all about translation

Penerjemahan dan Dunia Global: Pengalaman Australia dalam Penjurubahasaan (1)

Jurnal penerjemahan oleh ibu Rochayah Mahali ini keren banget. Saya coba kutip disini.

Globalisasi telah menjadi istilah yang sangat umum kita dengar, yang prosesnya sangat terkait secara langsung dengan bidang ekonomi dan pemasaran. Namun demikian, efek globalisasi itu sendiri juga merasuk ke dalam berbagai aspek kehidupan, sistem sosial dan politik, lembaga dan nilai serta ke dalam kegiatan keseharian kita. Banyak perusahaan menjual produknya ke seluruh dunia dan menjadi perusahaan supranasional, sehingga identifikasi kenegaraan tak lagi terlalu penting. Banyak perubahan yang terjadi terhadap bentuk-bentuk bisnis, perdagangan, dan pendidikan, misalnya banyak perusahaan melakukan jual-beli produk melalui Internet.
Kehidupan keseharian kita pun terpengaruhi oleh perkembangan dan perubahan ini. Berbagai hal sudah bisa dilakukan dengan sangat lebih cepat dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Perbelanjaan dan perbankan sekarang bisa dilakukan dengan mudah melalui Internet. Semakin banyak iklan yang mengajak kita untuk bekerja dari rumah dengan memanfaatkan teknologi, misalnya banyak penerjemah lepas yang bekerja dari rumah dengan memanfaatkan ratron dan komputer. Maka, sudah semakin banyak orang menjadi bagian dari benua ke tujuh yang bersifat maya ini, ‘virtual seventh continent’.

Semua perubahan ini telah mempengaruhi cara kita belajar, mencari informasi, dan cara kita berkomunikasi. Pencarian informasi, misalnya, sudah jauh lebih mudah karena kita tinggal menekan tombol di komputer dan memasuki ‘benua ke tujuh’ tersebut di atas. Misalnya, melalui search engines kita bisa mencari makna suatu kata dengan mudah. Selain itu, kegiatan penjurubahasaan juga telah mengalami perubahan penting, misalnya melalui tele-conference pada tataran global, yang tidak memerlukan kehadiran fisik bagi para peserta.
Selain itu, bagi kita yang bekerja di bidang yang terkait bahasa, perubahan yang paling penting adalah yang menyangkut bahasa dan penggunaan bahasa itu sendiri. Misalnya, kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan seperti ‘bahasa atau bahasa-bahasa apa yang digunakan di Internet?’, ‘bahasa apa yang digunakan pada tingkat global?’, ‘apakah salah satu dari bahasa-bahasa ini menjadi bahasa global?, apa pengaruh ‘bahasa global’ ini terhadap kegiatan penerjemahan dan penjurubahasaan?.

Menurut Snell-Hornby (1999), bahasa Inggris-lah yang menjadi bahasa yang dominan dan menjadi lingua franca internasional. Namun, menurutnya bahasa tersebut tidak lagi membawa identitas ragam nasional tertentu. Dengan kata lain, bahasa tersebut menjadi‘globish’ atau menjadi ‘McLanguage’ yang sifatnya lebih sederhana dibandingkan dengan ‘bahasa Inggris’. Di Australia, misalnya, akhir-akhir ini juga ada keprihatinan bahwa bahasa Inggris sudah tidak ada lagi; yang muncul adalah varian-varian seperti ‘Spanglish’, ‘Chinglish’, dll (yang secara akademis sering dirujuk sebagai ‘hibrida’, yang akan dibahas lagi nanti).
Memang, menurut statistik hasil kajian the Economist (15 Mei 1999) dan Der Spiegel (4 Oktober 1999), jumlah situs web yang menggunakan bahasa Inggris sudah menurun menjadi 57.4% (dari 75%), namun bahasa Inggris masih menjadi bahasa yang banyak digunakan karena melalui bahasa inilah pasar global bisa diraih.

Seperti dikatakan di atas, ‘bahasa global’ tersebut mempunyai ciri baru, baik dari segi bentuk maupun ‘aturan’ penggunaannya. Bahasa tersebut menjadi lebih sederhana, meskipun ini tidak berarti terjadi pemiskinan komunikasi. Banyak kajian yang menunjukkan bahwa beberapa aspek kebahasaan dari ‘New English’ ini sudah mengalami perubahan.Misalnya, aspek kala yang digunakan dalam ‘New English’ tidak secanggih bahasa Inggris, khususnya kala ‘progresif’ (Collins, 2007). Selain itu, dalam kajian lain, dikenali adanya kecenderungan ‘hybrid texts’. Adejunmobi (dalam Schäffner, 1999) menyebut teks jenis ini ‘compositional translations’, yakni teks yang dihasilkan oleh penulis pasca-kolonial Afrika yang ditulis dalam bahasa Eropa namun dengan menggunakan pola pikir Afrika. Dengan kata lain, teks dalam bahasa Eropa tersebut ‘berbau’ Afrika.

Dalam kegiatan penjurubahasaan, teks jenis ini paling banyak dijumpai, yang tidak selalu dikarenakan oleh pengaruh globalisasi. Hibriditas teks dalam kegiatan ini lebih dikarenakan oleh sifat kegiatan tersebut, yang menuntut seorang jurubahasa beralih dari satu bahasa ke bahasa lain dalam waktu yang relatif cepat. Seringkali, dalam prosesnya terjadi ‘interlingual transfer’ yang tak terhindarkan. Pembicaraan mengenai teks hibrida itu sendiri dapat dilihat dari berbagai kerangka teori, misalnya melalui kerangka post colonial study, intertextuality, cultural studies, text identity, dsb.

Pembahasan mengenai peran juru bahasa di Australia tidak terlepas dari kebijakan negara itu untuk menerapkan multikulturalisme. Penetapan juru bahasa dan penerjemah sebagai profesi yang diakui di Australia telah melewati sejarah yang panjang, serta melewati beberapa tahap. Oleh karena itu, makalah ini disajikan dalam tiga bagian:
(1) Latar belakang profesi penerjemah dan juru bahasa di Australia, yang mencakup (a) akreditasi bagi penerjemah dan juru bahasa; (b) Organisasi profesi dan kode etik;
(2) Juru bahasa & penjurubahasaan, yang mencakup (a) ‘jenis’, (b) ‘cara penjurubahasaan’, (c) contoh kasus;
(3) Pelatihan dan pendidikan juru bahasa dan penerjemah di Australia (gambaran selayang pandang).

artikel selanjutnya dapat dibaca disini.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s