my story · parenting

Sabarlah Bunda!

Hari ini jiwa seperti tak punya tujuan

Sebuah kesalahan ternyata menjadikan semua hancur berantakan

Bersinggungan dengan semua pekerjaan domestik terkadang membuat pusing bukan kepalang

Bayangkan, mengasuh 3 anak kecil tanpa ART bikin badan remuk redam

Apalagi terkadang emosi tak bisa ditahan

Menghadapi krucil yang tak pernah bisa diam

Amarah, satu kata yang terus menggelayut di pikiran

Ya, begitulah. Seorang ibu sebaiknya memiliki kesabaran ekstra dalam mengurus buah hatinya. Berteriak di depan anak saja dapat memberikan dampak buruk bagi kehidupannya. Apalagi marah? Sepasang suami istri berkonsultasi dengan seorang psikiater, mereka mengatakan setiap kali saya marah kepada anak, saya menancapkan paku pada sebuah kayu. Apakah dengan meminta maaf kepada si anak kita bisa memperbaiki semua keadaan? Dokter tersebut kemudian menjawab: mungkin dengan mencabut paku-paku itu kalian bisa mencoba membuat situasi kembali normal. Tapi apakah kalian lihat kerusakan yang disebabkan oleh tancapan paku tersebut? Itu sulit diperbaiki. Demikian halnya dengan anak kita. Amarah kalian membuat luka di hati anak kalian dan itu sulit sekali di sembuhkan.

Nah, untuk emak-emak rempong, ada beberapa tips mengatasi kemarahan:

  1. Ketika emosi sudah di ubun-ubun, coba tenangkan diri dengan menjauhi si anak sebentar. Katakan pada mereka: nak, ibu butuh tempat untuk menenangkan diri dulu ya sebentar.
  2. Ucapkan Astagfirullah dan kalau bisa berwudhu.
  3. Sholat

Sebagaimana yang di ajarkan oleh Rasullah SAW sholat dapat membuat hati kita menjadi tenang.

Terus si anak yang membuat kesalahan gimana? Biarkanlah dulu. Setelah emosi kita mereda dan kita lebih tenang kita bisa menenangkan mereka juga. Gelas pecah tinggal dibereskan, rumah berantakan bisa di rapihkan, anak berantem bisa di damaikan, dll. Pokoknya emak rempong jangan seteres deh, teriak heboh apalagi marah. Saya coba paparkan disini ya sisi negatif memarahi dan meneriaki anak dari sudut pandang kedokteran.

Otak manusia secara garis besar terdiri atas tiga bagian:

  1. Reptilian atau primitive brain ( survival) berada di bagian belakang
  2. Mamalia atau limbic brain ( emotion), bagian tengah
  3. Neo cortex atau human brain (thinking) berada di bagian atas

 

Menurut model ini, maka sesuai namanya masing-masing bagian otak punya fungsi yang agak mirip degan binatang-binatang itu. Misal reptilian brain otak manusia yang fungsinya agak mirip dengan binatang reptil. Pada binatang seperti reptile, suara keras, auman, dan geraman dapat berarti ajakan untuk berperang. Demikian juga untuk manusia, teriakan kepada anak acapkali berbuah perlawanan. Dan jika itu dibiarkan terus menerus, bisa-bisa reptilian cortex ini menjadi peran utama dalam proses berfikir mengalahkan fungsi thinking brain manusia.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa meneriaki anak lebih merusak anak-anak lebih dari yang dibayangkan. Satu studi oleh psikiater di Harvard Medical School menemukan bahwa teriakan-teriakan dapat mengubah struktur otak manusia. Selain itu penelitian dari Journal of Marriage and Family (2003) menemukan bahwa dalam keluarga yang melakukan 25 kali atau lebih teriakan atau marah pada anak dalam 12 bulan, menurunkan harga diri pada anak, meningkatkan sikap agresi kepada orang lain, dan tingkat depresi yang tinggi.

Para peneliti dari univrsitas Pittsburgh di Pennsylvania dan University of Michigan di Ann Arbour menyatakan bahwa teriakan pendisiplinan yang parah dari orangtua terbukti sangat merusak anak-anak dan remaja. Lebih jauh dikatakan bahwa orangtua yang menggunakan teriakan sebagai metode pendisiplinan malah lebih cenderung memiliki anak dengan masalah perilaku dan kekerasan.

Jadi pada dasarnya dengan meneriaki anak dan marah-marah itu gak ada untungnya. Alih-alih membuat anak setuju, malah acapkali anak melakukan perlawanan (walaupun di dalam hati lho, cuma kita aja nggak tahu). Rosulullah pun memberikan teladan memperlakukan anak dengan lemah-lembut. Pernah suatu ketika Rosul sedang sholat dan ada seorang anak yang naik kepunggungnya, beliau malah menunggu anak tersebut turun dengan sendirinya. Setelah sholatpun beliau tidak marah.

Untuk anak-anakku terkasih,

Maafkan jika dalam keseharian terselip amarah

Terucap teriakan yang membuat luka

Semoga esok,

Takkan ada hati yang tersakiti

Mencoba jaga amanah ini dengan ketengan diri

#ARTmazing#day2#saysorry#writingchallange#3days#cjwc#minichallenge#

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s