all about translation

Pengkhianatan Demi Kesetiaan: Upaya Masuk Akal Untuk Mencapai Terjemahan Puisi Ideal (2)

Secara empiris, perhatikan terjemahan puisi “How Happy Is the Little Stone” ke dalam bahasa Jawa oleh Effendi Kadarisman ini (yang begitu cantik dan masih setia):

Puisi terjemahan:

WATU KLUNGSU

Saiba senenge watu klungsu
Dolan dhewekan satengahing dalan
Ora maelu sakehing gegayuhan
Ora kesamaran nandhang cingkrang
Nganggo jas warna soklat
Paringane jagat kang mbeneri liwat
Uripe merdhika kaya surya
Bisa bebrayan, bisa sumunar tanpa kanca
Anyanggemi patembayan sawiji
Kanthi prasaja, kanthi permati

Puisi sumber:

How happy is the little Stone
 How happy is the little Stone
That rambles in the Road alone,
And doesn’t care about Careers
And Exigencies never fears —
Whose Coat of elemental Brown
A passing Universe put on,
And independent as the Sun
Associates or glows alone,
Fulfilling absolute Decree
In casual simplicity
 

 Jika kita tidak diberitahu bahwa puisi itu adalah terjemahan dari “How Happy Is the Little Stone” atau tidak kebetulan menghadapi kedua puisi itu dalam waktu yang sama, mungkin kita tidak menyangka bahwa puisi tersebut adalah puisi terjemahan. Kata-kata yang digunakan khas bahasa Jawa, misalnya “watu klungsu” (batu sebesar biji asam) untuk menerjemahkan “little stone”, “gegayuhan” (keinginan) untuk “career”, “nandhang cingkrang” (mengalami kekurangan) untuk “exigencies”, “patembayan” untuk “decree”, dan begitu khasnya “kanthi prasaja, kanthi permati” untuk mengungkapkan “in casual simplicity”. Puisi terjemahan di atas begitu dekatnya dengan puisi asli, tetapi begitu “Jawa-nya” saat kita baca. Inilah yang menurut saya puisi terjemahan yang ideal, yang cantik dan setia. Ini artinya karya terjemahan tidak harus lebih buruk daripada karya aslinya.

Benarkah semua puisi terjemahan adalah pengkhianatan dan yang cantik mesti tidak setia? Ini tergantung pada definisi kata ‘setia’ dan ‘khianat’. Jika ‘setia’ dipahami sebagai kesepadanan (ekuivalensi) sepenuhnya (formal dan maknawi) dari TBSu dan TBSa, maka akan benar adanya bahwa terjemahan puisi yang baik adalah sebuah pengkhianatan. Namun apabila yang disebut kesetiaan mengacu pada keindahan, dan diakui bahwa tolok ukur keindahan dalam bahasa yang berbeda juga berbeda, maka yang ‘cantik dan setia’ akan dapat terwujud. Sekali lagi, sedikit ulasan puisi di atas adalah buktinya. Meskipun ini hanya satu puisi, paling tidak ini memberi bukti bahwa yang ‘cantik dan setia’ masih mungkin diwujudkan.

Ada kalanya, memang, penerjemah harus melepas sedikit makna untuk memburu keindahan (linguistic/literary form), di lain waktu dia mungkin mengorbankan keindahan untuk memburu makna. Selama ini, situasi dilematis ini yang dikedepankan sehingga seolah-olah mitos “cantik tidak setia’ itu menjadi semacam kutukan bagi penerjemahan puisi.

Yang perlu diingat lagi adalah kenyataan bahwa pemahaman penerjemah akan makna, pesan dan keindahan dari puisi aslinya juga sangat menentukan. Dua orang penerjemah mungkin menangkap makna/pesan yang berbeda dari puisi yang sama. Coba perhatikan terjemahan dari puisi “Hope” di bawah ini:

Asa

 Asa itu bagaikan burung dan sayapnya
yang bersemayam di jiwa,
dendangkan irama
tiada putusnya.
 
Dalam terpaan angin kencang kukecap merdunya
Dalam amukan badai serasa perihnya
namun si burung mungil tetap setia
tiada henti sebar hangatnya.
 
Kudengar suaranya di negeri paling gigil
dan di samudera paling musykil
namun tak sedikit pun dariku
ia pinta walau hanya secuil,
walau hanya secuil.
(terjemahan oleh Abdul Mukhid)

 

Harap
Harap ialah sesuatu bersayap
yang bertengger di jiwa,
dan berdendang tanpa kata,
dan tanpa putus-putusnya,
 
dan terdengar merdu di deru topan;
dan badai sungguhlah ganas
jika sampai mengusir burung kecil itu,
burung yang sebarkan hangat.
 
Pernah kulihat ia di sedingin-dinginnya daratan,
juga di seasing-asingnya lautan;
tapi, biar cuaca seganas apa, tak pernah
mulut menadah padaku, meski demi seremah.
(terjemahan oleh Wawan Eko Yulianto)

 

Dan berikut ini adalah puisi aslinya:

 

Hope     

 Hope is the thing with feathers
That perches in the soul,
And sings the tune–without the words,
And never stops at all,
 
And sweetest in the gale is heard;
And sore must be the storm
That could abash the little bird
That kept so many warm.
 
I’ve heard it in the chillest land,
And on the strangest sea;
Yet, never, in extremity,
It asked a crumb of me.

 

Jika kita simah hasil kerja dua penerjemah di atas, kita tahu bahwa mereka menunjukkan beberapa perbedaan. Pertama, Abdul Mukhid (AM) memandang bahwa “without words” (“tanpa kata”) tidak perlu dihadirkan, karena itu redundansi. Wawan Eko Yulianto (WEY) berpendapat bahwa itu perlu dihadirkan karena dengan demikian lebih dekat ke aslinya. Kedua, pemahaman kata “sore” juga berbeda. AB menekankan “perihnya”, sementara WEY menekankan akibat dari kata ini kepada si burung. Jadi, dia pilih ungkapan “ganas”. Sehingga bila AM menuliskan burung yang tiada henti berdendang, WEY mengungkapkan betapa ganas badai yang sampai mengusir burung itu.

Dalam contoh-contoh di atas kita simak karya tiga orang. Dua yang terakhir adalah karya dua penyair yang menerjemahkan puisi. Karena keduanya menerjemahkan puisi, keduanya saya sebut “penerjemah” (tidak harus dalam arti profesi penerjemah). Sementara itu Effendi Kadarisman adalah ahli linguistik dan penyair yang kesehariannya mengajarkan dan berdiskusi tentang ilmu linguistik dan etnopoetika kepada para mahasiswa.

Abdul Mukhid (sahabat saya) adalah penyair yang penerjemah. Selain menulis puisi dan menerjemahkan puisi, dia juga menerjemahkan manual-manual teknik yang nirgaya bahasa dan nir-alegori. Di dalam hal penerjemahan puisi ini, yang dikutip dalam artikel ini, semua penerjemah menerjemahkan puisi tanpa adanya pesanan penerbit. Jadi, dalam hipotesis saya patron “penerbit” yang biasanya sangat berpengaruh, sekarang menjadi nihil.

Posisi penerjemah/penyair menjadi dominan. Yang akan membedakan adalah pandangan penerjemah/penyair terhadap bagaimana terjemahan puisi yang baik (ideologi penerjemahan), karena sebagai penyair keduanya mempunyai pemahaman yang dalam tentang poetika sastra Indonesia. Apakah penerjemah memandang dirinya mempunyai tugas untuk menyampaikan makna asli dengan bentuk yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya, ataukah penerjemah barangkali mempunyai “pesan” yang sama dengan penulis puisi asli dan meminjam puisi asli tersebut untuk menyampaikan pesannya di dalam BSa. Golongan kedua ini akan menjadi sealiran dengan Gifford yang mengatakan bahwa penerjemahan puisi adalah pembangkitan nyawa ke dalam badan baru. Di dalam studi penerjemahan, aliran ini akan menyatu dengan “function-oriented approach” yang di masa pasca kolonialisme (PDII) dikembangkan oleh Reiss, Nord, dll., yang di Indonesia adalah segolongan dengan Chairil Anwar.

Sedangkan golongan pertama tadi akan sealiran dengan para teoretikus studi penerjemahan yang berpendapat bahwa penerjemahan adalah upaya mengalihkan pesan dari BSu ke dalam BSa dengan mempertahankan bentuk linguistiknya sebisa mungkin (Nida) atau penerjemahan adalah proses yang dipengaruhi oleh pemahaman budaya, bahasa dan norma-norma budaya (termasuk di dalamnya norma sastra) dari TBSu dan TBSa oleh penerjemahnya (Newmark, Bolaños).

 

Ruwetnya Jika Kritikus Ikut Nimbrung

Mari kita kembali ke perbedaan pilihan kata antara AM dan WEY di atas. Abdul Mukhid (AM) berpendapat bahwa “without words” (“tanpa kata”) tidak perlu dihadirkan dalam bahasa sasaran. Wawan Eko Yulianto (WEY) memandang bahwa ‘informasi’ itu perlu dihadirkan. Kedua, dari kata asli “sore” AB menekankan rasa “perihnya”, sementara WEY mengemukakan akibat dari kata ini kepada si burung, maka dia pilih kata “ganas”. Sehingga bila AM menuliskan burung yang tiada henti berdendang, WEY mengungkapkan betapa ganas badai yang bisa mengusir burung itu.

Saya adalah pembaca yang kebetulan sedikit mengerti BSu. Misalnya saja saya menjadi kritikus terjemahan. Saya berpendapat bahwa kata “mengusir” di dalam terjemahan WEY kurang tepat. Yang lebih tepat, menurut saya, adalah “membuat diam”. Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa masalah perbedaan tafsir makna/pesan asli ini semakin rumit apabila kritikus terjemahan ikut nimbrung. Perhatikan ilustrasi di Gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Turunan makna/pesan dalam proses penerjemahan dan pengkritikan karya terjemahan

Dalam Gambar 2 diilustrasikan bahwa pada saat penerjemah membaca puisi aslinya (TBSu), maka dia berusaha menangkap makna dan pesannya. Seperti kita ketahui, makna dan pesan puisi sering kali samar. Hasil penangkapan makna yang samar ini akan dipengaruhi oleh beberapa aspek pribadi penerjemahnya, termasuk pengetahuan budaya dan penguasaan bahasa. Makna dan pesan itu dicermati dan kemudian ditulis ulang (tekstualisasi) ke dalam bahasa sasaran (BSa). Tekstualisasi ini sangat dipengaruhi oleh ideologi penerjemahannya dan penguasaan norma BSa, termasuk norma-norma keindahan sastra BSa. Dan apabila ada orang lain (mis, kritikus atau orang awam) membandingkan puisi terjemahan ini dengan puisi aslinya, maka sebenarnya dia membandingkan pemahamannya akan puisi asli dengan pemahamannya atas puisi terjemahan (BSa) yang merupakan tekstualisasi dari pemahaman penerjemahnya atas puisi asli (BSu). Jadi, puisi terjemahan merupakan ‘turunan’ kedua dari puisi asli. Pemahaman kritikus dari puisi asli adalah ‘turunan’ pertama melalui jalur dirinya. Dan pemahamannya atas puisi terjemahan adalah turunan ‘ketiga’ melalui jalur penerjemah. Sehingga perbandingan yang dilakukan oleh kritikus sastra terjemahan adalah perbandingan dari ‘turunan pertama’ dengan ‘turunan ketiga’. Setiap tahap turunan (derivasi) ada kemungkinan distorsi makna. Dapat dibayangkan betapa hal ini mendatangkan kemungkinan yang besar bagi ketidakpadanan (ketidaksetiaan menurut kaca mata kritikus). Oleh Ignas Kleden (2004), fenomena makna puisi yang sulit ditangkap ini digambarkan dalam ungkapan “a poem means all that it can mean” atau “puisi bisa bermakna apa saja”. Oleh karena itu kebanyakan orang (“kritikus”) akan berpendapat bahwa penerjemahan puisi adalah sebuah pengkhianatan. Sekali lagi, saya berpendapat bahwa hal ini tidak mutlak benar.

Ya, tentu saja, yang cantik tidak akan pernah setia jika definisi kesetiaan mengacu pada bentuk linguistik saja karena kriteria keindahan TBSu dan TBSa menuntut bentuk linguistik yang berbeda. Alhasil, benarlah apa yang dikatakan Benny H. Hoed (segera terbit) bahwa terjemahan suatu karya sastra tidak dapat sepenuhnya memenuhi persyaratan pengalihan pesan yang “sempurna”. Dan ini tampak nyata bila kita bandingkan dengan penerjemahan teks jenis informatif.[1] Maka, apabila persyaratan pengalihan yang “sempurna” untuk jenis teks informatif ini kita terapkan ke penerjemahan sastra, terutama puisi, hasilnya adalah adanya “pengkhianatan kreatif”.

Lantas, kenapa judul tulisan ini “pengkhianatan dalam kesetiaan”? Sebenarnya ini bertolak dari mitos itu, yang membatasi “kesetiaan” pada kesepadanan bentuk linguistik atau fisik. Kesetiaan saya maknai sebagai kesetiaan pada keindahan dan makna. Jadi, dari sudut pandang mitos lama dapat dikatakan bahwa penerjemahan puisi cenderung sebuah ‘pengkhianatan’ dari ekuivalensi bentuk linguistik, tetapi ini dilakukan dalam upaya menuju ‘kesetiaan’ pada keindahan dan makna dalam bahasa sasaran. Menurut hemat saya, inilah yang seharusnya diupayakan oleh penerjemah kalau ingin membuat karya terjemahan yang memenuhi kriteria terjemahan yang baik di dalam ilmu terjemahan.

 

Referensi

Carter, Peter. 2005. Review of Metamorphoses: Poetry and Translation, Same Difference. The London Magazine December / January 2005. Accessible from: http://www.carcanet.co.uk/cgi-bin/scribe?showdoc=365;doctype=review

Bolaños Cuellar, Sergio. 2002. Equivalence Revisited: A Key Concept in Modern Translation Theory. Forma Y Funcion 15 (2002), pp. 60-88. Departemento de Linguistica, Universidad Nacional de Colombia, Bogota, D.C. (Retrieved from: http://redalyc.uaemex.mx, on 5 October 2006).

Bolaños Cuellar, Sergio. 2006. Source Language Text, Parallel Text, and Model Translated Text: A Pilot Study in Teaching Translation. (Article sent personally by the article writer through email on 8 October 2006).

Bolaños Cuellar, Sergio. 2008. Towards an Intergrated Translation Approach: Proposal of Dynamic Translation Model. Ph.D. Dissertation. Hamburg: Hamburg University.

Damono, Sapardi Djoko. 2003. Menerjemahkan karya Sastra. Makalah disajikan dalam Kongres Nasional Penerjemahan, UNS, Surakarta, 15-16 September 2003.

Hoed, Benny H. (akan terbit). Penerjemahan Karya Sastra.

Kleden, Ignas. 2004. Goenawan Muhammad Selected Poems: Resensi Buku. Majalah Tempo, Edisi 25/XXXIII/16-22 Agustus 2004.

 

[1] Katahrina Reiss berpendapat bahwa teks dapat dibedakan menjadi teks informatif, apelatif dan ekspresif. Jenis teks ekspresif (misalnya puisi) harus diterjemahkan dengan mementingkan bentuk dan pesannya, sementara teks informatif mementingkan pesannya saja.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s