book review · Uncategorized

Sementara Menunggu Godot Samuel Beckett

Buku ini saya pinjam dari pusat kebudayaan Perancis (CCF) salemba, Jakarta. Karya berjumlah 100 halaman ini merupakan terjemahan dari karya asli Beckett berjudul “en attendant Godot” (sementara menunggu Godot) yang dipentaskan oleh teater Garasi Yogyakarta Desember 1999. En attendant Godot, termasuk naskah paling diminati oleh para pekerja dan penikmat teater di Indonesia. Beberapa grup teater pernah mementaskannya. Tapi ada satu yang unik dari naskah pementasan teater yang dibukukan ini, semua pengerjaan dan tokohnya-tokohnya di perankan oleh wanita. Entah apa yang terlintas di benak para pelakon, tapi yang pasti isu gender dicoba diangkat disini, karena sebelumnya pementasan karya ini telah banyak dilakukan oleh para pria.
Tokoh utama Vladimir dan Estragon diperankan oleh Erythrina Baskorowati dan Retno Dwi Intarti. Dikisahkan dua orang sahabat ini berjanji akan bertemu Godot di pinggir jalan dekat sebuah pohon. Penantian ini menjadi penantian yang panjang , bahkan Godot yang ditunggu pun tak kunjung datang. Malah Pozzo dan budaknya Lucky yang datang. Sambil menunggu Godot mereka memperdebatkan hal-hal ga penting yang ada disekitar mereka, misalnya tentang sepatu, topi, pohon, penyelamatan dsb. Bahkan sampai mereka bertengkar. Waktu pun terus berjalan, sementara mereka masih menunggu Godot. Semuanya kembali terulang. Pembicaraan tentang sepatu, pohon, topi, dll tetap sama.

Sementara Menunggu Godot
Karya : Samuel Beckett
Terjemahan : B. Very Handayani
Editor naskah : Yudi Ahmad Tajuddin
Editor : Amien Wangsitalaja
Penerbit buku : Tarawang
Pemain:
Estragon (Gogo)
Vladimir (Didi)
Pozzo
Lucky

Cerita berakhir dengan tragedi. Saat waktu terus berlalu, wajah dua sahabat itu makin keriput dan rambutnya memutih. Adapun Godot yang ditunggu tak kunjung tiba. Menunggu Godot tak hanya menunggu ketidakpastian, tetapi juga merupakan kesia-siaan atau penantian penuh kekonyolan. Dari sini muncullah istilah ‘Menunggu Godot’. Godot merupakan simbol dari keberadaan dari ketiadaan. Beckett menyebutnya dengan istilah absurditas. Wujud Godot tidak pernah ada, tetapi namanya dibicarakan terus-menerus; ia tidak muncul. Tanpa kehadiran fisiknya, Godot tetap memiliki kemampuan untuk menunjukkan kekuasaannya kepada Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya kedatangannya.

Estragon: Oh ya, kita bisa pergi jauh dari sini

Vladimir: tidak bisa

Estragon: kenapa tidak bisa

Vladimir: kita harus kembali lagi besok

Estragon: untuk apa?

Vladimir : untuk menunggu Godot……………..p. 88

Karena wujud Godot yang tak kunjung datang, banyak orang menafsirkannya sebagai Tuhan, uang, kekuasaan, dewa, ratu adil, ataupun kemenangan. Inilah yang ingin di sampaikan Beckett bahwa dalam hidup itu tidak ada sesuatu yang pasti alias absurd. Dalam filsafat eksistensialisme absurd merujuk pada ketiadaan makna hidup, ketiadaan struktur, dan tidak adanya kosistensi. Dalam drama absurd penonton dihadapkan dengan kelakuan-kelakuan yang kurang jelas motivasinya, tokoh-tokoh yang terus menerus berubah, dan sering kali peristiwa-peristiwa jelas berada di luar pengalaman rasional.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s