book review · Uncategorized

Resensi Buku GRANADA Radwa Ashour

Sebenarnya hobi saya itu membaca. Akan tetapi berbagai aktivitas domestik belakangan ini membuat saya tak dapat menikmati aktivitas menjejali pikiran dengan permainan kata dan imajinasi. Nah, berhubung ada waktu longar, saya coba manfaatkan untuk membaca. Kebetulan di rak buku ada novel buah karya Radwa Ashour berjudul Granada. Penulis adalah professor sastra Inggris di Ain Shams University (Mesir). Ia memperoleh gelar doktor dari University of Massachussets. Salah satu karyanya adalah novel Granada ini. Sebenarnya buku ini adalah buku pertama yang terhimpun dalam The Granada Trilogy dengan judul lainnya Mariama dan …. Saya membeli buku ini beberapa tahun lalu sewaktu era buku bekas dan murah di Kwitang, Senen masih berjaya. Kemungkinan besar sih saya sudah membaca buah pikiran berjumlah 350 halaman ini, tapi saya coba membaca kembali untuk membuat resensinya.

Judul : GRANADA (edisi Indonesia)

Pengarang : Radwa Ashour

Penerbit : BUKU MUTU Publishing, Jakarta

Cetakan I, Mei 2008

Kisah ini berawal dari kematian seorang wanita di sungai Xenil, Granada menjadi pertanda buruk bagi seorang perajin kitab yang bernama Abu Jaafar. Sebelum peristiwa itu terjadi, ia melihat wanita tersebut melintas di depannya tanpa busana sama sekali sepertinya tindakan keji telah dilakukan padanya.  Memang, saat itu merupakan awal runtuhnya Imperium Islam di Andalusia. Tentara Castille tak segan-segan menggagahi wanita yang menggunakan busana arab. Raja Boabdil, penguasa terakhir Granada, telah menyerahkan pintu gerbang Alhamra kepada penguasa Castille. Dari desas-desus tersiar kabar bahwa ia menyerahkan Granada dengan tebusan sejumlah emas dan pergi jauh meninggalkan warganya dipimpin oleh penguasa Castille.
Cukup sulit bagi Abu jaafar beserta istrinya yaitu Ummu Jaafar, anaknya Ummu Hasan dan cucunya Hasan serta Saleemah untuk beradaptasi dibawah kepemimpinan penguasa Castille. Peristiwa pertama yang paling mencengangkan yaitu tatkala serdadu Castille menggelar semacam upacara “api unggun” di lapangan Bab el Ramlah. Api yang sedang berkobar tidak sedang membakar tumpukan kayu kering sebagaimana pesta api unggun biasa, melainkan sedang membakar ratusan kitab yang ditumpuk hingga membukit ditengah lapangan itu. Badan Inkuisisi Granada telah merampas semua kitab berbahasa Arab dari masjid-masjid yang telah mereka sulap menjadi gereja dan katedral, dari perpustakaan sekolah, dari rumah-rumah warga Granada yang gemar mengoleksi dan membaca kitab.
Setelah peristiwa pembakaran kitab terjadi, Abu Jaafar meninggal. Berbagai peraturan baru kembali diberlakukan oleh Penguasa Castille. Jika ingin selamat, warga diminta pindah ke kota lain atau tetap di Granada tetapi diwajibkan untuk menjadi kristiani. Semua hal-hal yang berbau Islam dilarang. Tidak boleh menggunakan bahasa Arab, anak laki-laki tidak boleh di khitan, tidak boleh merayakan Idul fitri dan Idul Adha, puasa dan ritual Islam lainnya. Lain halnya dengan keluarga Abu Jaafar. Mereka sangat piawai berperan ganda. Di rumah mereka sholat, berbahasa Arab, tetapi di luar rumah mereka berbahasa Castille, menggunakan nama baptis, juga menghadiri misa suci.
Sampai akhirnya Saleemah diperistri oleh Saad, orang yang membantu pekerjaan kakeknya membuat kitab. Awalnya ibunya tak setuju karena ia miskin dan merupakan pembantu mereka. Namun neneknya mengingatkan bahwa dengan tidak memiliki rumah, berarti Saleemah akan terus hidup bersama mereka dan mereka semua akan terus saling menjaga. Luluhlah hati ibunya. Oh iya, ayah Saleemah telah meninggal karena sakit saat mereka masih sangat kecil. Pernikahan Saleemah dan Saad disusul kemudian oleh pernikahan adiknya Hasan. Hasan menikah dengan Mariama, seorang anak penabuh tambur dari sebuah kelompok penyanyi syair-syair Rasullah dan kepahlawanan para sahabat.Kemudian mereka dikaruniai 5 orang anak sedangkan Saleemah mengalami keguguran. Setelah peristiwa itu ia mengurung diri di kamar. Ia sibuk meracik perbagai ramuan obat dan belajar kitab-kitab yang ia beli secara diam-diam. Akhirnya Saad meninggalkannya karena bergabung bersama kaum pemberontak dan tertangkap kemuadian di penjara.
Pada suatu hari, tim akuisisi menggeledah rumahnya dan menyita berbagai kitab. Saleemah diringkus. Ia dituduh mempraktekkan ilmu sihir karena ditemukan berbagai ramuan dan biji-bijian di kamarnya. Hukumannya di bakar hidup-hidup.
Saya sendiri bertanya-tanya apakah benar yang diceritakan dalam novel ini. Mengapa penyebaran agama di lakukan dengan peperangan dan paksaan? Bukankah agama mengajarkan kebaikan dan menghormati orang lain? Entahlah. Ini hanya sekedar cerita. Nampaknya saya terlalu larut di dalamnya. Sungguh, tak ada rasa benci atau apapun yang saya rasakan terhadap orang yang berbeda keyakinan. Hidup hanya sekali, untuk apa menebar kebencian? Mungkin hanya segelintir oknum saja yang berlaku demikian.
Cover buku yang menggambarkan wanita cantik bermata biru dengan hijab serta cadar yang ia kenakan menutupi kekurangan background sampul depan buku yang gelap. Tetapi secara garis besar, saya suka bukunya. Untuk penerjemah, saya acungi jempol, karena sama sekali tidak berasa seperti buku terjemahan,hehehe..

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s