inspiring story · Uncategorized

Sartre

 

(Dalam tulisan ini hanya sedikit membahas masalah filsafat eksistensialisme Sartre, karena keterbatasan penulis. Untuk pembaca yang tertarik lebih jauh dengan pemikiran Sartre, diharap membaca buku karya Sartre sendiri dan karya saduran yang membahas pemikiran Sartre).

Jean Paul Sarte adalah tokoh filsuf berasal dari Perancis. Filsafat sartre terkenal dengan filsafat eksistensialisme. Secara garis besar filsafat eksistensialisme menekankan kebebasan manusia, tidak ada nilai nilai yang bisa mengekang kebebasan manusia menurut Sartre. Filsafat eksistensialisme Sartre berbeda dengan filsafat eksintesialisme kierkegard yang juga dikenal sebagai salah tokoh filsuf eksistensialisme besar. Meskipun sama sama  berpandangan kebebasan yang menjadi titik tolak utama, akan tetapi perbedaan filsafat eksistensialisme dari kedua tokoh ini terletak pada tanggapan mereka terhadap Tuhan.

Kierkegard menganggap manusia bebas dengan mempercayai Tuhan. Kiergard memberikan analogi yang bagus antara kebebasan dengan tuhan dia menganalogikan dengan cerita Adam dan Hawa, dimana pada saat Adam dan Hawa diciptakan tuhan dan menghuni surga mereka berdua diperkenankan menikmati dan memakan segala macam buah yang ada di surga, akan tetapi tuhan melarang Adam dan Hawa memberikan larangan keras untuk memakan satu jenis buah di surga yaitu buah Khuldi (dalam Islam). Larangan tersebut tidak membuat Adam dan Hawa menjauh akan tetapi justru penasaran dan memakan buah tersebut, dari kisah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya tuhan telah memberikan pilihan terhadap Adam dan Hawa dengan tetap membiarkan merekan berdua memakan buah tersebut, meskipun larangan sudah diberikan, jika Tuhan mengekang dan tidak memberikan kebebasan kepada Adam dan Hawa jangankan memakan buah tersebut, mendekati pohon tersebut saja Adam dan Hawa akan terpelanting oleh kekuatan Tuhan.

Oleh sebab itu Kierkegard termasuk dalam salah satu Filsuf eksistensialis Theistik (mempercayai tuhan), mengambil posisi yang brsebrangan dengan Kierkegard, Sartre justru menentang keberadaan tuhan, yang menyebabkan Sartre menjadi salah satu filsuf Eksistensialis Atheistik (tidak mmpercayai tuhan) selain Martin Heideger.

Tuhan menjadi salah satunya yang menyebabkan manusia tidak menjadi bebas menurut sartre. Sarte dalam hal ini terlihat sebagai tokoh dengan pemikiran yang materialis, diamana di tidak mempercayai segala sesuatu yang ada dibalik dunia, dan yang nampak itulah yang merupakan dunia. Dalam hal ini menurut Sartre manusia ada di dunia begitu saja terlempar dan harus menjalani kehidupanya secara otonom. Dalil yang digaungkan Sartre dalam filsafatnya yang menetang keberadaan tuhan adalah “eksistensi mendahului esensi”.[1]  Maksud dari “eksistensi mendahului esesni” adalah eksistensi disini menyangkut bentuk, wujud dan yang nampak sementara esensi menyagkut abstrak, konsep, ide. Lebih jelas Sartre menjelaskan:

            “Apa itu eksistensi mendahului esensi? yang kita maksud adalah bahwa, pertama-tama manusia ada, berhadapan dengan dirinya sendiri, terjun ke dalam dunia. Dan barulah setelah itu mendefinisikan dirinya.”[2]

Selain Tuhan, Sartre beranggapan bahwa ketidakbebasan sesorang diakibatkan oleh orang lain. Dalam hal ini secara tegas Sartre mangatakan bahwa ” orang lain adalah neraka”, salah satu pernyataan Sartre yang terkenal  ini berasal dari drama yang dipentaskan sartre dengan judul orang lain adalah neraka. Secara tegas terhadap orang lain Sartre mengatakan “orang lain adalah sebab kejatuhanku”[3] . Hal yang menyebabkan seseorang tidak bisa bebas akibat orang lain berawal dari pandang mata, hal ini disebabkan menurut Sartre pandangan mata seseorang. Pandang menurut Sartre, sebagai sarana untuk membuat orang yang memandang kita seakan akan kita menjadi benda dan orang yang memandang kita menjadi subjek yang aktif yang membendakan kita. Terkait dengan hal ini pandangan dan juga orang lain adalah sebab ketejatuhan, berhubungan dengan pengalaman masa kecil Sartre mengalami pengobjekan dan keterjatuhan akibat pandangan orang lain, Sartre menjelaskan:

Ada kebenaran lain. Di teras teras Taman luxembourg anak anak bermain, aku mendekati mereka; mereka menyisih tanpa melihatku; aku memandang mereka dengan pandangan duka;   betapa kuat dan gesitnya mereka! betapa gantengnya mereka! keunggulan dan kecerdasanku lenyap seketika… kesempatan itu tidak diberikan; aku menemukan hakim-hakimku yang sesungguhnya, yaitu manusia setara, dan ketidak acuhan mereka telah memvonisku. Tidak seorangpun mengajakku bermain.”[4]

Alasan kenapa Sartre merasa bahwa pandangan orang lain menyebabkan keterjatuhannya adalah secara fisik Sartre mengalami kekurangan yaitu Sartre memiliki mata juling, yang mengakibatkan sewaktu kecil di menjadi anak yang minder, lebih lanjut Sartre mengatakan :

“Sejak beberapa waktu sudah ada noda pada mataku yang akan menjadikanku bermata jerang …. aku telah difoto seratus kali yang diperindah mama dengan pensil berwarna”[5]

Penolakan Sartre terhadap orang lain dengan menyebutkan “orang lain adalah neraka”, menyebabkan filsafat eksisntesialisme Sartre dianggap banyak kritukus sebagai  filsafat kaum borjuis dan liberal. kaum borjuis dan liberal sendiri diasosiasikan dengan sosok yang mementingkan sikap individual dan tidak memperdulikan orang lain. Faktanya pada saat itu dalam beberapa literatur semasa filsafat eksistensialisme booming di Perancis banyak kaum gelandang dan tuna wisma di sana mengatakan bahwa mereka penganut filsafat eksistensialisme Sartre.  Dalam kkarya keclinya yang berjudul “Eksistensialisme dan Humanisme”, Sartre memberikan klarifikasinya mengenai kebebasan mutlak manusia yang menurut beberapa kritukus memicu sikap tidak peduli terhadap orang lain sehingga mengcap orang lain sebagai neraka, klarifikasi Sartre sebagai berikut:

“Dengan demikian, efek eksistensialisme yang pertama adalah menempatkan posisinya sebagai   dirinya sendiri, dan meletakan seluruh tanggung jawab hidupnya sepenuhnya di pundak manusia itu sendiri.”[6]

Dari penjelasan Sartre diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa manusia memang memiliki kebebasan dalam menuntukan pilihan, bahkan menurut Sartre manusia dikutuk untuk bebas, akan tetapi kebebasan yang diilih juga harus mempertimbangkan kepentingan secara luas. Kebebasan menurut Sartre juga harus disertai dengan tindakan secara terus menerus, karena sejatinya adalah mahluk yang menindak dan untuk menindak terkait dengan kesadaran akan dunia. Dalam filsafat eksisntensialisnya Sartre membagi dua kesadaran yang ada di dunia:

  • Etre En Soi: kesadaran yang ada begitu saja: secara garis besar maksudnya adalah dalam kesadaran ini tidak ada subjek yang menindak / bisa dikatakan yang memiliki kesadara ini adalah    benda mati. contoh : kursi, meja dan lain lain. ciri-ciri kesadaran ini yaitu tidak memiliki celah  untuk di kritik mereka ada sesuai dengan fungsinya. kekuranganya dari adalah tidak bisa  berproses. Contoh kursi tidak bisa dikritik karena tidak memiliki celah akan tetapi kursi dari waktu ke waktu akan memiliki bentuk dan fungsi yang sama
  • Etre pour soi: kesadaran/ ada bagi dirinya: kesadaran ini hanya dimiliki oleh manusia. dalam kesadaran ini subjek bertindak aktif. ciri kesadaran ini adalah selalu berproses dan memiliki  celah untuk dikritik.

[1] Wahyu Budi Nugroho, Orang Lain Adalah Neraka, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2013, h. 61

[2] Jean Paul Sartre, Eksistensialisme dan Humanisme, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, h. 44

[3] Wahyu Budi Nugroho, op cit, h.1

[4] Jean Paul Sartre dalam Wahyu Budi Nugroho, Orang Lain Adalah Neraka, Pustaka Pelajar,Yogyakarta, 2013,h. 37

[5] ibid

[6] Jean Paul Sartre, op cit, h. 46

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s