article

Sinopsis TOTTO CHAN gadis cilik di jendela

Sebenarnya sudah lama mencari buku ini, tapi apa daya, memang saat itu di dua toko buku besar dekat rumah sudah tidak ada stok dan toko buku online belum marak seperti saat ini, jadi selama sekian lama belum juga punya buku ini. Sampai akhirnya secara tidak sengaja ketika jalan ke pasar festival kuningan, ada sebuah toko buku yang koleksinya lumayan lengkap (tetapi lupa nama toko bukunya, hee) dan ternyata buku TOTO CHAN ini bertengger manis di rak buku beserta edisi keduanya, blab la bla. Tanpa pikir panjang, langsung deh dua buku ini di bungkus.
Walaupun sudah lama membaca isi buku ini, tetapi karena menurutku isinya bagus, buku ini masuk dalam list “must have item”. Buku ini menceritakan gimana sulitnya seorang toto chan, nama kecil dari Tetsuko Kuroyanagi, menjalani masa kecilnya karena dianggap nakal oleh sebagian guru dan akhirnya di keluarkan dari sekolah. Nama Totto-chan yang sebenarnya adalah Tetsuko. Sebelum ia lahir, semua teman orang tuanya yakin bahwa bayi yang akan lahir itu berjenis kelamin laki- laki. Mereka pun memutuskan menamai bayi mereka Toru. Ketika ternyata yang lahir bayi perempuan, mereka sedikit kecewa.
Tapi mereka menyukai huruf Cina untuk Toru, maka mereka menggunakan huruf itu untuk nama anak perempuan dengan memakai ucapan versi Cina tetsuko dan menambahkan akhiran ko yang biasa digunakan untuk nama anak perempuan. Jadi, semua orang memanggilnya Tetsuko-chan. Tapi bagi gadis cilik itu, nama itu tidak terdengar seperti Tetsuko-chan. Jadi, setiap kali seseorang bertanya siapa namanya, ia akan menjawab, Totto-chan. Ia bahkan mengira chan adalah bagian dari namanya. Papanya kadang memanggil Totsky seolah ia anak laki-laki.
Totto-chan memang kerap melakukan hal-hal aneh di kelas. Ia tak henti-hentinya membuka dan menutup meja belajar. Suatu hari, ia hanya berdiri di depan jendela sambil menanti sekumpulan pemusik jalanan dan memanggilnya untuk mengadakan pertunjukan hingga kelas pun menjadi gaduh. Para guru dibuatnya kesal dan akhirnya mereka menyerahkan kembali si kecil Totto-chan kepada orang tuanya. Sampai akhirnya bertemulah ia dengan Sosaku Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen. Sekolah ini sangat berbeda. Disini, murid boleh belajar mulai dari apa saja yang mereka suka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang menggambar dahulu, ada yang ingin belajar bahasa dahulu. Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri. Mereka di beri satu bangku tetap, tetapi boleh duduk dimana saja dan kapan saja. Kelas mereka pun tidak berada di bangunan sekolah seperti pada umumnya, para murid menempati gerbong kereta sebagai kelas mereka. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong seolah-olah ia sedang melakukan perjalanan.
Hari demi hari dilewati Totto-chan dengan kegembiraan dan peristiwa yang tak terduga. Sampai-sampai ia dan juga anak lainnya tidak menyadari bahwa Perang Pasifik sudah pecah . Sampai kemudian , perang dan segala kengeriannya telah mulai terasa di kehidupan Totto – chan dan keluarganya . Setiap hari, para pria dan pemuda di sekitar tempat Totto-chan dikirim pergi untuk berperang.
Hingga beberapa hari kemudian , Sekolah Tomoe terbakar! Semuanya terjadi pada malam hari . Banyak bom yang dijatuhkan pesawat B29 menimpa gerbong-gerbong keias . Sekolah Tomoe sudah tak ada. Api berkobar menghancurkan semuanya . Totto-chan tak pernah tahu bagaimana perasaan kepala sekolah saat melihatnya , tapi yang ia tahu hatinya merasa sesak saat tahu keinginannya untuk menjadi guru di Tomoe telah hancur.

Judul: Totto – chan ‘Gadis Cilik di Jendela’
Penerbit: Gramedia Pustaka
Pengarang: Tetsuko Kuroyanagi
Tahun Terbit: 2003
Halaman: 272

Ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil dari novel tersebut:

  1. Setiap anak itu unik, antara anak yang satu dengan anak yang lain mempunyai bakat, kemampuan serta daya tangkap yang berbeda. Alangkah bijaksananya jika para pendidik dan para orang tua bisa memahami karakter masing-masing anak. Tivasi.
  2. Sebagai orangtua, cobalah selalu berkata positif dan memotivasi anak. Jangan menganggap anak yang “aktif” dengan cap “BANDEL”, “NAKAL” dan kata-kata lain yang menjatuhkannya karena anak akan mengingat terus cap tersebut dan lama kelamaan bisa tertanam dalam diri mereka sehingga mereka sulit untuk berubah menjadi lebih baik. Selain itu, kata-kata bisa menjadi do’a, kalau kita ngatain anak kita “nakal” maka jangan kaget ketika suatu saat ia benar-benar nakal. Maka gantilah cap-cap jelek itu dengan kata-kata yang baik dan mengandung motivasi seperti “Adek anak baik kan?”, “Adek anak rajin kan?”, “Kakak pasti bisa! Kakak kan pinter…”
  3. Menciptakan zona nyaman dalam belajar. Anak akan merasa nyaman ketika orang-orang di sekelilingnya menyayangi dan memperhatikan mereka.
  4. Usahakan jangan terlalu memaksakan kehendak pada anak saat mendampingi mereka belajar. Pemaksaan yang berlebihan membuat anak cepat bosan, jengkel dan “trauma” untuk belajar. Ikuti saja apa kemauan mereka tetapi tetap dalam batas-batas yang wajar, contohnya: si A ingin belajar matematika dulu, boleh, si B ingin didikte IPA, oke, dan si C mau membaca sambil tiduran di lantai, itupun boleh, asal jangan sampai mereka tidak mau belajar.
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s