parenting

Otak nya penuh, jiwanya…kosong

 

Dalam rangka pengambilan rapor secara nasional, saya memutuskan utk men-share artikel menarik yang saya dapatkan tentang mereka yg di’paksa’ utk berprestasi. Tulisan ini saya edit di beberapa bagian, murni untuk membuat pembaca lebih mudah, karena kalau saya kutip, banyak istilah2 bahasa inggris yg tidak ada padanan kata bahasa indonesia yang tepat.

Ini adalah sebuah tulisan yang di buat oleh seorang lulusan Universitas Harvard, Amerika, yang bekerja sebagai pewawancara mahasiswa-mahasiswa baru yang akan masuk ke Univ. Harvard. Testimoninya membuat saya meneteskan air mata akan betapa berat beban ‘prestasi tinggi’ itu. Dan bersyukur luar biasa pada ibu saya yg mngajarkan kami berprestasi tinggi tanpa beban.

“Mereka datang ke saya dengan nilai SAT (UMPTN) yang super tinggi danpenghargaan dan piala melebihi pahlawan militer. Mereka adalah valedictorians (lulusan terbaik). Para pemimpin mahasiswa. Atlet berprestasi. Mereka mendaftarkan diri mereka ke Harvard. Mereka adalah anak-anak yg Anda impikan. Prestasi mereka? sempurna.

Selama 17 tahun terakhir, saya sudah bekerja sebagai pewawancara alumni untukanak2 baru yg mau masuk ke Harvard. Sebagai bagian dari proses penerimaan siswa, Harvard memberikan kesempatan bagi siswa baru untuk bertemu dengan salah satu alumninya.

Sebagian besar siswa baru itu menghadapi wawancara ini dengan kecemasan yangtinggi, fokus utama saya adalah membantu mereka menghembuskan napas ketakutan dan kekhawatiran mereka. “Kami di sini agar Harvard bisa mengenal Anda sedikit lebih baik lagi. Tidak ada jawaban benar atau salah dari pertanyaan2 yang akan kami ajukan. Kami hanya akan mengobrol sebentar, ” saya katakan dengan  tenang.

Saya mencoba untuk menggali lebih dalam dari jawaban yg mereka sudah latih dan siapkan, seperti: Harvard adalah lingkungan terbaik yang tersedia bagi saya untuk melanjutkan studi saya dalam bidang kedokteran” misalnya.

Saya lebih tertarik apakah mereka akan menjadi teman kos yang menyenangkan,sarjana yang kritis, dan bermanfaat untuk komunitas Harvard. Sering sekali, anak berprestasi tinggi yang tertekan dan ketakutan ini sulit menemukan suara mereka sendiri. Sehingga seakan-akan saya seperti mendengar mereka berbicara dalamkata-kata yang sudah terprogram, kata-kata yang berorientasi pada keberhasilan dari orang tua, guru, dan pelatih mereka. (mereka yang berprestasi dalam bidang olahraga jg bisa mendapatkan beasiswa untuk bisa masuk univ tertentu).

Berjalan dengan tangki kosong

Di berkas seorang anak, tertulis bahwa dia aktif diorganisasi olahraga lari di sekolah yang sewaktu dia kls 2 SMA . Tidak ada sejarah olahraga sebelum dan setelahnya. Aku bertanya pada John* ( semua nama telah diubah) apa yang telah menarik dia untuk berlari dan mengapa ia melakukan itu hanya di kelas 2 saja. Dia menjawab blak- blakan, “pembimbing konselor saya mengatakan kepada saya bahwa itu akan terlihat baik pada transkrip saya jika saya punya sejarah olahraga. Ia mengatakan bahwa perguruan tinggi akan mencari anak-anak yang serba bisa dan bahwa saya perlu sesuatu seperti olahraga untukterlihat lebih baik agar bisa di terima di  perguruan tinggi . Karena kelas 3 saya harus fokus pada pelajaran,  sehingga kelas 2  adalah tahun terakhir saya bisa ikut organisasi olahraga sebelum saya mengirimkan aplikasi saya. saya bergabung dengan olahraga ini karena semua orang yg mencoba masuk, pasti di terima. Jadi tidak susah“ jawabnya. Saya lalu bertanya “Apakah Anda suka berlari? Apakah itu memberi Anda kesenangan?”  “Tidak”jawabnya singkat.

Peter telah mencetak nilai SAT yg luar biasa dan diakui sebagai Siswa Teladan Berprestasi secara Nasional. Ketika kita berbicara tentang mata pelajaran favoritnya di SMA, aku bertanya apakah dia pernah satu kalipun menantang pendapat guru bahasa Inggris-nya di kelas . Melihat ke bawah di lantai , ia berbicara pelan. “Tentu, saya sering sekali tidak sependapat dengan guru saya. Soalnyakan misalnya gini, tidak ada jawaban yang pasti untuk mengetahui apakah seorang penulis menggunakan hidupnya sendiri atau tidak sebagai dasar untuk karakter utama dalam tulisannya, kan? Tapi setiap kali aku tidak setuju dengan guru, nilaiku  jadi turun. jadi saya belajar lebih baik untuk memberitahu guru apa yang mereka ingin dengar biar saya dapat nilai yang lebih baik.” Sayangnya , tidak ada kemarahan atau kekecewaan dalam suaranya.

Sarah,  lulusan terbaik di sekolahnya yang dan pemenang berbagai penghargaan bergengsi dalam bidang matematika dan sains, berbicara tanpa semangat sama sekali tentang kemenangan akademik dan masa depannya, “Matematika dan ilmu pengetahuan selalu mudah bagi saya. Aku tidak menyukainya sebagai aku menyukai sastra tapi di mata pelajaran itulah nilai saya yg paling tinggi, karena mudah. Sepertinya saya akan mengambiljurusan itu di perguruan tinggi, mendapatkan gelar sarjana, kemudian mendapatkan pekerjaan  dalam bidang tehnik dan menikah . Itulah yang orang tua saya harapkan . Mereka ingin sayauntuk mendapatkan pekerjaan di bidang teknik dan menikah segera setelah saya mendapatkan gelar sarjana saya. Saya berharap bahwa saya dapat menyimpan cukupuang sehingga saya bisa pensiun dini, seperti di usia 50-an, dan berjalan-jalan”. Sarah 17 th, seperti seekor burung gereja yang patah sayapnya, ingin setengah mati untuk segera menjadi setengah baya .

Stres untuk Sukses
Sudah puas mendengar contoh-contohnya? Saya sudah. Selama dua dekade terakhir, anak-anak yang saya wawancarai telah semakin lebih keras dikemas untuk sukses .Mereka telah disarankan, ditakuti, dan dilatih secara profesional untuk percaya bahwa satu-satunya tujuan sekolah adalah untuk mendapatkan nilai yang akan memudahkanmereka masuk ke perguruan tinggi yg elit . Perguruan tinggi  lalu harus menghasilkan sarjana-sarjana yang bisa mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi dan masa depan keuangan yang aman . Itu rencananya. Satu-satunya rencana. Tidak heran bahwa survei Pendidikan yg baru-baru ini di amerika menunjukkan bahwa lebih dari 348.000 mahasiswa perguruan tinggi mengatakan bahwa “prestasi akademik, bukan cinta belajar, tampaknya menjadi motivasi mereka.” Kita semua seharusnya malu akan hasil survey itu.

Sejak dini kita mulai mengatakan pada anak bahwa “ Semuanya penting sekarang! Setiap kelas , setiap pertunjukan olahraga , setiap kegiatan dalam atau keluar dari sekolah . Kamu sedang membangun catatan permanen perguruan tinggimu. Sudah waktunya untuk serius .”Seperti yang di katakana oleh salah satumahasiswa, “kekhawatiran untuk terus berprestasi tinggi di mulai bahkan di tahun pertama sekolah dan seluruh masa depan Anda seakan-akan di tentukan oleh bangku pendidikan.” Kita sebenarnya mulai menakut-nakuti mereka jauh lebih awal dari mereka mulai sekolah.  Untuk membuktikannya, saya memiliki daftar panjang klien yang msh duduk di kelas 3 dan 4 SD  yang datang pada saya utk diterapi karena hal-hal yang menyangkut prestasi skolah.

 

Jiwa yang bebas
Jadi bagaimana Anda membesarkan anak-anak untuk berprestasi tinggi tanpa cemas bahwa mereka akan merasa menderita, takut , dan memiliki harga diri yang rendah? Berhenti terburu-buru mencuri masa kecil mereka, menata dan menjadwal setiap detik mereka bangun dan bacalah buku David Elkind yang begitu bagus yang berjudul Anak Terburu-buru:  Tumbuh terlalu cepat terlalu dini ( PerseusBooks , 1988). Jangan menakut-nakuti mereka untuk percaya dan mengikuti rencana anda tentang keberhasilan akademis dan karir .  Sejak sebelum mereka sekolah, mulailah mengatakan kepada mereka bahwa Anda mencintai dan mengagumi mereka apa adanya, bukan untuk nilai dan prestasi yang mereka bawakan untuk Anda. Dorong  dan motivasi mereka di bidang akademik dan ekstrakurikuler yang mereka sukai,terlepas dari apa itu pantas utk berguna utk masuk perguruan tinggi nanti. Dorong mereka utk menjadi sukarelawan dan melakukan aksi-aksi sosial untuk org lain dan lakukanlah bersama-sama – sebagai bagian dari nilai-nilai keluarga Anda , bukan karena agar terlihat baik pada transkrip perguruan tinggi mereka . Singkatnya, cintai dan dukunglah mereka saat mereka menantang dan mencari diri mereka sendiri, memenuhi impian mereka dan menjadi orang-orang yang mereka inginkan.”

 

 

Rangking gk penting jika menghasilkan generasi berotak penuh dan berjiwa kosong. Apa guna raport sempurna jika anak tidak bahagia?

 

Mari berhijrah, dari kesempitan berpikir bahwa kecerdasan anak hanya di tentukan oleh angka-angka yang membandingkan ia dari teman-temannya yang berbeda orang tua, berbeda kepintaran, berbeda pola asuh dan berbeda genetika.

Mari berhijrah dari penilaian bahwa hasil ujian adalah tolok ukur semata akan kepintaran manusia, yang sebetulnya nilai-nilai itu hanyamengukur kemampuan mengingat saja.

 

Mari berhijrah dan berhenti meng’kerangkeng’ anak-anak dalam10 mata pelajaran yang di suguhkan oleh kurikulum yg sangat membebankan disekolah. Ada 10 mata pelajaran kehidupan lainyang tdk ternilai lbh pentingnya, kebaikan hati, kemandirian diri, kemampuansosial, kedermawanan, kreatifitas, ketaqwaan jiwa, kejujuran kata, kesehatanfisik, kesalehan perilaku dan kemanfaatan terhadap sesama.

 

Anak yang merdeka jiwanya dapat melesat jauh dari mereka yang terpenjara dengan nilai-nilai raport sekolah. Cita-cita bukan scientist semata. Ada hair stylish terkenal, businessman, penyanyi kondang, pendakwah, presiden, guru, dan segambreng profesi lainnya yg tidak mengharuskan nilai sempurna dipelajaran sekolah.

 

Mari berhijrah sekarang. Karena rangking..nggak penting.

note: Tulisan dari Kiki Barkiah

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s