all about translation

Pengkhianatan Demi Kesetiaan: Upaya Masuk Akal Untuk Mencapai Terjemahan Puisi Ideal

Sugeng Hariyanto
(Dimuat ulang atas izin dari JLT Polinema, http://jlt-polinema.org/?p=215)

Abstrak
Di dalam penerjemahan puisi sering dikatakan bahwa hasil terjemahan tidak sebaik puisi aslinya. Lebih jauh, ada tiga mitos tentang hasil penerjemahan puisi, yaitu: a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik. Di dalam artikel singkat ini penulis berusaha menelusuri asal-muasal mitos di atas dan mencoba menyajikan pandangannya tentang kebenaran mitos tersebut.

Penulis juga menyinggung bagaimana penerjemahan puisi sumber yang sama bisa menghasilkan puisi-puisi yang berbeda jika penerjemahannya dilakukan oleh penerjemah yang berbeda. Keruwetan ini menjadi bertambah, menurut penulis, jika kritikus ikut mengomentari hasil terjemahan karena penerjemah dan kritikus mungkin sekali memiliki pengalaman dan latar budaya yang berbeda.

Akhirnya, penulis mengemukakan pendapatnya bahwa dalam penerjemahan puisi “kesetiaan” hendaknya dimaknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna. Jadi, dari sudut pandang mitos lama dapat dikatakan bahwa penerjemahan puisi cenderung sebuah ‘pengkhianatan’ dari ekuivalensi bentuk linguistik, tetapi tetap bisa diupayakan untuk ‘setia’ pada keindahan dan makna dalam bahasa sasaran. Menurut penulis, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan.

 

Ada beberapa ‘mitos’ yang berkembang tentang menerjemahkan puisi. Yang saya maksud ‘mitos’ adalah kata-kata yang telah dipercayai kebenarannya tanpa harus dibuktikan secara empiris. Kadang hal ini juga kita sebut asumsi. Mitos-mitos atau asumsi-asumsi tersebut adalah: (a) Puisi terjemahan lebih buruk daripada puisi aslinya, (b) penerjemahan puisi adalah pengkhianatan, dan (c) terjemahan yang cantik biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.

Pencetus mitos pertama ini adalah Henri Gifford. Dia berpendapat bahwa sastra terjemahan diumpamakan sebagai reproduksi hitam putih dari lukisan cat minyak yang berwarna. Lebih jauh, karya terjemahan menurutnya tidak akan bisa menandingi kehalusan dan kelengkapan imajinasi penulis asli. Setiap upaya penerjemahan adalah sebuah upaya pemiskinan, dan taraf pemiskinan ini pada taraf yang tertinggi pada penerjemahan puisi (Gifford dalam Damono, 2003). Mungkin karena hal inilah, akhirnya Gifford berpendapat bahwa “Translation is resurrection, but not of the body…” (Gifford dikutip Tomlinson dalam Carter, 2005). Hal ini harus kita sikapi dengan pemahaman bahwa Gifford sendiri adalah seorang penerjemah. Jadi, pendapatnya ini bagi saya lebih merupakan ideologi penerjemahannya.

Karena itu penerjemahan puisi adalah pembangkitan nyawa di tubuh yang berbeda, maka wajar kalau kita tidak bisa mengharapkan kemolekan tubuh yang sama, bentuk linguistik yang sama. Ketidakpadanan bentuk linguistik atau makna itulah yang disebut pengkhianatan.

Mitos kedua, penerjemahan puisi adalah pengkhianatan yang kreatif. Pikiran ini berasal dari Prancis, yang di sana terjemahan karya sastra dianggap trahison creatice, pengkhianatan yang kreatif. Mitos ini juga tumbuh subur di Indonesian karena ada bukti-bukti yang dilakukan penyair hebat kita Chairil Anwar adalah trahison creatice. Masih terkait dengan mitos kedua, mitos ketiga adalah penerjemahan yang cantik pasti tidak setia, dan yang setia pasti tidak cantik. Sampai sekarang pun, banyak orang percaya bahwa yang cantik mesti tidak setia, dan yang setia selalu tidak cantik. Pernah dalam suatu seminar, Sapardi Joko Damono menunjukkan “kebenaran dua mitos terakhir ini” dengan puisi Huesca-nya Chairil yang dianggap pengkhianatan kreatif dari puisi asli “To Monnet Heinemman”.

Puisi sumber:

Heart of the heartless world,
Dear heart, the thought of you
Is the paint in my side,
The shadow that chills my view
 
The wind rises in the evening
Reminds that autumn is near.
I am afraid to lose you
I am afraid of my fear.
 
On the last mile to Huesca,
The last fence for our pride,
Think so kindly, dear, that I
Sense you at my side.
 
And if bad luck should lay my strength
Into the shallow grave,
Remember all the good you can;
Don’t forget my love.
Puisi ‘terjemahan’:

Jiwa di dunia yang hilang jiwa
Jiwa sayang, kenangan padamu
Adalah derita di sisiku,
Bayangan yang bikin tinjauan beku.
 
Angin bangkit ketika senja,
Ngingatkan musim gugur akan tiba.
Aku cemas bisa kehilangan kau,
Aku cemas pada kecemasanku.
 
Di batu penghabisan ke Huesca,
Pagar penghabisan dari kebangaan kita,
Kenanglah sayang, dengan mesra
Kau kubayangkan di sisiku ada.
 
Dan jika untung malang menghamparkan
Aku pada kuburan dangkal,
Ingatlah sebisamu segala yang baik
Dan cintaku yang kekal

Menurut Sapardi Djoko Damono, terjemahan ini adalah terjemahan yang cantik. Dan di antara terjemahan Chairil Anwar, ini termasuk yang paling setia. Mari kita cermati kesetiaannya.

Pada larik pertama “heartless world” diterjemahkan menjadi “dunia yang hilang jiwa”. Padahal “heartless” aslinya bermakna “kejam”. Apakah “hilang jiwa” berarti “kejam”? Menurut Sapardi Djoko Damono, Chairil menciptakan ungkapan baru yang tidak ada hubungannya dengan kekejaman. Pada larik kedua, “dear heart” diterjemahkan menjadi “Jiwa sayang”, demi memburu pengulangan kata “jiwa” (tidak diterjemahkan menjadi “kekasih”, “jantung hati”, dsb.)  Perhatikan juga “aku cemas” untuk ungkapan asli “I am afraid”. Aku cemas rasanya lebih kuat kandungan emosinya daripada “aku khawatir”, “aku takut”.

Perhatikan pula dua larik terakhir yang disatukan dalam TBSa-nya.

 

member all the good you can;
Don’t forget my love

Ingatlah sebisamu segala yang baik
Dan cintaku yang kekal

 

“Remember” dan “don’t forget” dirangkum menjadi “ingatlah”. Sementara itu “yang kekal” ditambahkan untuk memburu rimanya. Dengan contoh ini Sapardi seolah ingin menasbihkan bahwa yang cantik itu tidak setia, alias yang berkhianat. Kalau mau yang setia, carilah yang tidak cantik.

Dari paparan singkat di atas, kiranya dapat dimengerti kenapa asumsi-asumsi itu bisa terjadi. Sekarang, bagaimana pengkhianatan itu bisa terjadi? Dan benarkah mitos-mitos itu di dalam kenyataannya?

Untuk memahami masalah ini, ingin saya tawarkan kacamata teoritis. Kacamata pertama adalah teori polisistem. Di dalam teori polisistem, sebuah budaya merupakan serangkaian sistem dari banyak sistem yang bersifat hierarkis. Misalnya, kalau sastra di dalam sebuah budaya menempatkan sastra yang konvensional dalam posisi primer, maka sastra inovatif berada dalam posisi yang sekunder. Demikian juga sebaliknya. Lantas apa hubungannya dengan terjemahan sastra? Hubungannya terletak pada sikap masyarakat budaya terhadap sastra terjemahan. Kalau masyarakat budaya tersebut menempatkan sastra terjemahan dalam posisi primer, maka penerjemahnya akan berusaha sedekat mungkin untuk “setia”. Namun, kalau masyarakat mendudukkan sastra terjemahan dalam posisi sekunder, maka penerjemahnya harus tunduk pada aturan-aturan keindahan yang ada di dalam sastra sasaran. Menurut perkiraan saya, apabila BSa mempunyai genre/jenis sastra yang mantap untuk karya yang diterjemahkan, maka ada kecenderungan bahwa hasil terjemahannya akan tunduk pada poetika BSa. Namun, apabila jenis yang seperti itu belum ada di dalam BSa maka ada kecenderungan penerjemah untuk lebih setia pada TBSu.

Hal ini menjadi agak rumit jika karya tersebut akan diterbitkan. Karena ada pihak lain (yang disebut patron) yang mempengaruhi cara menerjemahkan. Lefevere (dalam Hoed) berpendapat bahwa ciri khas sastra di dalam sebuah budaya ditentukan oleh dua hal: Patron dan perilaku susastra masyarakat (code of behavior). Patron meliputi ideologi, ekonomi dan status seniman. Di dalam perilaku susastra ada kaidah-kaidah terkait genre, keindahan, dan fungsi sastra.

Lantas, saya menghipotesiskan adanya “pertarungan” pengaruh antara poetika, patron dan penerjemah. Bagi saya, ketiga pihak itu berbagi ruang pengaruh atas karya terjemahan. Apabila pengaruh salah satu pihak meningkat, pengaruh pihak lain akan menurun. Apabila patron sangat berkuasa (penerjemah di pihak yang lemah), maka hasil terjemahannya lebih diwarnai oleh ideologi penerjemahan dari patron.

Gambar 1: Ruang pengaruh atas karya terjemahan

 

Dari gambar di atas bisa dibayangkan bahwa jika pertimbangan poetika yang dipentingkan, maka pengaruh patron dan pertimbangan ideologi penerjemahan si penerjemah akan semakin kecil pengaruhnya. Demikian juga jika pengaruh patron yang mendominasi, maka kepentingan poetika dan ideologi penerjemah yang dikalahkan.

Saya menduga bahwa untuk para penerjemah besar, yang sangat mempengaruhi adalah ideologi penerjemahannya dan pihak patron mungkin dengan sukarela menyerahkan segalanya kepada penerjemah tersebut.

Kiranya pandangan saya tentang ‘perebutan’ ruang pengaruh ini bisa diperjelas dengan model penerjemahan usulan Bolaños (2002, 2008). Meskipun model ini disebutnya Model Penerjemahan Dinamis, tetapi sama sekali tidak ada kaitannya dengan konsep terjemahan dinamik gagasan Nida. Menurut gagasan Bolanos, pada bingkai terluar sebuah proyek penerjemahan ada pemrakarsa penerjemahan (initiator), yang saya sebit sebagai “patron” dan penerjemah (translator). Pemrakarsalah yang memerintahkan penerjemah untuk bekerja. Di dalam bekerja, penerjemah berusaha menangkap maksud sebuah teks dan itu dia lakukan dengan menganalisis dimensi pragmatik, semantik, sintaktik, atau kadang ditambah semiotik, dari teks bahasa sumber (TBSu) serta mempertimbangkan perintah dari pemrakarsa. Setelah makna dan pesan ditangkap, penerjemah melakukan tekstualisasi. Sebelum melakukan tekstualisasi, dia akan mempertimbangkan norma bahasa sasaran (BSa). Di sinilah, pertimbangan poetika masuk. Pada saat ini, dia juga memperhatikan kehendak pemrakarsa atau patron penerjemahan. Di sini jugalah pengaruh patron mempengaruhi.

Kembali ke perbincangan tentang ketiga asumsi di atas? Betulkah karya terjemahan selalu lebih buruk daripada karya aslinya? Secara teori hal ini bisa disanggah. Setiap budaya mempunyai norma-normanya sendiri, mempunyai kriteria sendiri sebagai ukuran keindahan sastra. Jadi, keindahan puisi terjemahan bisa menyamai keindahan puisi asli apabila ditakar dengan kriteria keindahan sastra BSa. Hal ini bisa dicapai apabila puisi terjemahan tersebut tidak memaksakan diri membawa masuk “tubuh” asing ke dalam BSa. Dengan kata lain, saya setuju dengan Ignas Kleden, saat dia menulis, “sebuah terjemahan biasanya lebih jelek atau lebih baik dari yang asli, dan tak mungkin sama dalam segala sesuatunya dengan sajak yang asli”.

 

Bersambung..

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s