article

Marie Antoinette

Jika berbicara tentang Marie  Antoinette mungkin tak akan ada habisnya. Wanita ini menjadi sosok fenomenal karena terlibat langsung atas terjadinya revolusi Prancis 14 Juli 1789. Saat itu warga Prancis menghakimi Antoinette sebagai ningrat yang suka berfoya-foya terutama di istana Trianon –faktanya memang begitu– dan cinta busana –kabarnya ia juga yang menjadi inspirasi Prancis menjadi negeri fashion– serta berhura-hura hingga fajar tiba. Dangkal, lemah, angkuh, self-indulgent, tidak suka politik, tidak suka membaca, tak pernah selesai membaca surat dan lain-lainnya menjadi ciri yang menempel pada Ratu Prancis tersebut yang mulai tinggal di Istana Versailles sejak umur 14 tahun itu.

Stefan Zweig2.png

Namun dalam bukunya, seorang penulis asal Vienna, Austria, Stefan  Zweig mengangkat sisi lain Antoinette. Dikenang sebagai pemicu revolusi, pemicu runtuhnya kerajaan, meskipun sebenarnya monarki Prancis sudah runtuh sejak Antoinette menjadi ratu dari seorang raja yang juga lemah, selalu ragu-ragu, sulit mengambil keputusan, terlalu baik dan lain-lainnya yang menjadi ciri-ciri karakter Louis XVI. Lengkaplah kebobrokan istana, apalagi ditambah dengan pejabat-pejabat istana lain yang oportunis, mencari peluang karir di depan Louis XVI, atau mengadu domba di depan Antoinette.

Hancurnya otoritas kerajaan, bukanlah dimulai dengan runtuhnya penjara Bastille, tetapi dimulai dari dalam istana Versailles.
[Stefan Zweig: Marie Antoinette, The Portrait of an Average Woman. 1933]

Karakter dan kejiwaan yang disampaikan Zweig mengangkat emosi perempuan biasa, meskipun ia seorang ratu. Titel pengkhianat yang sudah menempel seperti lepas atas riset Zweig yang mengangkat sisi baik Antoinette di beberapa tahun terakhirnya sebelum dihukum mati. Bahkan sejak buku tersebut terbit pandangan masyarakat dunia mulai bergeser, terutama terhadap kasih sayang kepada keluarga, konsistensi, keberanian dan keteguhannya memegang prinsip, dan menghadapi kematian.

“Louis XVI and Marie Antoinette have often been portrayed as weak and vacillating. Far from it; their policy between 1789 and 1792 was entirely consistent, and highly conservative. They were prepared to die for their beliefs, and ultimately did so.”

Memang terlambat Antoinette mengubah sikap hura-huranya. Kelahiran anaknya, terutama yang menjadi dauphin (ahli waris mahkota) membuat ia mengurangi kesenangannya, mencoba memahami situasi politik yang sedang terjadi, membaca surat-surat kerajaan lebih seksama, bahkan membaca buku. Namun situasi politik sudah berubah, Bastille sudah runtuh, istana sudah lumpuh, kaum borjuis meneriakkan kebebasan, kaum proletar meneriakkan revolusi, rakyat kelaparan. Bahkan Austria pun tak mungkin menyelamatkan dirinya, ia hanya seorang wanita dan jika diselamatkan pun hanya akan merusak hubungan politik Prancis-Austria, juga Revolusi Prancis telah menyatakan perang kepada Austria.
Sejak Dewan Nasional didirikan setahun setelah Bastille runtuh, monarki harus menerima pembatasan kekuasaannya. Versailles pun akhirnya dijaga jenderal revolusi Lafayette, yang juga membantu Revolusi Amerika. Tahun berikutnya pada bulan Juni 1791 Louis XVI dan Antoinette kabur ke Varennes dengan bantuan seorang ningrat Swedia, Axel von Fersen, seorang teman dekat Antoinette yang juga menjadi gunjingan publik. Namun usaha kabur dari istana Versailles tersebut gagal, dan dipenjara di Temple menunggu pengadilan.
Kerabat dan sahabat Antoinette masih berusaha membebaskan raja dan ratu serta anak-anaknya dari Temple. Namun usaha tersebut malah membuat Antoinette semakin sendirian. Satu persatu yang dicurigai membantu tawanan revolusi disingkirkan, bahkan dibunuh secara brutal. Hingga akhirnya para tawanan penting revolusi dipindahkan ke penjara Conciergerie.
Sidang yang melelahkan selama belasan jam mencoba mengungkap kasus-kasus istana, terutama kasus kalung berlian yang melibatkan Antoinette, Madame du Barry dan kardinal de Rohan. Yang lebih penting lagi sidang-sidang pengadilan yang diikuti Antoinette sebagai terdakwa berkaitan dengan pengkhianatan terhadap revolusi. Zweig menuturkan Antoinette yang lemah fisik di penjara tetap terlihat tegar dan berani, berbicara layaknya seorang ningrat dan berdiplomasi terhadap semua tuntutan-tuntutan revolusi. Layaknya seorang wanita biasa, seorang ibu, Antoinette hanya memikirkan kondisi anak-anaknya dan keluarga terdekatnya.
Namun Mahkamah Revolusi sudah menyatakan Antoinette bersalah dan harus dihukum mati, jauh sebelum pengadilan yang melelahkan tersebut terjadi. Sebab jika tidak, para hakim, penuntut dan semua yang membela Antoinette yang akan menghadapi pisau Guillotine.
Malam hari sebelum Antoinette menuju mimbar hukuman mati di Place de la Concorde, ia menulis surat untuk saudara-saudaranya atas bantuan sipir penjara yang menyediakan pena, tinta dan kertas secara sembunyi-sembunyi.

“16 Oktober, pukul empat tiga puluh pagi. Ini adalah suratku yang terakhir kepadamu, Dik. Baru saja aku dijatuhi hukuman mati. Tetapi bukan kematian yang memalukan, sebab mati yang memalukan itu hanya karena kejahatan, sedang aku pergi hendak menyusul saudaramu. Seperti dia, aku pun tidak bersalah, aku ingin memperlihatkan keteguhan hatiku yang juga telah diperlihatkannya pada akhir hayatnya itu..”

Di akhir suratnya Antoinette menyatakan mengampuni musuh-musuh yang berbuat jahat kepadanya, serta berpesan agar anak-anaknya tidak diajari dendam terhadap kematiannya. Surat tersebut diakhiri tiba-tiba, tanpa tanda tangan. Ia sudah terlalu letih. Surat tersebut dititipkan kepada kepala penjara. Baru 20 tahun lebih berikutnya surat tersebut terbuka, namun orang-orang yang tertulis di surat tersebut juga sudah tiada, termasuk ahli waris mahkota, Louis XVII. Sungguh tragis. Siapa pula yang menyangka keluarga ningrat Bourbon ternyata naik tahta kembali setelah Emperor Napoleon Bonaparte turun tahta, Louis XVIII memerintah Prancis walau sulit untuk menghilangkan semangat republik.
Dan revolusi pun terus berjalan.
Lima tahun setelah Zweig menulis biografi Antoinette, MGM meluncurkan film Marie Antoinette (1938) yang diperankan oleh Norma Shearer. Sofia Coppola kembali mengangkat karakter Antoinete ke dalam judul yang sama Marie Antoinette (2006) bulan Mei yang lalu dan diperankan oleh Kirsten Dunst.
Keren banget filmnya, recomended buat di tonton 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s