ragu-ragu, sambil merapikan rambutnya dari wajahnya. Penampilan yang lengkap: jaket berkancing besar dengan bawahan rok yang serasi, dan kacamata bertengger di kepalanya.Bukan Jenovah’s Witness atau dari partai buruh.Pasti dia seorang reporter, tapi tidak seperti biasanya. Dia adalah orang kedua yang datang satu hari ini- keempat dalam minggu ini dan hanya di hari rabu. Saya bertaruh dia akan berkata: “saya minta maaf mengganggumu pada jam sibuk”.Mereka semua akan mengatakan itu dan memasang muka bodoh. Seolah-olah mereka perduli.

Saya menunggunya membunyikan bel dua kali. Hari ini pria yang datang lebih awal tidak melakukannya. Sebagian orang  akan sangat bosan mencoba. Mereka langsung pergi saat meletakkan jari di bel, memundurkan langkah secepat mungkin, masuk ke mobil kemudian pergi. Mereka akan mengatakan kepada bos mereka jika saya tidak dirumah. Menyedihkan.

Dia membunyikan bel dua kali.

Lalu mengetuk kencang dengan cara rap-rap-rappity-rap. Seperti polisi. Ia melihat melalui celah disamping gorden tipisku dan tersenyum dengan lebar. Senyum Hollywood, kata ibuku. Lalu dia mengetuk pintu kembali.

Ketika saya membuka pintu, dia memberiku sebotol susu dari ambang pintu dan berkata: kamu tidak akan meninggalkannya kan?Susu ini akan basi, Bolehkah saya masuk? Kamu punya panci didalam?

Saya tidak dapat bernafas, tak ada satupun yang dapat saya katakan.Dia kembali tersenyum, kepalanya di satu sisi. Saya Kate, katanya. Kate Waters, reporter Daily Post.

270 kata, diambil dari The Widow karya Fiona Barton

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s